Pembalasan Fajar datang lebih cepat dari dugaan siapa pun.
Hari Jumat, dua hari setelah Operasi Lantai Biru, keempat penghuni bangku belakang masuk kelas dengan langkah penuh kemenangan. Mereka masih merasa seperti pahlawan. Itu kesalahan pertama mereka.
Reza, yang seperti biasa duduk paling pertama karena ingin segera membuka camilan, langsung menjatuhkan dirinya ke kursi.
Dan kursi itu, yang sebelumnya telah diolesi lem oleh seseorang, langsung menempel ke celananya.
"AH!" Reza melonjak, tapi kursinya ikut terangkat, menempel di belakang celananya seperti cangkang kura-kura.
Tawa pecah di seluruh kelas. Bukan tawa teman, tapi tawa anak-anak IPS 4 yang—entah bagaimana—sudah berkumpul di depan pintu kelas IPS 3, menunggu momen ini.
"Selamat pagi, pojok belakang!" seru Fajar dari ambang pintu, tersenyum lebar. "Suka kursinya? Khusus buat kalian."
Reza berusaha melepaskan kursi dari celananya dengan wajah memerah. Dimas berdiri, marah, tapi sebelum ia sempat bicara, Bayu menarik tasnya untuk meletakkannya di meja—dan dari dalam tas, meledaklah awan putih tepung terigu yang sudah dijejalkan seseorang di sana.
Bayu seketika berubah menjadi hantu. Putih dari kepala sampai kaki. Ia berkedip dua kali, dan dari wajahnya yang penuh tepung, hanya matanya yang terlihat.
Kelas meledak tawa lebih keras lagi.
"Itu baru permulaan," kata Fajar, melipat tangan. "Jangan pernah ngira kalian bisa ngerjain IPS 4 tanpa balasan. Kalian mungkin pinter, tapi kami lebih cepat."
Lalu, dengan kemenangan di wajahnya, Fajar dan gengnya berbalik dan kembali ke kelas mereka sendiri, meninggalkan empat penghuni pojok belakang dalam keadaan berantakan: Reza dengan kursi di celana, Bayu jadi manusia tepung, Dimas merah padam menahan amarah, dan Galih—Galih yang justru paling tenang—berdiri sambil mengamati semuanya.
"Mereka masuk kelas kita," kata Galih pelan.
"Aku tahu," geram Dimas. "Mereka bakal nyesel."
"Bukan itu maksudku." Galih menunjuk ke arah pintu, ke kunci pintu, ke jendela. "Mereka masuk kelas kita pagi-pagi sebelum kita datang. Berarti ada yang ngasih akses. Ada orang dalam."
Hening.
Empat orang—well, tiga orang dan satu manusia tepung—saling berpandangan.
"Pengkhianat," bisik Dimas.
Tapi sebelum penyelidikan internal dimulai, Bu Sari masuk dan langsung melihat pemandangan luar biasa: Reza yang berusaha menyembunyikan kursi di celananya, dan Bayu yang berdiri seperti patung salju.
"Apa," kata Bu Sari pelan, "yang terjadi di kelas ini?"
"Kecelakaan, Bu," jawab Dimas cepat. "Bayu... ehm... lagi bawa tepung buat tugas masak. Tumpah. Reza... duduknya kurang hati-hati."
Bu Sari menatap mereka lama. Ia tidak percaya satu kata pun. Tapi ia juga sudah terlalu lelah untuk menyelidiki kekacauan harian pojok belakang.
"Bersihkan. Sekarang. Dan kalau ini ada hubungannya sama lantai biru kelas sebelah yang sampai sekarang masih ada bekasnya, saya nggak mau tahu. Selesaikan sebelum jadi besar." Ia berbalik. "Saya kasih waktu sepuluh menit. Lewat dari itu, kalian bersihkan toilet seminggu."
Setelah Bu Sari keluar, keempatnya berkumpul. Bayu masih menebarkan tepung tiap kali bergerak.
"Ini udah perang beneran," kata Dimas. "Mereka berani masuk wilayah kita. Tapi ada yang lebih penting." Ia menatap satu per satu temannya. "Siapa yang ngasih akses ke mereka? Siapa yang buka kelas kita pagi-pagi?"
Galih berpikir. "Yang datang paling pagi di kelas ini, selain kita... cuma satu orang."
Tiga pasang mata mengikuti arah pandang Galih.
Ke barisan depan. Ke meja paling rapi. Ke Arman, yang sedang membaca buku dengan tenang, pura-pura tidak mendengar apa pun.
"Arman," desis Dimas.
"Tunggu," potong Galih. "Kita nggak punya bukti. Arman emang sebel sama kita, tapi dia ketua kelas. Dia nggak bakal kerja sama sama kelas lain buat ngerjain kelasnya sendiri. Itu nggak masuk akal."
"Atau," Dimas menyipitkan mata, "itu masuk akal banget. Dia benci kita. Apa lebih indah dari ngeliat kita dipermalukan tanpa dia harus turun tangan?"
Galih terdiam. Karena, harus diakui, itu memang masuk akal.
Dari barisan depan, Arman akhirnya menoleh. Ia melihat empat wajah yang menatapnya penuh curiga. Ekspresinya tidak bisa dibaca.
"Apa?" katanya datar. "Kenapa kalian liatin aku?"
Tidak ada yang menjawab. Tapi di pojok belakang, sebuah perang baru baru saja punya tersangka baru—dan kali ini, tersangkanya ada di dalam kelas sendiri.