Foto itu sudah dicetak.
Audya melihatnya di atas meja kecil ketika Naura mengajaknya masuk. Bingkai kertas dari acara sekolah berdiri dengan penyangga sederhana. Di tengahnya, mereka bertiga tersenyum dengan posisi yang sedikit miring karena Naura menarik tangan Audya tepat sebelum gambar diambil.
"Oma yang bantu pasang," jelas Naura.
"Bagus. Bunganya masih utuh semua."
Naura mengangguk bangga, lalu menunjukkan satu sudut yang diberi lem tambahan. Audya mendengarkan sambil menahan keinginan mengusap foto itu dengan ujung jari. Setelah kemarin merasa keberadaannya terlalu mudah dibicarakan, sambutan sederhana di rumah ini membuat hatinya kembali goyah.
Pelajaran dimulai seperti biasa. Audya meminta Naura memilih buku yang ingin dibaca, kemudian menyiapkan latihan angka. Kali ini tidak ada panggung atau pita yang mengalihkan perhatian. Mereka sempat menyelesaikan lebih banyak soal sebelum istirahat.
Naura masih salah pada beberapa bagian. Audya menahan diri agar tidak langsung memberi jawaban. Dia menunjuk benda yang dipakai menghitung dan membiarkan muridnya mencoba lagi.
"Oh, ini kebanyakan satu," gumam Naura.
"Iya. Coba sekarang dihitung lagi."
Ketika jawabannya benar, Naura mengangkat kedua tangan. Audya ikut tertawa. Selama beberapa menit, urusan kantor dan foto yang dilihat orang lain berhasil pergi dari kepalanya.
Argantara datang menjelang mereka selesai. Pria itu tidak menyela, hanya menyapa dari pintu lalu berbicara dengan Larasati di ruangan sebelah. Audya kembali pada buku meski kalimat yang sedang dibaca mendadak terasa lebih sulit.
Selesai belajar, Naura membawa kotak pensil untuk disimpan sendiri. Audya menuliskan catatan pertemuan dan merapikan tas. Dia berniat langsung berpamitan sebelum kembali memikirkan cara menatap Argantara tanpa terlihat aneh.
"Audya, ada waktu sebentar?"
Tentu saja rencana itu tidak berjalan.
Argantara berdiri dekat pintu menuju teras. "Kalau kamu sudah harus pulang, bisa lain kali."
Audya melihat jam, lalu menggeleng. "Masih bisa, Pak."
Mereka duduk di kursi teras. Dari dalam masih terdengar Naura meminta Larasati melihat sesuatu di bukunya. Udara sore terasa hangat, dan Audya tiba-tiba tidak tahu harus meletakkan kedua tangan di mana.
"Kemarin di kantor kamu kelihatan menghindar," ujar Argantara.
Audya menatap tali tas. Berbohong bahwa semuanya biasa saja sepertinya hanya akan membuat percakapan semakin canggung.
"Ada yang melihat foto saya di acara sekolah Naura, Pak. Lalu bertanya."
"Bertanya apa?"
Audya menceritakan secukupnya. Tentang pekerjaannya mengajar, tentang komentar yang menghubungkan kedekatan dengan keluarga Argantara dan perlakuan di kantor. Dia juga menjelaskan bahwa Mayang sudah mendengarkan dan mengingatkan pembagian tugas serta penilaian.
Wajah Argantara mengeras sedikit. "Komentar seperti itu mengganggu kamu?"
"Iya. Tapi saya sudah bicara sama mbak Mayang. Saya ingin urusan pekerjaan tetap ditangani lewat beliau."
Argantara mengangguk setelah diam sejenak. "Baik."
Jawaban itu membuat Audya lega. Dia tidak ingin besok datang dan mendapati satu ruangan dimarahi karena persoalan yang kemudian justru semakin dilekatkan pada dirinya.
"Saya juga jadi memikirkan posisi saya," lanjutnya. "Di kantor saya anak magang. Di sini saya mengajar Naura. Kadang saya bingung harus bersikap bagaimana supaya tidak keliru."
Kalimat terakhir hampir tidak terdengar. Audya takut pria di depannya mengira dia sedang membayangkan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dimaksudkan.
Argantara menyandarkan punggung, lalu menatap halaman sebentar sebelum kembali kepadanya.
"Kalau soal pekerjaan, kamu tidak perlu menebak-nebak. Penilaian magang tetap dari pekerjaan yang kamu lakukan. Mengajar Naura juga pekerjaan yang sudah kamu jalani dengan baik."
Audya mengangguk, menunggu. Ada jeda yang terlalu panjang untuk dianggap akhir percakapan.
"Kalau soal saya," sambung Argantara, "saya memang ingin mengenal kamu lebih dekat."
Audya tidak bergerak.
Suara Naura dari dalam rumah mendadak terasa jauh. Dia mendengar kalimat itu dengan jelas, tetapi tetap ingin meminta diulang. Barangkali otaknya sedang menambahkan arti yang tidak ada.
"Bapak serius?"
"Iya."
Tidak ada senyum menggoda yang bisa dipakai Audya untuk menganggapnya candaan. Argantara justru terlihat lebih hati-hati daripada ketika membicarakan laporan atau meminta sesuatu di kantor.
"Setelah magang kamu selesai, boleh saya mengajak kamu pergi? Makan atau mengobrol. Berdua, kalau kamu nyaman."
Audya menunduk. Jantungnya benar-benar tidak tahu diri. Selama ini dia sibuk menyuruh dirinya tidak berharap terlalu jauh. Sekarang orang yang menjadi alasan seluruh peringatan itu malah duduk di hadapannya dan membuka kemungkinan dengan begitu tenang.
"Tidak harus dijawab sekarang," ujar Argantara.
Pria itu memberi jeda, benar-benar menunggu tanpa kembali menyebut betapa dekat Naura dengannya. Audya menyadari bahwa jawaban ini miliknya sendiri. Dia tidak sedang diminta menyenangkan murid atau membalas kebaikan seseorang yang pernah membantu ayahnya.
Dia teringat percakapan di bangku sekolah, cara Argantara mendengarkan, dan tawa singkat saat mereka sama-sama gagal memasang pita dengan rapi. Hal-hal itulah yang membuatnya ingin datang lagi dalam keadaan berbeda. Rasa takut masih ada, tetapi keinginannya tidak lebih kecil. Untuk sekali ini Audya ingin mengatakannya sebelum kebiasaan merendahkan diri mengambil alih.
Audya menggeleng, lalu sadar gerakannya bisa diartikan sebagai penolakan.
"Bukan. Maksud saya... saya mau, Pak. Cuma saya kaget."
Sudut bibir Argantara bergerak. Senyum kecil itu membuat Audya semakin sulit merapikan kalimat.
"Tapi pelan-pelan, ya," tambahnya.
"Iya."
Audya menarik napas. Ternyata setelah mengatakan mau, ketakutannya tidak langsung hilang. Ada perbedaan hidup, keluarga yang masih membutuhkan perhatian, dan kuliah yang harus diselesaikan. Namun untuk sekali ini dia tidak ingin menggunakan semua itu sebagai alasan menolak sebelum mencoba mengenal seseorang.
"Untuk sekarang saya masih perlu fokus menyelesaikan magang. Saya enggak mau nanti yang saya kerjakan dianggap tidak ada artinya."
Argantara mengangguk. "Kita tunggu sampai selesai. Di kantor, jalani pekerjaanmu seperti biasa."
Tidak ada janji nilai bagus, pekerjaan tetap, atau kehidupan yang mendadak mudah. Justru karena itu, Audya bisa menerima ajakan tersebut tanpa merasa sedang menukar sesuatu yang selama ini diperjuangkannya.
Naura muncul di pintu sambil membawa buku. Dia menanyakan letak halaman yang akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya. Audya menjawab dengan suara yang masih sedikit goyah, lalu menunjukkan tanda kecil di sudut kertas.
Argantara berdiri untuk membantu putrinya menyimpan buku. Ketika Audya berpamitan, tidak ada ucapan yang membuat suasana berbeda di depan Naura. Hanya pesan agar berhati-hati di jalan.
Di halte, Audya duduk sambil memandangi kendaraan yang lewat. Dia memegang ponsel, sempat membuka percakapan dengan Liam, lalu menutupnya lagi. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu. Dia hanya belum terbiasa memiliki kabar yang ingin dipahami sendiri sebelum diceritakan kepada orang lain.
Ponselnya berdering beberapa saat kemudian. Nama Ibu muncul di layar.
"Kak, sudah di jalan? Ibu tadi bisa telepon sendiri."
Audya tertawa, rasa hangat di dadanya bertambah.
"Sudah, Bu. Sebentar lagi pulang."
Dia masih harus merevisi laporan, membantu toko, dan menghadapi hari kerja berikutnya. Semuanya tetap menunggu. Namun malam itu ada satu hal baru yang ikut dibawanya pulang: sebuah ajakan yang jelas, dan keberanian kecil untuk menjawab iya.