Audya sudah tersenyum ketika menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Mayang. Rekap yang sejak pagi dikerjakan akhirnya selesai sebelum jam makan siang. Tabelnya rapi, jumlahnya sudah dihitung ulang, dan semua berkas tersimpan pada tempat yang benar.
Setidaknya begitu yang dia pikirkan.
Mayang berhenti membaca pada halaman kedua.
"Yang tiga transaksi ini buktinya sudah masuk?"
"Belum, Mbak. Tapi nilainya sudah ada di daftar pengeluaran."
"Lalu kenapa di ringkasan kamu tulis semuanya sudah diperiksa?"
Senyum Audya perlahan hilang. Dia mendekat, melihat bagian yang ditunjuk. Kalimat itu berasal dari format yang dipakai sebelumnya. Audya sudah mengubah tanggal dan jumlah, tetapi lupa menyesuaikan keterangan di bawahnya.
"Aku belum ganti bagian itu, Mbak. Maaf."
Mayang membalik kembali halaman pertama. "Yang membaca ringkasan bisa mengira seluruh dokumennya lengkap. Padahal belum."
Audya mengangguk dengan tenggorokan kering. Dia tahu ini kesalahannya. Tidak ada yang bisa disalahkan selain dirinya yang terburu merasa sudah selesai.
"Pisahkan yang sudah cocok dan yang masih menunggu bukti. Totalnya boleh ditampilkan, tapi keterangannya harus jelas."
"Baik, Mbak. Aku perbaiki sekarang."
Belum sempat Audya mengambil kertas, Argantara masuk untuk menanyakan rekap yang sama. Tentu saja harus sekarang. Di antara semua waktu yang tersedia, kenapa pria itu datang saat dirinya baru saja ketahuan ceroboh?
Mayang menjelaskan bahwa ada keterangan yang perlu diperbaiki sebelum hasilnya diserahkan. Argantara melihat halaman di meja, lalu mengangguk.
"Pastikan yang belum lengkap terlihat jelas. Saya perlu mengetahui mana yang masih harus ditindaklanjuti."
"Baik, Pak," jawab Mayang.
Audya ikut mengangguk meski pertanyaan itu tidak langsung ditujukan kepadanya. Wajahnya terasa panas sampai telinga. Pujian karena menemukan pencatatan ganda beberapa hari lalu terasa jauh sekali.
Dia kembali ke meja dengan langkah cepat. Andin sempat menoleh saat kertas diletakkan, tetapi tidak berkata apa-apa. Audya justru berharap tidak ada yang memperhatikannya sama sekali.
Harapan itu bertahan sampai Andin berdiri untuk mengambil berkas di rak dekat mejanya.
"Rekapnya belum jadi, ya? Tadi katanya sudah."
Audya mengangkat kepala. Dia sulit menebak apakah itu pertanyaan biasa atau sindiran. Kalau sedang malu, semua suara memang mudah terdengar seperti mengejek.
"Ada keterangan yang harus aku perbaiki, Mbak."
"Kalau sudah, kabari. Aku perlu tahu berkas yang mana yang bisa dimasukkan ke arsip."
Andin kembali ke tempatnya sebelum Audya sempat menjawab lebih panjang. Audya menatap punggung wanita itu, lalu menunduk pada kertas. Ternyata tidak semua orang yang bertanya sedang menunggu kesempatan menjatuhkannya. Setidaknya pertanyaan barusan memang berhubungan dengan pekerjaan.
Selama beberapa menit dia hanya menatap layar. Bagian yang salah begitu kecil dibanding seluruh angka yang diperiksa. Namun justru kalimat pendek itu bisa membuat orang memahami hasil kerjanya secara keliru.
"Makanya dibaca semua, jangan cuma dilihat rapinya," gumam Audya pada diri sendiri.
Dia memperbaiki keterangan, memberi tanda pada data yang belum memiliki bukti lengkap, lalu memeriksa ulang dari awal. Kali ini bukan hanya angka. Judul, tanggal, catatan, semuanya dibaca pelan-pelan.
Di bagian bawah halaman, Audya menuliskan dokumen yang masih ditunggu dan dari bagian mana harus diminta. Dia membandingkannya dengan daftar kemarin agar tidak menanyakan berkas yang sebenarnya sudah masuk. Setelah itu barulah dia memberi nama berbeda pada hasil perbaikan, sesuai cara penyimpanan yang diajarkan Mayang.
Pekerjaan tambahan itu membuat waktu makan siangnya mundur. Audya tidak menyukainya, tetapi tidak ada gunanya mengeluh. Lebih baik menemukan kekeliruan di mejanya sekarang daripada membiarkannya berpindah ke tangan orang lain dengan keterangan yang masih menyesatkan.
Ketika Mayang menghampiri, Audya baru selesai mencocokkan halaman terakhir.
"Sudah?"
"Sudah diperbaiki, Mbak. Tapi tolong dilihat lagi. Aku takut masih ada yang lewat."
Mayang menarik kursi kosong. Mereka memeriksa bersama, dan Audya menjelaskan bagian yang berubah. Setelah selesai, Mayang meminta berkasnya dikirim agar bisa diteruskan.
"Besok-besok jangan menunggu mbak yang menemukan keterangan seperti ini, ya."
"Iya, Mbak."
Tidak ada tambahan pujian untuk menutupi teguran. Audya merasa kecil, tetapi dia juga tidak bisa meminta diperlakukan seperti anak yang harus selalu ditenangkan. Dia ingin dipercaya bekerja. Berarti harus sanggup menerima ketika hasilnya belum benar.
Jam istirahat sudah berjalan setengah ketika Audya menuju kantin. Piring yang biasanya cepat kosong kali ini lama sekali dihabiskan. Dia menyendok nasi sambil mengingat wajah Argantara tadi.
Apa pria itu sekarang menganggapnya tidak teliti? Apa Mayang menyesal pernah membanggakannya?
Pikiran itu berputar sampai Audya kesal sendiri. Tidak semua orang menghabiskan waktu memikirkan satu kesalahannya. Barangkali bos besarnya sekarang sudah membahas hal lain yang lebih penting.
Ponsel bergetar. Dosen pembimbing mengirim pembagian waktu bimbingan Sabtu. Kelompok Audya mendapat giliran mulai pukul sembilan. Setiap mahasiswa harus siap menjelaskan kegiatan yang benar-benar dikerjakannya, bukan sekadar menyerahkan laporan.
Audya menghela napas. Baiklah. Sepertinya minggu ini memang giliran dirinya belajar bahwa mengerti pekerjaan dan bisa menjelaskannya adalah dua hal berbeda.
Dia mencatat kejadian pagi tadi pada halaman pribadi untuk bahan belajar. Tidak mencantumkan data kantor. Hanya apa yang keliru dan bagaimana dia membetulkannya. Mungkin cerita kegagalan kecil itu lebih berguna daripada lima paragraf yang berusaha membuat dirinya tampak sempurna.
Sore harinya, Audya sedang menunggu lift ketika Argantara datang. Kali ini rasa gugupnya bercampur keinginan untuk pura-pura melihat dinding.
"Sudah pulang?"
"Iya, Pak."
Pintu lift terbuka. Mereka masuk bersama dua karyawan lain yang turun lebih dahulu di lantai bawah. Setelah tinggal berdua, Audya malah semakin sulit mengatur ekspresi.
"Tentang rekap tadi, saya minta maaf, Pak. Keterangannya sudah saya perbaiki lewat mbak Mayang."
Argantara menoleh. "Saya sudah terima perbaikannya."
"Saya terlalu cepat menganggap selesai."
"Lain kali periksa ringkasannya juga. Bagian itu yang biasanya dibaca pertama."
Audya mengangguk. Tegurannya tenang, tetapi tetap membuatnya ingin mengecil. Kenapa saat mengajar Naura pria itu bisa membuatnya nyaman, sedangkan di kantor satu kalimat saja cukup untuk membuat lidahnya kaku?
Lift tiba di lantai dasar. Audya memberi jalan, tetapi Argantara berhenti sebentar di samping pintu.
"Kamu sudah tahu bagian yang salah. Jangan dibawa sampai tidak bisa mengerjakan yang lain."
Audya mendongak. Pria itu tidak tersenyum lebar atau menawarkan pembelaan. Hanya mengatakan sesuatu yang sejak siang belum berhasil Audya lakukan sendiri.
"Baik, Pak."
Mereka berpisah di lobi. Audya menuju halte sambil memeriksa pesan dari rumah. Dina menanyakan apakah dia mau makan sayur yang masih tersisa. Audya menjawab mau, bahkan meminta agar tidak dihabiskan dulu.
Perutnya mendadak terasa lapar lagi. Ternyata nasi yang tadi dimakan sambil memikirkan kesalahan tidak terlalu berhasil mengenyangkan.
Di rumah, dia benar-benar makan sebelum membuka laptop. Setelah itu barulah catatan bimbingan disiapkan. Pada bagian pengalaman yang akan dijelaskan, Audya menambahkan satu baris tentang pentingnya keterangan yang sesuai dengan keadaan dokumen.
Dia masih malu. Mungkin besok juga masih. Namun setidaknya rasa malu itu sekarang menghasilkan sesuatu selain keinginan untuk bersembunyi di bawah meja.