Yang datang berikutnya bukan paket tipis di meja. Ia ketukan yang lebih berani—dari dalam sirkuit, dan dari luar pagar.
Jumat sore, Arya meminta pertemuan 'klarifikasi' dengan Bisma—sendirian, di ruang kecil tanpa kamera, tanpa notulen, 'supaya aman berbicara'. Bisma membaca pesan itu di mobil, hampir tertawa kering. Ia menolak syarat itu di chat, meneruskan ke Saira dan Heru dengan timer empat jam. Meja malam memutuskan: pertemuan boleh Senin pagi; Heru di ruangan; notulen jalan; tidak ada janji privat; tidak ada 'teman golf' sebagai perantara. Arya setuju dengan jeda yang terlalu lama sebelum membalas OK—jeda yang Heru catat.
Senin pagi di ruang itu Arya berbicara terlalu cepat, keringat di pelipis meski AC dingin. 'Pak, saya takut disalahkan. Saya hanya bantu jadwal dulu. Pak Seto itu kenalan investor, bukan bos saya. Saya tidak tahu soal paket ke rumah atau cat tembok. Saya bisa bantu tenangkan pasar. Saya setia ke Adibrata. Saya bisa atur makan malam—'
Bisma mengangkat tangan. 'Stop menawar makan malam. Fakta: kau cepat menawar diri tiap kali ada goyangan. Rasa: curiga. Stop. Kami tidak vonis kau hari ini di ruang ini. Kami minta kau tulis semua kontak dengan Seto dan R.W. yang kau ingat—tanggal, tempat, siapa hadir, apa yang dibicarakan. Tertulis. Hari ini. Tangan mu. Kalau bohong, itu masalahmu dengan berkas dan dengan hukum, bukan dengan amarahku di sini.'
Arya mengangguk, tangan gemetar. Heru menyodorkan kertas dan pulpen, duduk tanpa senyum. Di luar gedung, Saira menunggu di mobil dengan Mira di kursi penumpang—keputusan meja: Saira tidak masuk supaya pertemuan tidak dibaca sebagai 'istri menginterogasi pegawai', tapi hadir di sirkuit yang sama, siap meja segera. Bisma keluar membawa salinan tulisan Arya; di mobil mereka baca bersama sementara Heru menyimpan asli. Ada tanggal makan malam yang cocok dengan Jati. Ada satu baris baru yang membuat Saira menarik napas: *Seto pernah bilang "anak Maheswara jangan sampai baca memo".* Mira bersiul pelan. 'Bau.'
Saira: 'Fakta: kalimat itu cocok racun di paket rumah. Rasa: marah. Stop. Ini masih kata Arya. Cocokkan dengan forensik dan dengan Ibu. Jangan borgol di kepala. Jangan terbang.'
Bisma: 'Diterima. Aku hampir menelepon Denpasar dari kursi ini. Aku tidak.'
Sore yang sama, kantor Saira menerima amplop—kali ini lewat kurir resmi berlogo, lebih berani dari helm hitam: isi salinan opini portal dan foto dinding vandal sebelum dicat, plus catatan ketikan tanpa nama di kertas putih: *Berhenti gali. Atau berikutnya bukan dinding.* Ancaman. Jelas. Tanpa puisi. Satpam baru tidak membuka sendiri; memanggil Heru. Heru masukkan ke polisi yang sama dengan laporan vandal; nomor resi dicatat; kamera kurir diambil; satpam dikunci prosedurnya. Bisma ingin mengamankan Saira ke rumah Ibu di luar kota 'sementara'. Saira menolak di meja malam, spidol di tangan: 'Aku tidak lari. Aku kencangkan pagar. Aku tetap site dengan protokol—jam, teman, satpam, tidak sendirian di malam. Kau tidak menyembunyikan aku di laci. Kau juga tidak membeli tiket marah. Kalau kau takut, bilang takut—jangan bilang "demi kau" lalu mengunci aku.'
Bisma menunduk, lalu mengangguk. 'Fakta: aku takut. Rasa: ingin mengunci. Stop. Protokol site. Bukan laci. Maaf.'
Mereka menulis di papan bergantian sampai penuh: *Ketukan balik. Arya menulis. Ancaman masuk berkas. Seto wajahnya ada. Tidak sambar. Tidak mundur. Tidak laci.* Mira datang dengan helm dan guling, tidur di ruang tamu atas permintaan Saira. 'Bukan karena aku lemah,' kata Saira. 'Karena aku tidak mau Ibu sendirian kalau pola pindah ke sana, dan aku mau sahabat di dekat kalau ketukan jadi lebih keras. Kau boleh bilang tidak.'
Mira melempar guling ke sofa. 'Aku bilang ya. Aku bawa meme dan indomie. Tidur. Kalau ada kurir malam, aku yang omongi sebelum kau omongi. Kalau kau bangun panik, tekan bahuku, jangan buka portal.'
Bisma memegang tangan Saira di meja setelah Mira ke kamar tamu. Lampu dapur masih menyala. Foto Seto di sudut dinding terlihat dari ekor mata. 'Fakta: perang naik satu tingkat. Rasa: takut pada kau, pada Ibu, pada godaan terbang ke Denpasar dan pada godaan menghancurkan Arya sebelum berkas cukup. Stop. Besok legal. Besok Heru. Besok plafon. Besok polisi untuk ancaman. Tidak ada tiket marah. Tidak ada pecat buta. Tidak ada laci untuk istri.'
Saira menggenggam balik. 'Fakta: aku takut. Rasa: tetap di meja. Stop. Dalang ketuk balik karena gali kita mengenai sesuatu. Itu arah. Bukan alasan panik. Bukan alasan tutup kantor. Bukan alasan jarak publik.'
Heru mengirim ringkas malam: ancaman masuk laporan; tulisan Arya digandakan; pantauan Denpasar tanpa kontak. Legal: siapkan langkah berikutnya tanpa media. Dewan akan marah karena tidak dikasih 'narasi menang'—Bisma sudah siapkan kalimat: investigasi berlanjut, tidak ada pernyataan publik. Saira menambah di papan: *Ketukan = kena. Bukan = kalah.*
Mereka mematikan lampu dapur paling akhir. Di dinding, wajah Seto masih menempel di sudut. Di map, tulisan Arya dan ancaman kurir menunggu pagi seperti pekerjaan yang tidak bisa ditunda dengan slogan. Mira mendengkur pelan di ruang tamu—suara biasa yang anehnya menenangkan. Gelombang kedua tidak lagi hanya abu di portal; ia ketukan di pintu yang mereka tolak untuk dibuka sendirian. Rumah masih berdiri. Pagar dikencangkan. Sahabat di ruang tamu. Suami-istri di meja. Dan ketukan balik itu—kasar, takut, terang—menjadi bukti hidup bahwa dalang di balik layar mulai tidak nyaman dengan dua orang yang menulis fakta sebelum marah, dan marah tanpa melepaskan spidol ke kepala orang. Besok masih ada plafon, angka, dan berkas. Tidak ada tiket. Tidak ada laci. Hanya meja yang menahan perang supaya tidak membakar rumah dari dalam. Saira menaruh spidol di rak. Bisma menaruh kunci mobil di mangkuk. Dua gerakan kecil, sama artinya: kita berhenti di sini untuk malam ini—bukan karena selesai, karena ember belum penuh, dan marah tidak boleh mengemudi.