BAB 6: Jejak dari Masa Lalu
Dua minggu berlalu sejak papan nama kayu itu tergantung di teras depan. Desa pesisir yang tadinya tenang kini memiliki irama baru setiap pukul sepuluh pagi: aroma asap batok kelapa yang terbakar manis, berpadu dengan gurihnya lemak ikan segar dan keharuman daun pandan yang mengepul dari ketel nasi gurih.
Warung Bara & Garam bukan lagi sekadar tempat menumpang makan bagi nelayan setempat. Berita tentang kelezatan ikan bakar garam buatan Aruna menyebar melintasi batas desa, menjangkau para pekerja pelabuhan, pegawai dinas kecamatan, hingga wisatawan lokal yang kebetulan melintasi jalur pantai selatan.
Setiap hari, tiga puluh hingga empat puluh porsi ikan kembung dan kakap bakar ludes sebelum pukul dua siang.
Aruna telah menemukan ritmenya. Koper hitam kusam yang dulu berisi sisa-sisa kehancuran hidupnya kini tersimpan rapi di bawah tempat tidur. Sebagai gantinya, hari-harinya diisi oleh jadwal yang teratur dan jujur: Subuh di TPI bersama Pak Daman, pagi hari menyiapkan bumbu di dapur, siang hari berdiri di balik panggangan, dan sore hari menghitung hasil penjualan bersama angin laut yang berhembus bersahabat.
Uang tunai hasil penjualannya kini cukup untuk membayar seluruh biaya perbaikan atap pada Bara, membeli peralatan dapur baru yang lebih layak, serta menyisipkan tabungan kecil di balik lipatan kain di lemarinya.
Hari itu, hari Selasa yang cerah, warung baru saja sepi setelah gelombang makan siang reda. Aruna sedang menyapu lantai semen teras ketika mobil bak hijau tua milik Bara berhenti di tepi jalan tanah.
Bara turun dari kabin, membawa sebuah bangku kayu panjang bertumpuk dua dengan finishing halus berwarna cokelat serat alami.
"Ini pesananmu," kata Bara sambil meletakkan bangku kayu itu di sudut teras yang masih kosong. "Ukuran tiga meter, muat untuk enam orang. Kayu mahoni tua, tahan air garam."
Aruna mengusap permukaan bangku itu. Halus, presisi, dan sangat kokoh. "Bara, ini bagus sekali. Berapa harganya?"
"Empat ratus ribu," jawab Bara singkat sambil mengambil posisi duduk di bangku teras yang biasa. "Sudah dipotong diskon karena kamu selalu menyisikan porsi ikan bakar terbaik buat saya tiap siang."
Aruna tertawa kecil—suara tawa renyah yang kini semakin sering terdengar dari bibirnya. Ia melangkah ke dapur dan kembali membawa dua piring nasi gurih ikan bakar kakap merah serta dua gelas es teh manis.
"Kamu selalu cari alasan buat kasih harga murah," kata Aruna sambil menyodorkan piring ke depan Bara.
"Saya tukang kayu, Aruna. Saya tahu harga material," sahut Bara datar, meski ada kilat kehangatan di mata cokelatnya saat ia menerima piring itu. "Lagipula, bangku ini buat kenyamanan pelangganmu juga. Kalau mereka nyaman, kamu makin sibuk, dan ikan bakarmu gak bakal tersisa."
Mereka makan bersama dalam keheningan yang nyaman. Tidak ada keharusan untuk terus berbicara; kehadiran satu sama lain sudah cukup memberikan rasa aman yang tak terucapkan.
Pukul tiga sore, ketika Bara baru saja hendak kembali ke bengkel kayunya untuk menyelesaikan pesanan kusen pintu warga, sebuah sedan hitam mewah beratap rendah perlahan memasuki jalanan tanah desa.
Mobil itu berjalan sangat lambat, suspensinya yang rendah tampak berjuang melewati ceruk-ceruk tanah yang belum rata akibat hujan minggu lalu. Ban mengkilapnya menebarkan debu tipis di udara.
Kehadiran mobil asing nan mewah di desa nelayan itu langsung menyita perhatian warga yang melintas. Anak-anak kecil berhenti berlari, menunjuk-nunjuk bodi mobil berkilau itu dengan mata berbinar.
Aruna yang sedang membersihkan meja teras membeku.
Jantungnya mendadak berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan keras hingga rasa mual tipis muncul di perutnya. Ia sangat mengenali model mobil itu: sebuah sedan Mercedes-Benz hitam keluaran terbaru dengan kaca gelap—jenis kendaraan yang biasa terparkir di area parkir valet Restoran L’Étoile di Jakarta Selatan.
Mobil itu berhenti tepat di depan teras Warung Bara & Garam.
Bara, yang tadinya hendak menaiki mobil baknya, menghentikan langkah. Pria itu menyipitkan mata, berdiri mematung di samping teras sambil memperhatikan kendaraan asing tersebut.
Pintu kemudi terbuka. Seorang pria bersetelan jas abu-abu tanpa dasi turun dari mobil. Rambutnya diklimis rapi dengan minyak rambut mahal, dan jam tangan emas berkilau di pergelangan tangannya tersiram sinar matahari sore.
Adrian.
Pria itu berdiri di tepi jalan tanah, memandang sekelilingnya dengan tatapan jijik yang tersirat samar—menatap bangunan kayu tua, debu tanah, dan papan nama WARUNG BARA & GARAM yang menggantung di atas teras.
Pandangan Adrian akhirnya terkunci pada sosok Aruna yang berdiri kaku di balik meja kayu.
"Ternyata benar..." gumam Adrian, suaranya halus namun dipenuhi nada meremehkan yang familiar. Pria itu melangkah mendekati teras, sepatu kulit mengkilapnya menginjak tanah kering dengan ragu-ragu. "Aku cari kamu ke mana-mana di Jakarta, Aruna. Detektif swastaku butuh waktu dua minggu cuma buat menemukan kamu ngumpet di gubuk nelayan kusam ini."
Aruna menatap pria di hadapannya. Dulu, suara itu bisa membuatnya bergetar karena rasa cinta atau rasa takut akan kegagalan. Namun hari ini, melihat Adrian berdiri di tanah pesisir ini dengan segala kepura-puraannya, Aruna hanya merasakan kehampaan yang dingin.
"Mau apa kamu ke sini, Adrian?" tanya Aruna. Suaranya terdengar sangat datar, tanpa getaran ketakutan sedikit pun.
Adrian menghela napas panjang, memasang wajah prihatin yang biasa ia gunakan saat menghadapi pers atau jajaran investor.
"Aruna, kamu gak perlu bertindak sekstrim ini," kata Adrian sambil mendekat satu langkah. "Kabur dari Jakarta, mematikan ponsel, lalu tinggal di tempat terpencil seperti ini... kamu menyiksa diri kamu sendiri. Lihat tanganmu, lihat pakaianmu. Kamu itu Executive Chef berkelas, bukan tukang masak warung pinggir jalan!"
"Warung ini milikku," sahut Aruna tegas. "Dan aku tidak sedang menyiksa diriku."
Adrian terkekeh kecil, sebuah tawa pelan yang merendahkan. "Milikmu? Aruna, bersikap realistis-lah. Restoran baru yang kita rancang di Senopati butuh kehadiranmu. Menu-menu buatanmu kemarin... investor kurang puas dengan eksekusi koki penggantimu. Rasa masakannya berbeda."
Aruna menatap Adrian dengan alis terangkat. Tentu saja berbeda, batinnya. Adrian bisa mencuri buku resepnya, bisa memalsukan tanda tangan kepemilikan sahamnya, tetapi pria itu tidak akan pernah bisa mencuri rasa dan intuisi yang ada di dalam kepalanya.
"Koki penggantiku tidak punya 'tangan' yang kamu butuhkan, kan?" cetus Aruna dingin. "Kamu ke sini bukan karena khawatir padaku, Adrian. Kamu ke sini karena restoranmu mulai rugi dan kamu butuh aku untuk menyelamatkan investasimu lagi."
Wajah manis Adrian mendadak mengeras. Topeng keprihatinannya terkoyak sedikit, memperlihatkan keangkuhan aslinya.
"Jangan kekanak-kanakan, Aruna!" bisik Adrian dengan nada menajam. "Kamu gak punya apa-apa lagi di Jakarta! Hukum ada di pihakku, dokumen saham atas namaku. Kamu cuma punya dua pilihan: kembali ikut aku ke Jakarta, kerja di bawah negosiasi baru yang lebih bagus, atau kamu membusuk di warung kumuh ini sampai sisa hidupmu!"
Adrian mengulurkan tangannya, mencoba mencengkeram pergelangan tangan Aruna untuk menariknya keluar dari teras. "Ayo ikut aku sekarang. Kita bicarakan di mobil."
Sebelum jemari Adrian sempat menyentuh kulit Aruna, sebuah tangan besar berurat keras mencekal pergelangan tangan Adrian di udara.
Cengkeraman itu begitu kuat hingga Adrian meringis kesakitan.
"Jangan sentuh dia."
Suara itu berat, dalam, dan bergetar dengan ancaman yang sangat nyata.
Bara berdiri di sana, menjulang di samping Adrian. Pria tukang kayu itu tidak mengenakan jas mahal atau jam tangan emas; ia hanya memakai kaus oblong hitam kusam dan celana jins berperekat debu kayu. Namun matanya yang tajam menatap Adrian bagai seekor pemangsa yang siap menerkam.
"Siapa kamu?!" bentak Adrian, mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Bara, namun cengkeraman itu seperti jepitan besi yang tak tergoyahkan. "Lepaskan! Kamu gak ada hubungannya sama urusan kami!"
"Ini warung saya. Papan nama di atas itu ada nama saya," jawab Bara tenang, suaranya begitu dingin hingga membuat udara sore terasa membeku. "Dan perempuan ini ada di bawah perlindungan desa ini. Kamu datang ke sini, merendahkan tempat tinggal kami, dan mencoba memaksa dia?"
Bara menghempaskan tangan Adrian dengan satu dorongan kuat, membuat pria berjas itu terhuyung ke belakang hingga nyaris terjatuh di atas tanah.
"Bara..." panggil Aruna pelan, menyentuh lengan Bara dari balik meja.
Bara tidak mengalihkan pandangannya dari Adrian, tetapi tubuhnya memasang posisi pasang yang siap melindungi Aruna dari segala ancaman.
Adrian merapikan jasnya yang kusut dengan wajah merah padam karena malu dan marah. Ia menunjuk Bara, lalu menunjuk Aruna dengan jari gemetar.
"Oh, jadi karena pria desa ini kamu gak mau pulang?" sindir Adrian tajam, mencoba menyerang mental Aruna. "Kamu menukar karier megah di Jakarta demi tukang kayu kusam dan gubuk bambu bocor ini? Kamu benar-benar sudah gila, Aruna!"
Aruna melangkah keluar dari balik meja panggangan. Ia berdiri sejajar di samping Bara, menatap Adrian lurus-lurus tanpa rasa ragu.
"Aku tidak gila, Adrian," kata Aruna dengan kejelasan kata yang mutlak. "Di Jakarta, aku punya segalanya tapi aku tidak punya harga diri. Di sini, di atas gubuk tua ini, aku memang cuma jualan ikan bakar lima belas ribuan. Tapi setiap sen uang yang kuterima adalah uang jujur. Dan setiap orang di sini menghargaiku sebagai manusia, bukan sebagai alat pencetak uang."
Aruna menunjuk ke arah sedan hitam Adrian.
"Tinggalkan desa ini, Adrian. Jangan pernah datang lagi. Kalau kamu berani mengganggu warung ini atau mencoba memakai resep-resepku lagi di Jakarta, aku tidak akan segan-segan membawa bukti kecurangan transfer bank yang sempat kucatat sebelum aku pergi ke media kuliner."
Mata Adrian membelalak. Pria itu menyadari bahwa Aruna yang berdiri di hadapannya hari ini bukanlah Aruna yang lemah dan mudah dimanipulasi seperti dua minggu lalu. Perempuan di hadapannya telah ditempa oleh badai dan ditemukan kembali di atas tanah yang keras.
Dengan napas memburu dan wajah menahan murka, Adrian mundur perlahan menuju mobilnya.
"Kamu bakal menyesal, Aruna!" ancam Adrian sebelum masuk ke kabin Mercedes-nya. "Warung kecil ini gak bakal bertahan lama!"
Pintu mobil tertutup keras. Sedan hitam itu berputar arah dengan kasar, memuntahkan debu tanah tebal saat melaju kencang meninggalkan desa pesisir tersebut.
Debu jalanan perlahan menyapu tenang kembali disapu angin laut.
Aruna berdiri mematung di teras, menatap bekas jejak ban mobil Adrian di tanah. Tubuhnya mendadak terasa lemas saat ketegangan dari dalam dirinya mengendur.
Bara berbalik menatap Aruna. Pria itu tidak bertanya apa-apa tentang siapa Adrian, tidak mempertanyakan masa lalu Aruna yang megah di Jakarta, dan tidak meminta penjelasan apapun.
Bara hanya melangkah ke pancuran air samping teras, mencuci tangannya yang sempat menyentuh baju Adrian, lalu mengambil sebuah cangkir enamel berisi air hangat dan menyodorkannya pada Aruna.
"Minum dulu," kata Bara pelan.
Aruna menerima cangkir itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menyesap air hangat itu, merasakan kehangatan merambat ke dadanya.
"Dia mantan tunanganku," kata Aruna akhirnya, menatap permukaan air di cangkirnya. "Orang yang kuceritakan dulu... yang merebut restoranku."
"Saya tahu," sahut Bara singkat. Pria itu duduk di bangku kayu, mengambil pisau ukir kecilnya dan sepotong kayu sisa untuk mulai meraut santai. "Orang-orang seperti dia biasanya punya suara yang keras tapi pijakan kakinya rapuh."
Aruna menatap Bara, tertegun oleh kesederhanaan logika pria itu.
"Kamu tidak takut kalau dia bawa masalah ke warung ini?" tanya Aruna.
Bara menghentikan rautan pisaunya sejenak. Ia mendongak, menatap papan nama WARUNG BARA & GARAM di atas mereka, lalu menatap Aruna dengan mata cokelatnya yang kokoh bagai karang.
"Papan nama itu dipasang pakai paku paku lima inci dan pasak jati, Aruna," kata Bara mantap. "Badai semalam saja gak bisa merubuhkan atap ini, apalagi cuma gertakan orang berjas dari kota."
Bara melanjutkan rautannya. "Selama kamu mau tetap berdiri di sini dan masak ikanmu, gak ada satu orang pun yang bisa usir kamu."
Aruna menghembuskan napas panjang. Sebuah senyuman hangat dan murni kembali terukir di wajahnya. Rasa takut yang sempat membayanginya akibat kehadiran Adrian kini lenyap sepenuhnya, terkikis oleh keteguhan pria tukang kayu di hadapannya.
Matahari sore perlahan tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang indah di atas lautan pesisir. Di bawah naungan atap kayu yang kokoh, Aruna tahu bahwa masa lalunya telah benar-benar selesai—dan masa depannya baru saja dimulai di sini.