Sahabat Saira datang tanpa janji, helm di tangan, wajah yang biasanya suka mengomel sekarang tegang. Di kantor arsitektur itu bau kertas gambar dan kopi sachet. Asisten sempat bilang 'Bu Mira', dan Saira keluar dari ruang gambar dengan pensil masih di telinga, penggaris di saku.
'Mira. Kau jarang datang siang. Biasanya kau mengomel di malam lewat telepon.'
'Mira jarang punya firasat jelek yang tidak bisa dikirim chat,' sahut Mira, duduk di kursi klien tanpa diminta, helm di pangkuan. 'Aku curiga ada yang menyusup di lingkar kerja mu. Bukan wartawan di luar pagar. Orang dalam—atau orang yang memakai orang dalam.'
Saira menutup pintu, menarik kursi. 'Fakta dulu. Jangan drama. Jangan portal.'
Mira membuka ponsel, menunjukkan tiga tangkapan layar grup alumni arsitektur. 'Orang di grup ini tiba-tiba tahu jadwal site visit mu minggu lalu—hotel yang fotonya disunting itu. Jam, lokasi, bahkan bahwa kau bawa map biru. Aku cek dari sisi ku: kau hanya bilang ke dua orang di kantor, satu klien, dan aku. Klien tidak masuk grup. Aku tidak bocorkan—bisa kau sumpahin. Sisanya: asisten, orang yang baca kalender bersama, atau password yang bocor.'
Saira diam, menghitung. Kalender kantor memang dibagikan terbatas ke tiga akun. 'Heru bisa usut perangkat dan log. Aku tidak main hakim di siang bolong.'
'Aku tidak minta kau main hakim,' sahut Mira, lebih pelan. 'Aku minta kau tidak naif. Tahun lalu kau hampir hancur karena orang luar yang rapi. Tahun ini orang luar bisa pakai orang dalam yang murah. Dan Saira—' Mira menelan, '—kalau Bisma dengar dari dewan atau dari paket dulu, dia bisa panik. Bawa ke meja kalian malam ini. Aturan mu yang kau banggakan itu. Aku ikut sebagai saksi kalau perlu. Aku dulu bilang kalian memuakkan seperti iklan. Sekarang aku bilang: jangan sampai iklan itu dibakar dari dapur kantor mu sendiri.'
Saira mengangguk, mata basah sebentar lalu kering. 'Meja. Malam. Terima kasih tidak ke portal. Terima kasih datang.'
Siang itu ia memanggil asisten—perempuan muda yang pucat sejak artikel opini. Bukan interogasi di depan orang. Ruang kecil, pintu tertutup. 'Mulai hari ini kalender site visit hanya aku dan satu orang yang kutunjuk tiap proyek. Kau tetap dipercaya kerja gambar dan klien. Tapi akses diperketat. Ini bukan vonis. Ini pagar. Kalau kau bersih, pagar melindungimu juga dari tuduhan orang.'
Asisten menangis pelan, mengangguk. 'Bu, aku tidak jual data. Aku sumpah.'
'Belum ada tuduhan,' potong Saira lembut. 'Ada prosedur. Prosedur itu yang kita kerjakan. Pulang tepat waktu. Jangan login malam dari kafe.'
Malam di meja makan rumah Adibrata, Mira datang dengan helm. Bisma sudah melepas jas; Heru sudah duduk di kursi ketiga atas undangan. Saira membuka semuanya tanpa menahan: grup, jadwal, kemungkinan bocor, panggilan ke asisten. Bisma mengerat rahang sampai muncul urat, lalu menarik napas seperti dilatih konselor. 'Fakta: aku ingin memecat semua orang yang menyentuh kalender mu. Rasa: marah dan takut. Stop. Kita tidak pecat buta. Heru audit akses. Mira—terima kasih. Kau boleh pulang atau tinggal sampai ada rencana.'
'Mira tinggal sampai ada rencana,' sahut Mira. 'Aku tidak suka rumah kalian terbakar dua kali. Aku juga tidak suka teman ku jadi headline karena magang nakal.'
Heru mencatat di tablet: siapa membuka file kapan, IP, perangkat. Satu jam kemudian—ia bekerja cepat dari laptop yang dibawa—ia mengangkat wajah. 'Satu akun internal arsitektur login dari IP kafe dekat kantor di malam sebelum foto hotel. Bukan akun asisten. Akun staf magang yang kontraknya selesai dua minggu lalu. Bisa dicuri password. Atau dia jual. Kita panggil. Resmi. Tidak di media. Tidak di grup alumni.'
Saira mengangguk. 'Panggil. Aku hadir. Bisma tidak wajib—kecuali mau. Ini lingkarku. Tapi laporan ke meja kita malam yang sama. Timer.'
Bisma memegang tangannya di atas meja. 'Aku mau dengar ringkas malamnya. Bukan mengontrol kantor mu. Menyertai. Kalau orang itu menunjuk pembeli, kita terus ke Seto atau ke siapa pun tanpa meledak.'
Mereka menyusun pertanyaan bersama, bukan daftar hukuman. Mira menambahkan satu hal: 'Di grup, ada yang iseng bilang kau "dikontrol suami". Abaikan. Atau biarkan aku yang menyahut dengan meme bodoh. Jangan kau yang turun perang komentar.'
Saira hampir tersenyum. 'Meme bodoh diterima. Perang komentar tidak.'
Setelah Mira pulang, Saira menulis di papan dapur: *Bocor bisa dari dalam. Audit, jangan vonis.* Bisma menambah di bawahnya: *Jati belum temu. Seto masih di radar. Dalam + luar = dua pintu.* Spidol berbunyi. Mereka minum teh yang sudah dingin. Saira bilang pelan, 'Aku takut orang dalam. Lebih sakit dari orang luar.'
'Aku tahu,' sahut Bisma. 'Tahun lalu aku jadi orang dalam yang menghukum tanpa sidang. Aku tidak mau kantor mu jadi pengadilan diam. Kita panggil. Kita dengar. Kita catat.'
Mereka tidur dengan waspada yang lebih tajam dari artikel pagi minggu lalu. Yang menyusup belum tentu sudah kelihatan wajahnya di depan mata. Tetapi pintu sudah dicek—log, password, pagar akses—dan kali ini, sahabat yang dulu bilang pernikahan mereka memuakkan justru yang mengetuk lebih dulu dengan fakta, bukan gosip. Di luar, kafe dengan IP itu masih buka sampai larut. Di dalam, meja kayu menahan map baru tanpa retak.
Keesokan paginya pemanggilan magang berlangsung di ruang kecil Heru—bukan di kantor Saira. Pemuda itu pucat, mengaku pinjamkan password karena butuh uang sewa; pembeli hanya dikenal sebagai 'Abang yang bayar cash, bilang data buat riset kompetitor'. Tidak ada nama Seto di mulutnya. Saira mendengar dari belakang kaca one-way, mengepal tangan, lalu menulis di notes: *bukan vonis Seto. Perantara. Lanjut.* Bisma menunggu di mobil, tidak masuk, menghormati bahwa ini lingkar Saira. Malam itu mereka makan diam-diam dulu, lalu bicara. 'Dalam sudah berlubang,' kata Saira. 'Kita tambal. Luar masih menggigit. Aku tidak pecat asisten. Aku pecat akses yang longgar.'
'Bagus,' sahut Bisma. 'Dan aku bangga kau tidak main hakim di grup alumni.' Mira mengirim meme seperti janji; Saira tersenyum kecil ke layar. Yang menyusup belum tertangkap sampai dalang. Tetapi lubang password sudah ditutup, dan itu—di minggu abu panas—adalah kemenangan yang tidak masuk portal, hanya masuk papan dapur: *Password bukan barang pinjaman.*