Serangan ke kantor Saira lebih kasar dari rumor angka. Ia tidak berpura-pura menjadi data. Ia ingin menjadi malu.
Pagi hari satpam kompleks ruko menelepon saat Saira baru mengikat rambut: dinding luar ruang gambar dicat semprot semalam—*PELACUR ARSITEK* dalam huruf hitam tidak rata, plus cetakan foto site hotel yang pernah disunting portal, ditempel miring dengan isolasi. Tidak ada saksi jelas. CCTV satu sudut mati sejak minggu lalu—Heru sudah catat; perbaikan belum selesai, dan itu sekarang terasa seperti lubang yang sengaja dibiarkan lapar. Bau cat masih menyengat saat Saira datang dengan Heru lebih dulu, bukan dengan Bisma—keputusan meja semalam: lingkar arsitektur digarap Saira sebagai pemilik ruang; Bisma menyertai malam dan mendukung, tidak mengambil alih mikrofon pagi.
Saira berdiri di trotoar, helm di tangan, melihat kata itu. Orang lalu-lalang; seseorang sudah mengangkat ponsel. Dulu air mata akan langsung jatuh dan ia akan lari. Sekarang ia mengejap, lalu mengangkat ponsel sendiri, memotret untuk berkas polisi, bukan untuk story. 'Fakta: vandalisme. Rasa: malu dan marah. Stop. Laporkan polisi. Cat catut. Jangan balas di grup alumni. Mira—' ia mengetik dengan jempol yang sedikit gemetar, '—jangan perang komentar. Aku pegang. Kalau kau mau datang, datang dengan kerja, bukan dengan thread.'
Mira balas dalam sepuluh detik: *aku datang dengan cat tembok. bukan dengan thread. tahan.*
Bisma tiba empat puluh menit kemudian, setelah Saira bilang boleh lewat pesan singkat *'sekarang'*. Ia tidak memeluk di depan kamera tetangga. Ia tidak mengumumkan status CEO. Ia berdiri di samping Saira, membaca cat itu, rahang kaku sampai urat muncul. 'Fakta: mereka naik ke tubuh mu dengan cat. Rasa: ingin cari orang dan...' Ia berhenti, menarik napas seperti dilatih. 'Stop. Polisi. Heru. Cat. Aku tidak menelepon dewan dulu. Ini bukan milik mereka untuk dijadikan bahan rapat citra.'
Saira mengangguk, mata basah sebentar lalu kering. 'Terima kasih tidak mengambil mikrofon. Terima kasih bertanya sebelum datang sebagai suami yang menguasai.'
Mereka membuat laporan di kantor polisi sektor. Petugas mencatat; Saira menyerahkan foto berkas; Heru menyerahkan log CCTV yang mati. Tidak ada janji keajaiban. Ada nomor laporan. Pekerja membersihkan dinding siang itu; Mira datang dengan dua kaleng cat sewarna tembok lama, menggulung tanpa banyak omong, hanya bilang: 'Kata itu bohong. Dinding ini punya kerja. Kita cat. Kau pegang kuas bawah; aku atas. Kalau ada yang rekam, biar. Kita kerja, bukan teater malu.' Saira ikut menggulung sampai bahu pegal. Bau cat baru menutup bau cat kotor. Asisten menangis pelan di pintu; Saira bilang, 'Kau boleh pulang. Kau boleh tinggal. Yang tinggal: kita kencangkan pagar. Bukan kita tutup usaha. Aku tidak kasih mereka kemenangan gembok. Dan kau tidak wajib jadi pahlawan di grup chat.'
Sore, portal memuat foto dinding sebelum dibersihkan—cepat, tajam, seperti ada yang kirim sebelum laporan selesai. Heru menandai waktu unggah versus waktu laporan polisi versus waktu satpam menelepon. Pola lapar: dokumentasikan luka, sebar, biarkan malu bekerja lebih cepat dari cat kering. Bisma ingin somasi portal besar-besaran. Legal: somasi bisa; hati-hati jadi bahan 'konglomerat bungkam kritik'. Meja malam memutuskan: somasi terbatas soal foto yang diambil di properti dan disebarkan untuk memperpanjang vandalisme, bukan perang isi fitnah kata per kata di pengadilan publik dulu. Saira menambah syarat: 'Somasi tanpa menjadikanku korban abadi di siaran pers. Bahasa kerja. Bukan air mata.' Legal mengangguk dari speaker.
Malam di rumah, Saira mandi lama sampai air hangat menjadi biasa, lalu duduk di meja dengan rambut basah. 'Fakta: aku hampir bilang ke kau "aku mundur dari proyek publik dulu, biar tenang". Rasa: takut. Stop. Aku tidak mundur. Klausul hotel tetap. Dinding sudah dicat ulang. Aku tidak kasih mereka kemenangan tutup usaha. Aku juga tidak minta kau beli aku kantor baru sebagai pelarian.'
Bisma: 'Fakta: aku hampir memindahkan keamanan Adibrata penuh ke kantor mu tanpa tanya, lengkap dengan seragam yang kelihatan seperti milik suami. Rasa: ingin mengontrol karena takut. Stop. Aku tanya sekarang: kau mau tambahan satpam dari sirkuit kami atau independen yang Heru rekomendasikan?'
'Saira mau independen yang Heru rekomendasikan,' sahut Saira. 'Bukan tentara suami. Pagar milik kerja ku. Kau boleh bayar sebagian jika aku setuju tertulis—bukan sebagai belas kasihan, sebagai kerja sama keamanan. Tapi komando di lapangan: Heru dan aku.'
'Deal,' sahut Bisma. 'Tertulis. Aku tulis sekarang supaya aku tidak "lupa" jadi tentara di pagi hari.'
Mereka menulis di papan: *Dinding ditulis. Kita cat. Kita tidak tutup. Pagar independen.* Mira mengirim foto gulungan cat kosong dan jempol bercat: *selesai. tidur. meme menyusul.* Polisi mengabari Heru: belum ada tersangka; cat semprot merek biasa; cetakan foto kemungkinan dari file portal. Tidak memuaskan. Cukup untuk tidak berbohong ke diri bahwa sudah selesai.
Tengah malam Saira terbangun, membuka ponsel, hampir mencari foto dinding di portal. Bisma terbangun ikut. 'Anonim? Timer?' Saira: 'Bukan anonim. Godaan malu. Fakta: aku ingin memastikan seberapa viral. Rasa: takut. Stop. Tidak buka. Tidur.' Bisma menggenggam ponselnya, menaruh kedua perangkat telungkup. 'Kita tidak ukur luka dengan view.'
Di luar, huruf hitam sudah hilang di bawah cat baru. Di dalam, luka tidak hilang secepat itu—tapi tidak diberi kursi di portal sebagai panggung. Serangan ke kantor Saira ingin membuatnya pulang dan diam. Ia pulang untuk meja, lalu esok hari kembali ke ruang gambar dengan pensil di telinga, penggaris di saku, satpam baru di pintu, dan CCTV sudut yang akhirnya diperbaiki. Bukan heroik. Hanya keras kepala yang sehat—jenis yang sama yang menahan plafon hotel tetap naik sementara orang lain menulis namanya di tembok dengan kebencian murah. Di notes pagi ia tulis satu baris untuk diri sendiri: *Dinding dicat. Kerja lanjut. Jangan baca portal sebelum makan.* Bisma membalas foto cat kering di dinding: *'Pagar independen jalan. Aku tidak kirim tentara. Stop.'* Saira: *'Diterima. Site jam sembilan. Stop.'*