Di ujung minggu gali ini, pintu Seto menyempit—belum tertutup, sudah tidak nyaman dilalui hanya dengan senyum dan VPN.
Polisi memanggil legal Adibrata pagi-pagi: proses menuju pemeriksaan lebih serius atas dugaan terkait ancaman dan rangkaian perbuatan; nama Mitra Cahaya dan R.W. masuk radar resmi; Seto belum ditahan; diminta tidak mengganggu proses dengan 'klarifikasi publik'. Legal mengangguk. Bisma dan Saira mendengar itu di meja siang lewat speaker, bukan sebagai kemenangan, sebagai status. Saira: 'Fakta: radar resmi. Rasa: lega tipis. Stop. Lega tipis bukan pesta. Kita patuh. Kita tidak menyusul ke Denpasar.'
Bisma: 'Diterima. Aku hampir membuat pesan ke dewan berbunyi seperti juara. Aku ubah jadi: proses berjalan. Operasi stabil. Tidak ada komentar publik.'
Siang yang sama R.W. tiba-tiba mengirim surat kedua—nada berubah dari pagar menjadi keringat: bersedia 'klarifikasi terbatas' di Jakarta dengan kuasa hukum, bukan di Denpasar, bukan tanpa syarat, minta 'suasana kooperatif tanpa media'. Heru menaruh surat itu di kayu. 'Elak yang mulai berkeringat. Umpan Denpasar gagal. Ember terasa dari sisi mereka. Hati-hati: klarifikasi bisa jadi panggung cuci tangan.'
Bisma membaca surat dua kali. 'Mereka mau terlihat kooperatif setelah gagal memisahkan kami. Fakta: surat ini progres. Rasa: tidak percaya penuh. Stop.' Ia mengetuk meja pelan. 'Fakta: mereka mau atur panggung. Rasa: curiga jebakan versi ramah. Stop. Legal yang hadir. Kita tidak hadir sebagai suami-istri di panggung mereka. Kita beri kuasa hukum. Kita minta rekaman. Kita tidak teken damai yang membungkam Ibu atau Saira atau menutup folder B.'
Saira: 'Fakta: aku ingin bertemu R.W. untuk melihat mata orang yang mengelak. Rasa: ingin. Stop. Mata itu umpan juga. Aku di berkas. Aku di site. Aku di meja. Kalau legal butuh pertanyaan dari aku, aku tulis. Bukan aku duduk di sofa mereka. Mira—jangan sebar surat ini.' Mira: 'Aku bahkan tidak baca penuh. Aku jaga gembok.'
Arya dinonaktifkan sementara dengan surat resmi di sore hari—bukan pecat buta di chat, skors administratif dengan alasan audit internal; akses dicabut; HRD dan legal memegang perangkat. Dewan menerima langkah itu lebih mudah daripada menerima 'istri tetap publik'. Seorang komisaris mencoba menyelipkan lagi klausul jarak. Bisma menolak di menit: 'Skors Arya adalah operasi dan kepatuhan. Jarak istri adalah penjualan citra. Beda. Dicatat. Jangan campur.'
Saira mendengar berita skors dari Bisma di telepon singkat antara dua site visit. 'Fakta: aku tidak senang orang kehilangan akses. Rasa: lega campuran. Stop. Skors bukan dendamku. Itu prosedur. Aku tidak merayakan di grup.' Bisma: 'Tidak merayakan. Sepakat. Klarifikasi R.W. jangan kau hadiri meski penasaran—ingat deal.' Saira: 'Ingat. Aku tulis pertanyaan untuk legal nanti malam.'
Malam terakhir minggu itu Mira kembali sleepover di rumah Adibrata karena Ibu mendapat dua telepon hilang dari nomor berawalan Denpasar—tidak diangkat, dilaporkan ke Heru dan polisi. Saira menulis di papan sampai spidol hampir habis: *Pintu menyempit. Klarifikasi R.W. = hati-hati. Seto belum borgol. Tidak damai bungkam. Tidak terbang. Tidak pesta.* Bisma menambah: *Ember penuh cukup untuk proses. Belum cukup untuk pesta. Legal hadir. Kita tidak.* Di bawahnya Saira menempel kertas pertanyaan untuk kuasa hukum—tiga baris kering soal memo, map gudang, dan hubungan Seto—bukan daftar umpatan.
Mereka memandang foto Seto di sudut dinding. Senyum di kertas itu tidak berubah; dunia di sekitarnya berubah—kurir, plat, mutasi, Ibu, Arya skors, R.W. berkeringat, dewan tidak menang soal diam. Saira bilang pelan, 'Aku takut merayakan terlalu cepat. Aku juga takut tidak mengakui kemajuan. Jadi aku bilang: kemajuan. Bukan selesai. Bukan TAMAT. Bukan juga kalah. Kalau aku tersenyum terlalu lebar besok, ingatkan kata baut.'
Bisma menggenggam tangannya. 'Kemajuan. Berdua. Besok legal ke klarifikasi terbatas. Kita di rumah atau di kerja. Bukan di mulut mereka. Kalau ada umpan baru, meja. Kalau aku lapar tiket, sobek. Kalau aku tersenyum terlalu lebar, kau bilang baut.'
Saira menambah deal: 'Kalau aku lapar melihat mata R.W., kau tahan. Kalau dewan bilang damai bungkam, kita tolak berdua tertulis.' Bisma: 'Tertulis. Diterima.'
Heru mengirim baris terakhir malam: *Seto belum terlihat di Jakarta. Pantauan naik. Jangan lengah pada umpan baru atau damai palsu. Klarifikasi R.W. jadwal menyusul—saya dampingi legal dari luar ruangan.* Mira mematikan lampu ruang tamu setelah memastikan gembok dan ponsel Ibu di mode laporan. Ia muncul sebentar di pintu dapur. 'Kalian kelihatan seperti orang yang baru menolak dua racun: diam dan tiket. Bagus. Tidur sebelum racun ketiga datang berupa begadang.' Saira melempar bantal kecil ke arahnya; Mira menangkap, tersenyum, pergi.
Di dapur, spidol ditutup. Pintu dalang menyempit di atas berkas dan di atas meja kayu yang menolak diminta diam. Perang belum selesai. Api belum padam. Tapi senyum di balik layar mulai kehabisan ruang untuk berjalan tanpa menyentuh bukti—dan itu, untuk malam ini, adalah status yang benar: belum menang mutlak, belum kalah, masih mengencangkan baut, masih menolak umpan, masih menolak diam yang dijual sebagai damai, masih menolak terbang yang dijual sebagai berani. Arc gali minggu ini ditutup bukan dengan borgol, dengan pintu yang lebih sempit—dan dengan dua orang yang masih duduk di sisi meja yang sama.
Saira menaruh pertanyaan untuk legal ke dalam amplop cokelat. Bisma menaruh kunci mobil di mangkuk. Mira mematikan sisa lampu koridor. Tiga gerakan, satu arti: besok proses lanjut, malam ini rumah dijaga tanpa heroik. Seto masih bisa tersenyum di Denpasar. Senyum itu sekarang punya pintu yang lebih sempit—dan meja ini punya orang yang tidak mau digiring melewati umpan hanya karena penasaran pada mata lawan. Besok klarifikasi R.W. akan dimulai tanpa mereka di sofa. Itu bukan kekalahan. Itu pilihan. Dan pilihan, di rumah yang pernah hampir terbakar, lebih berharga dari senyum siapa pun di balik layar. Spidol di rak. Meja kosong dari panik. Siap untuk batch perang berikutnya tanpa menyerahkan kemudi.