Kalau ada lomba rumah tangga paling harmonis se-Jakarta, pernikahan Saira dan Bisma Adibrata akan selalu masuk final.
Empat tahun menikah, mereka masih sarapan berdua setiap pagi — Bisma, CEO Grup Adibrata yang jadwalnya dihitung per lima belas menit, menolak menggeser ritual itu untuk rapat mana pun. Saira, arsitek yang karyanya mulai menghiasi majalah desain, selalu menyisipkan catatan kecil di saku jas suaminya. Mereka tidak pernah berteriak. Mereka berdebat seperti orang dewasa dan berbaikan sebelum tidur. Teman-teman mereka benci sekaligus iri.
'Kalian berdua itu memuakkan,' kata sahabat Saira suatu kali. 'Kayak iklan pernikahan.'
Malam itu, di dalam mobil menuju gala amal tahunan Kamar Dagang, Saira menyelipkan catatan terakhirnya ke saku jas Bisma: *'Jangan bicara bisnis lebih dari sepuluh menit. Ini acara amal, Bos.'* Bisma membacanya di bawah lampu jalan dan tertawa — tawa lepas yang hanya keluar kalau bersama istrinya.
Ballroom hotel itu penuh orang-orang penting. Grup Adibrata tahun ini menjadi penyandang dana utama, dan Bisma menjadi pusat gravitasi ruangan. Saira melepas suaminya berkeliling, mengobrol dengan beberapa klien arsitekturnya, sampai moderator acara naik ke panggung dan mengumumkan tamu kehormatan malam itu.
'...investor muda yang dua tahun terakhir mengguncang pasar modal Asia Tenggara. Mohon sambutan untuk pendiri Kusuma Capital, Bapak Jati Kusuma!'
Tepuk tangan. Lampu menyapu. Dan seorang lelaki berjas gelap berjalan naik ke panggung dengan senyum yang dulu pernah mengisi tiga tahun hidup Saira.
Dunia Saira berhenti berputar.
Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak lelaki itu menghilang tanpa pamit — seminggu setelah ayah Saira melarang mereka berhubungan, seminggu setelah Saira menurut dan melepaskannya. Sepuluh tahun tanpa kabar, tanpa jejak digital, tanpa satu pun teman lama yang tahu di mana dia. Dan sekarang dia berdiri di panggung gala amal, di hadapan suaminya, dengan jas yang harganya mungkin setara mobil.
'...terima kasih,' suara Jati dari pengeras suara. 'Senang sekali akhirnya bisa pulang.'
*Pulang.* Kata itu menghantam dada Saira.
'Aku pergi sepuluh tahun untuk belajar,' lanjut Jati, 'dan aku kembali karena Indonesia adalah rumah. Kusuma Capital akan menanamkan investasi besar-besaran di sini. Kami ingin jadi bagian dari masa depan negeri ini — dan mungkin... menutup beberapa urusan lama.'
Matanya menyapu ruangan. Untuk sepersekian detik — hanya sepersekian, cukup untuk membuat Saira membeku — mata itu berhenti tepat di wajahnya. Tidak berkedip. Tidak tersenyum. Menatap seperti orang menandai lokasi di peta.
Lalu ia turun panggung, disambut kerumunan.
'Kamu kenal dia?' Bisma muncul di samping Saira dengan dua gelas jus, mengikuti arah pandang istrinya. 'Jati Kusuma. Semua orang membicarakannya. Dana yang dia gerakkan konon sembilan digit.'
Saira menelan ludah. Di sinilah, detik ini, seharusnya ia berkata: *Aku pernah mengenalnya. Dia mantan kekasihku sepuluh tahun lalu.* Kalimat sederhana. Tiga detik diucapkan. Pernikahan mereka cukup kuat untuk itu.
Tetapi di kepalanya berkelebat bayangan yang lain: Bisma yang selama ini paling tidak nyaman dengan topik masa lalu, persahabatan bisnis yang rumit, drama yang tidak perlu. Jati sekarang investor besar; kemungkinan besar dia sudah melupakan semuanya. Mengungkit masa lalu hanya akan menambah bising.
Maka Saira melakukan kesalahan yang akan ia bayar bertahun-tahun kemudian: ia mengangkat bahu dan berkata ringan, 'Tidak terlalu. Dulu satu angkatan di kampus. Aku bahkan hampir lupa namanya.'
Berpura-pura lupa itu mudah. Yang tidak ia ketahui: di seberang ruangan, Jati Kusuma sedang memperhatikannya dari balik kerumunan — dan dari jauh, lelaki itu tersenyum.
Bukan senyum reuni.
Senyum orang yang baru saja memastikan bahwa targetnya masih persis seperti yang ia ingat: masih menyimpan rahasia demi menjaga damai. Dan rahasia, pikir Jati, adalah bahan bakar terbaik untuk membakar sebuah rumah tangga.