H-3 ujian, Dimas melontarkan ide yang, dalam sejarah kerajaan kami, masuk kategori "gila tapi harus dilakukan": begadang belajar bareng semalaman.
"Di rumah gue," kata Dimas. "Orang tua gue lagi keluar kota. Bawa buku, bawa camilan, bawa bantal. Kita gas sampai pagi."
"Itu namanya nginep, bukan belajar," kata Bayu skeptis.
"Belajar sambil nginep," koreksi Dimas. "Multitasking."
Maka di malam itu, sembilan anak berkumpul di ruang tamu rumah Dimas: empat bangku belakang, Arman, Fajar, Doni, ditambah Bagas dan Hendra yang ikut menyusul. Rendi datang belakangan, masih agak canggung membawa kantong soal latihan, tapi disambut dengan sorakan Reza yang membuatnya akhirnya rileks.
Niat awalnya mulia. Satu jam pertama berjalan luar biasa serius. Kami benar-benar belajar—aku menjelaskan, Arman membantu, yang lain mencatat. Lampu ruang tamu terang, buku terbuka, suasana fokus.
Lalu jam kedua datang, dan kerajaan pojok belakang kembali ke wujud aslinya.
Mulai dari Reza yang membuka camilan—bukan satu, tapi seluruh persediaan sekaligus. "Otak butuh bensin," katanya, mengulang kata-kataku, sambil membuka kerupuk, biskuit, dan entah berapa bungkus mie instan.
Lalu Dimas yang, saat menjelaskan rumus, malah menyelipkan cerita konyol soal guru-guru sampai kami terbahak sepuluh menit. Lalu Fajar yang menantang siapa yang bisa hapal urutan tahun sejarah paling cepat, yang berubah jadi kompetisi sengit dengan taruhan mie instan terakhir.
"INI BELAJAR APA MAIN?" teriak Bayu, tapi dia ikut tertawa.
"Ini namanya belajar gaya aliansi," kata Doni, mulutnya penuh.
Tengah malam, terjadi insiden klasik: Reza tertidur di atas buku sejarahnya, mendengkur keras, dengan halaman terbuka di bab Perang Dunia. Hendra menggambari wajahnya dengan spidol—kumis dan kacamata—dan kami semua menahan tawa agar dia tidak bangun. Saat Reza akhirnya terbangun dan melihat bayangannya di layar ponsel, teriakannya membangunkan tetangga.
Tapi di sela semua kekacauan itu, terjadi hal-hal yang tak terlupakan.
Sekitar jam dua pagi, saat sebagian sudah lelah dan suasana menenang, kami duduk melingkar di lantai. Lampu diredupkan. Dan untuk alasan yang tak seorang pun rencanakan, percakapan berubah jadi jujur.
"Gue takut nggak lulus," aku Reza pelan, tak ada lagi nada bercanda. "Beneran. Gue takut. Bokap gue udah capek-capek nyekolahin gue."
Tak ada yang menertawakannya. Arman yang menjawab pertama. "Lo bakal lulus, Za. Gue jamin. Kita semua bakal pastiin itu."
"Gue dulu mikir," kata Fajar, menatap langit-langit, "kalau lulus gue bakal seneng banget. Sekarang malah takut. Takut nggak ketemu kalian tiap hari lagi."
Hening. Karena itu ketakutan yang kami semua simpan tapi tak berani sebut.
"Makanya," kata Dimas, suaranya tidak seperti sutradara iseng kali ini, tapi seperti teman, "malam ini penting. Bukan cuma buat belajar. Ini salah satu malam terakhir kita bisa ngumpul lengkap kayak gini. Gue mau kita inget malam ini. Walau Reza-nya digambarin kumis."
Kami tertawa lagi, tapi tawa yang berbeda. Tawa yang tahu ini langka. Tawa yang ingin menyimpan setiap detiknya.
Menjelang subuh, anehnya, kami benar-benar belajar lagi—kali ini dengan kesungguhan yang lahir bukan dari paksaan, tapi dari kasih sayang. Kami saling menanyai, saling mengoreksi, saling memastikan tak ada yang tertinggal. Arman menjelaskan ekonomi pada Doni. Aku membantu Reza dengan matematika untuk kesekian kalinya, dan kali ini dia benar semua. Bayu memimpin sesi tanya jawab sejarah dengan percaya diri yang tak pernah dia punya setahun lalu.
Saat matahari mulai naik dan kami semua kelelahan, bertumpuk di ruang tamu seperti anak-anak kucing, Dimas mengambil ponselnya dan memotret. Sembilan anak berantakan, mata setengah terpejam, buku berserakan, bungkus camilan di mana-mana, dan wajah Reza yang masih ada sisa coretan spidol.
"Buat reuni sepuluh tahun lagi," kata Dimas, menatap foto itu. "Biar kita inget, malam sebelum ujian, kerajaan begadang bareng. Bukan ngeprank. Tapi saling jagain."
Aku menatap foto itu lewat bahunya. Sembilan anak yang dulu terbagi jadi musuh, rival, dan badut. Sekarang satu—lelah, konyol, dan saling memiliki.
Itu malam paling murni yang pernah kami punya. Dan kami semua tahu, tanpa perlu mengatakannya, bahwa malam seperti ini tak akan pernah terulang. Itulah yang membuatnya begitu berharga.