Gali lebih dalam datang bukan dari tiket pesawat, dari kertas yang akhirnya mau bicara di atas kayu.
Heru membawa tiga temuan dalam dua hari, masing-masing dibuka di meja malam dengan timer empat jam dari sejak ia bilang 'ada sesuatu'—bukan dibaca di koridor, bukan di bisikan lift. Pertama: mutasi kecil berulang dari badan usaha R.W. ke rekening perantara yang pernah muncul di audit lama Mitra Cahaya; jumlah tidak mencolok, pola mencolok. Kedua: email arsip Adibrata lima tahun lalu—Arya mengatur 'jamuan informal' dengan salinan tersembunyi ke alamat yang sekarang terhubung domain Mitra Cahaya. Ketiga: keterangan satpam kompleks Ibu—dua bulan sebelum paket rumah datang, ada pria mengaku 'rekan Seto membereskan berkas', ditolak masuk karena Ibu tidak di rumah; plat motor dicatat tangan di buku satpam yang hampir dibuang saat bersih-bersih.
Saira menatap nomor plat yang difoto Heru. Jari arsiteknya diam di tepi tablet. 'Fakta: ember bertambah. Rasa: ingin menelepon pemilik plat sekarang dan memaksa. Stop. Cocokkan dulu lewat legal. Jangan sambar. Jangan juga bilang ke Ibu dengan cara yang membuatnya tidak tidur.'
Bisma berdiri, mengitari meja sekali, duduk lagi. 'Fakta: email Arya makin sulit dibaca sebagai kebetulan. Rasa: ingin pecat di chat grup. Stop. Legal: surat penjelasan kedua ke Arya—tertulis, dengan pendampingan, bukan interogasi di pantry. HRD hadir. Heru hadir. Saya hadir. Saira tidak hadir di ruang itu supaya tidak dibaca sebagai dendam istri—tapi Saira dapat salinan malam ini di meja.'
Saira mengangguk. 'Deal. Aku di meja malam. Bukan di kursi interogasi.'
Mereka memanggil pengacara lewat speaker. Strategi disusun pelan: perkuat folder B; serahkan ke polisi bagian yang relevan dengan ancaman dan rangkaian tanpa membuang seluruh peta C; siapkan langkah jika R.W. atau Mitra Cahaya bergerak memutarbalikkan; tetap tidak ke media; dewan dapat ringkas tanpa nama kode dapur. Mira mendengar versi ringkas tanpa angka rekening. 'Aku jaga Ibu besok. Kalian jaga supaya tidak ada yang tiba-tiba beli tiket karena ember terasa enak.'
Siang sebelum pertemuan Arya, Saira ke site hotel dengan protokol—jam terang, satpam tahu, Mira on-call. Ia menandai plafon, menulis angka, menolak memikirkan plat motor di kepala sampai malam. Bisma di kantor menahan diri dari membuka situs maskapai; ia membuka slide kuartal saja. Sticky note baru di monitor: *Ember. Bukan tiket.*
Keesokan harinya Arya datang dengan pengacara sendiri—wajah lebih pucat dari sesi tulis pertama. Di ruang HRD ia merevisi keterangan: mengaku Seto pernah minta 'bantuan akses orang dan jadwal', ia menolak sebagian, mengiyakan sebagian karena butuh uang; ia tidak mencat tembok; ia tidak mengirim ancaman; tapi ia tahu Seto bilang anak Maheswara jangan sampai baca memo, dan ia diam. 'Itu salah saya. Saya takut ikut. Saya juga takut dipecat dulu. Sekarang saya lebih takut berbohong lagi.'
Bisma mendengar sampai selesai tanpa meninggikan suara. Heru mencatat. Pengacara Arya mencoba membingkai 'kerja sama penuh'. Legal Adibrata: 'Kerja sama dicatat. Absolusi tidak otomatis.'
Malam Bisma mengulangi kata Arya di meja tanpa menghias, tanpa mengurangi. Saira mendengar, mengepal tangan di kayu, lalu membuka jari satu per satu. 'Fakta: pengakuan diam. Rasa: marah pada diam yang meracuni rumah orang. Stop. Pengakuan ini masuk berkas. Bukan absolusi. Bukan juga vonis cat tembok padanya tanpa bukti. Kita tidak butuh setan tunggal pengganti.'
Bisma mengangguk, malu sedikit. 'Aku hampir bilang terima kasih padanya karena jujur, seperti orang yang lapar pujian pada siapa pun yang mengaku. Lalu aku ingat: jujur terlambat tetap meninggalkan lubang. Kita catat. Kita tidak jadikan dia pahlawan di dewan. Kita juga tidak bocorkan pengakuannya ke portal supaya terlihat menang.'
Saira menuang teh yang sudah kurang hangat. 'Bagus. Besok Ibu. Plat. Gembok. Aku hampir menelepon plat sendiri tadi di mobil. Aku tidak. Deal masih hidup.'
Sore itu Saira ke rumah Ibu bersama Mira. Buku satpam difoto ulang dengan cahaya baik; Ibu menandatangani berita acara sederhana di atas meja makan yang biasa dipakai sayur, bukan perang. 'Aku ingat motor itu,' bisik Ibu. 'Aku tidak buka pintu. Aku takut sendiri. Sekarang aku tahu takut itu benar—dan aku marah pada senyum yang dulu kupercayai.' Saira memeluknya singkat. 'Benar. Kau tidak bodoh. Kau ditipu. Kami pegang plat ini. Kau kunci. Mira ada.'
Mira mengangkat gembok baru dari tas. 'Romantis sekali. Dipasang sekarang.'
Malam papan dapur mendapat baris baru: *Ember: mutasi + email + plat + diam Arya. Belum borgol. Sudah berat.* Bisma mengecek, lalu mengaku sebelum ditanya. 'Aku tidak beli tiket. Aku hampir. Siang tadi aku buka situs maskapai. Heru telepon—dia lihat notifikasi perangkat yang tersambung audit. Aku tutup. Lapor. Sobek draft.'
Saira menatapnya lama, lalu mengangguk. 'Diterima karena kau lapor sebelum aku marah. Sobek. Ember. Bukan tsunami. Kalau kau buka lagi, meja lagi—bukan rahasia di kantor. Aku juga hampir kirim plat ke grup satpam kompleks Ibu tanpa filter. Mira tahan. Kita saling tahan.'
Heru menambah sebelum pulang: 'Plat sedang dicocokkan. Email Arya sudah di-hash ke folder B. Mutasi menunggu satu surat bank lagi. Jangan umbar ke dewan sebagai "sudah selesai".' Bisma: 'Tidak umbar. Ringkas saja: audit berjalan.' Saira menulis di notes Ibu: *jangan terima tamu. Mira tahu.* Mira membalas stiker gembok.
Mereka tidur dengan folder B yang lebih gemuk dari kemarin. Di nakas, dua ponsel telungkup. Di dinding, foto Seto diam. Dalang masih bebas, tapi ruang geraknya menyempit di atas kertas. Dan kertas, di perang yang dibakar pelan-pelan, lebih tajam dari teriakan di portal—asal tidak dibocorkan ke orang yang meminta diam demi grafik, asal tidak dijadikan tiket oleh suami yang lapar vonis, asal tidak dijadikan unggahan oleh istri yang lapar malu dibayar lunas. Ember bertambah. Borgol belum. Sabar masih senjata. Papan malam ditutup dengan satu kata tambahan: *Lanjut.* Lampu dapur padam.