Aliana melipat ulang kemeja yang baru saja dicoba pelanggan. Bagian kerahnya sedikit tertekuk, dan dia meratakannya dengan telapak tangan sebelum memasukkan kembali ke susunan warna yang sesuai.
Toko masih ramai pada Kamis sore. Dua rekannya melayani pembeli di dekat ruang ganti, sementara pemilik toko memeriksa barang masuk di meja belakang. Aliana sudah tiga kali hendak mendekat, tetapi selalu mundur ketika ada pelanggan memanggil.
Dia ingin meminta cuti.
Hanya dua hari, tetapi kalimat itu terasa jauh lebih berat daripada permintaan izin yang pernah diajukan untuk urusan lain.
"Ada yang mau dibicarakan?" tanya pemilik toko akhirnya.
Aliana menoleh. Rupanya gerak-geriknya sudah terlihat sejak tadi.
"Saya mau tanya soal jadwal minggu depan, Bu. Kalau boleh, saya ingin pulang menjenguk orang tua."
Wanita itu menutup buku stok. "Butuh berapa hari?"
"Sabtu dan Minggu. Saya usahakan sudah kembali sebelum jadwal masuk berikutnya."
Mereka memeriksa pembagian kerja. Akhir pekan adalah waktu sibuk, sehingga Aliana tidak bisa begitu saja meninggalkan bagiannya. Setelah membicarakan pertukaran giliran dengan rekan yang bersedia, permintaan itu disetujui.
"Pastikan pekerjaan sebelum berangkat selesai. Kalau ada perubahan perjalanan, kabari."
Aliana mengangguk cepat. "Iya, Bu. Terima kasih."
Rekan yang menukar giliran dengannya meminta satu bantuan: sebelum berangkat nanti, daftar barang yang biasa ditangani Aliana harus diperbarui. Ada beberapa pesanan pelanggan yang belum diambil dan perlu dicatat agar orang lain tidak menyerahkannya kepada pembeli berbeda.
Aliana menyanggupi. Dia mengambil buku kerja dan mulai menandai pesanan yang masih menunggu, lengkap dengan keterangan yang diperlukan. Pekerjaan itu sudah biasa dilakukan, tetapi kali ini dia membacanya lebih teliti.
Pergi selama dua hari pun ternyata tetap memerlukan penjelasan agar orang yang ditinggalkan tidak kebingungan. Pikiran itu datang tanpa diminta, membuat tangannya berhenti sebentar pada halaman buku.
Dia pernah pergi dari tempat yang jauh lebih penting dengan persiapan yang jauh lebih sedikit untuk orang lain. Sekarang dia tidak bisa mengubah cara kepergiannya dahulu. Yang bisa dilakukan adalah berhenti menjadikan kebingungan orang lain sebagai harga yang harus dibayar untuk keinginannya sendiri. Aliana melanjutkan catatan sampai seluruh pesanan yang belum diambil sudah tertulis.
Hanya beberapa menit. Persetujuan yang ditakutkannya ternyata tidak memerlukan penjelasan panjang atau air mata. Yang lebih sulit justru pertanyaan berikutnya: setelah bisa pulang, apakah dia benar-benar berani melakukannya?
Dia kembali melayani pembeli, membantu mencari ukuran celana dan membungkus pesanan. Sesekali wajah ayah muncul di kepala. Kursi roda. Suara Audya yang mengatakan sudah lama. Ada begitu banyak hal yang terjadi tanpa dia ketahui karena sengaja tidak bertanya.
Ketika toko tutup, Aliana menghitung uang simpanannya di kamar kos. Tidak banyak, tetapi cukup untuk perjalanan pulang dan kembali jika pengeluaran lain ditahan. Dia menuliskan kebutuhan di belakang struk belanja, lalu memisahkan uang sewa yang tidak boleh ikut dipakai.
Dulu dia membayangkan pulang dengan cara berbeda. Kendaraan bagus, pakaian yang membuat tetangga berhenti meremehkan, dan uang yang bisa diletakkan di tangan ibu tanpa dihitung dulu.
Setiap kali bayangan itu tidak tercapai, dia menunda.
Awalnya satu bulan. Kemudian menunggu gaji berikutnya. Lalu menunggu pekerjaan yang lebih baik. Lama-kelamaan, alasan untuk tidak menelepon bertambah sendiri sampai keheningan terasa lebih mudah dijaga daripada dipecahkan.
Aliana membuka lemari kecil. Ada satu blus yang belum sering dipakai. Dia mengeluarkannya, membayangkan mengenakannya ketika tiba di rumah. Setelah itu pandangannya jatuh pada tas yang warnanya mulai pudar.
Keinginan membeli tas baru muncul begitu cepat sampai dia sendiri merasa malu.
Bahkan sekarang, setelah mendengar keadaan ayah, masih ada bagian dirinya yang sibuk memikirkan penampilan saat pulang.
Aliana memasukkan kembali blus itu. Dia duduk di tepi kasur dan membuka foto yang dikirim Andira atas permintaan Dina. Foto Rudi di ruang tengah, ditemani Andira yang sedang menunjukkan buku. Tidak ada pesan panjang di bawahnya, hanya kabar bahwa ayah sudah makan.
Wajah ayah tampak lebih tua daripada yang terakhir diingat. Tentu saja. Tahun tidak berhenti hanya karena Aliana menghindar.
Dia memperbesar foto sampai bagian kursi roda memenuhi layar, lalu menurunkannya lagi. Ingatan tentang ayah yang dulu mengangkat karung beras untuk toko membuat tenggorokannya terasa sempit.
Ponsel hampir digunakan untuk menelepon ibu. Aliana berhenti karena belum memesan perjalanan. Dia sudah berjanji menelepon pada Minggu nanti. Kalau ingin mengatakan akan pulang, setidaknya dia perlu memastikan dapat menepatinya.
Pesan untuk Audya diketik dengan beberapa kali dihapus.
Sabtu minggu depan ibu ada rencana keluar rumah? Kakak sedang mengurus izin pulang.
Balasan tidak segera datang. Aliana baru ingat adiknya mengajar pada Kamis sore. Jadwal itu pernah disebut Dina dalam pesan singkat, dan dia berusaha mengingatnya agar tidak terus menghubungi ketika Audya bekerja.
Sambil menunggu, dia mencari pilihan perjalanan dan menghitung waktunya. Tidak memilih yang paling nyaman. Yang penting tiba pada jam yang memungkinkan keluarga menjemput tanpa harus keluar tengah malam.
Setelah menemukan pilihan yang sesuai, Aliana memesan perjalanan pulang dan kembali. Bukti pemesanannya disimpan, lalu dibaca ulang sampai yakin tanggalnya benar.
Kali ini uang benar-benar keluar untuk pulang, bukan untuk membeli sesuatu agar dirinya terlihat berhasil ketika pulang.
Audya membalas ketika malam mulai larut.
Sejauh ini tidak ada rencana. Kakak sudah pasti dapat izin?
Aliana mengirim jawaban beserta bukti perjalanan. Tidak lama kemudian, adiknya menelepon.
"Ibu sudah tahu?" tanya Audya.
"Belum. Kakak mau bilang waktu telepon Minggu. Sekalian sudah jelas semuanya."
"Jangan tunggu kalau berubah lagi. Langsung kabari."
Aliana mengangguk sebelum sadar dirinya sedang menelepon. "Iya."
Audya menanyakan waktu kedatangan, lalu mengatakan dia bisa mengusahakan menjemput karena hari itu tidak ada jadwal magang. Urusan kampus masih akan diperiksa terlebih dahulu.
Aliana meremas ujung sarung bantal. "Kalau kamu tidak bisa, kakak naik kendaraan sendiri dari terminal. Jangan tinggalkan urusanmu."
Di seberang terdengar jeda singkat. Mungkin Audya tidak menyangka kalimat itu akan keluar darinya.
"Nanti aku kabari."
Aliana ingin menanyakan apakah rumah masih memiliki tempat untuk dirinya. Namun pertanyaan itu terasa terlalu besar untuk dimasukkan setelah pembicaraan tentang terminal dan waktu tiba.
"Kamar yang dulu..." Dia berhenti.
"Barangnya sudah banyak dipindah. Nanti kita atur tempat tidur. Kakak kan cuma dua hari dulu?"
"Iya. Harus kembali kerja."
"Kalau begitu bilang juga ke ibu dari awal. Jangan sampai ibu mengira kakak pulang untuk menetap."
Aliana mengiyakan. Adiknya berbicara dengan praktis, kadang terdengar dingin, tetapi tidak menutup pintu. Untuk saat ini, dia tahu tidak berhak meminta sambutan yang lebih hangat.
Setelah panggilan berakhir, Aliana meletakkan tas pudar di dekat lemari. Dia mulai memasukkan pakaian secukupnya, lalu menambahkan uang perjalanan yang sudah dipisahkan.
Tidak ada hadiah mahal. Tidak ada keberhasilan yang bisa dipamerkan untuk membuat tahun-tahun kepergiannya tampak layak. Aliana hanya memiliki dua hari cuti, tiket, dan beberapa permintaan maaf yang harus diucapkan sambil menatap wajah orang yang ditinggalkannya.