"Lu beneran bawa laptop?"
Audya menatap Liam yang baru meletakkan minuman di meja kantin kampus. Hari Sabtu membuat tempat itu lebih lengang daripada biasanya. Beberapa mahasiswa tetap datang untuk mengurus tugas dan menemui dosen, termasuk Audya.
"Kan gua sudah bilang mau ngerjain laporan. Lu sendiri yang bilang sekalian ketemu di sini."
Liam menarik kursi di hadapannya. "Gua kira habis itu kita bisa pergi makan."
"Gua belum tahu selesai jam berapa."
Dulu, mungkin Audya sudah menutup laptop begitu mendengar ajakan itu. Tugas bisa dikerjakan malam. Tidur bisa dikurangi. Kesempatan bersama Liam rasanya terlalu sayang dilewatkan. Sekarang dia teringat jadwal di rumah dan janji pada dirinya untuk tidak mengerjakan semuanya ketika sudah kelelahan.
Audya menunjuk kursi kosong di sebelahnya. "Kalau mau bantu baca, boleh."
Liam memutar kursinya dan duduk lebih dekat agar bisa melihat layar. Selama beberapa menit mereka benar-benar membahas laporan. Liam menunjukkan kalimat yang terlalu panjang, sedangkan Audya memintanya tidak mengubah istilah yang sudah diperiksa Mayang.
"Wah, sekarang galak," goda Liam.
"Dari dulu. Lu saja yang jarang kena."
Liam tertawa. Audya ikut tersenyum, lalu kembali mengetik. Ternyata masih ada bagian dari kebersamaan mereka yang terasa akrab. Dia tidak harus membuang seluruh persahabatan hanya karena sedang kecewa.
Setelah satu bagian selesai, Audya mengistirahatkan mata. Liam mendorong gelas yang tadi dibelinya ke dekat tangan Audya.
"Teh dingin. Enggak terlalu manis."
"Makasih. Berapa?"
"Gua yang beli. Masa satu gelas saja dihitung."
Audya mengangguk dan meneguknya. Dia tidak ingin semua kebaikan Liam mendadak menjadi sesuatu yang harus ditolak. Yang perlu diubah adalah harapannya sendiri, meski sampai sekarang masih sulit menentukan bagian mana yang benar-benar sudah berubah.
"Lu sering ketemu bang Arga?" tanya Liam.
Sedotan berhenti di bibir Audya. "Di kantor, ya kadang. Di rumahnya kalau beliau sudah pulang waktu gua ngajar. Kenapa?"
"Enggak. Waktu di mal itu kelihatan sudah akrab."
"Sama Naura. Kalau sama pak Argantara, gua masih takut salah ngomong."
Liam menyandarkan punggung. Ada sesuatu pada wajahnya yang membuat Audya menunggu kalimat berikutnya. Namun pria itu justru memainkan bungkus sedotan di meja.
"Lu enggak pernah cerita kalau Naura anaknya bos gua," ujar Audya.
"Gua kira lu bakal tahu sendiri. Nama keluarganya kan sudah kelihatan."
"Terima kasih sudah menganggap gua sepintar itu."
Liam terkekeh, kemudian mengakui bahwa dia memang tidak menjelaskan dengan lengkap. Waktu memberi alamat, pikirannya hanya tertuju pada kebutuhan guru untuk Naura dan keinginan Audya mencari tambahan penghasilan.
"Naura senang banget sama lu. Biasanya susah disuruh duduk belajar."
"Kalau bosan masih susah juga. Gua yang harus cari cara."
"Bang Arga juga kelihatan lebih santai kalau sama lu."
Audya menatapnya. "Lu baru lihat sebentar di mal."
"Gua kan sudah kenal dia lama."
Kalimat itu membuat Audya ingin bertanya lebih jauh. Tentang keluarga Argantara, tentang istrinya, tentang pria yang wajahnya semakin sering muncul tanpa diundang. Namun dia teringat foto di atas meja dan memilih menahan rasa penasaran.
Kalau suatu hari Argantara ingin bercerita, dia bisa mendengarkan langsung. Tidak perlu mengumpulkan potongan kehidupan pria itu lewat orang lain.
Ponsel Liam bergetar. Nama Clara terlihat sekilas sebelum layar dibalik. Audya menunduk pada laptop, memberi kesempatan jika temannya ingin menjawab.
"Angkat saja."
"Nanti. Gua sudah bilang lagi ketemu lu."
Audya tidak tahu harus memberi tanggapan apa. Hal kecil seperti itu dulu mungkin membuatnya bahagia sepanjang hari. Sekarang yang terasa justru lega karena dia tidak harus kembali menjadi orang yang ditinggal tanpa penjelasan.
"Gua bukan minta lu selalu memilih gua, Li," katanya pelan. "Kalau ada urusan, ya bilang. Jangan mendadak hilang terus muncul seolah enggak ada apa-apa."
Liam mengangguk. "Gua paham. Gua lagi coba benerin."
Mereka kembali membaca laporan sampai hampir tengah hari. Ketika Liam menawarkan makan di luar kampus, Audya melihat jam lalu menggeleng. Dia ingin pulang sebelum Dina menyiapkan makan siang sendiri.
"Gua juga nanti balik ke kos," kata Liam sambil menutup mapnya. "Ada kerjaan yang belum gua bereskan."
"Kirain lu selalu santai."
"Di depan lu saja. Masa setiap ketemu gua harus kelihatan sengsara?"
Audya tertawa. Liam menunjukkan beberapa catatan yang harus dirapikan sebelum Senin. Ada bagian yang dicoret karena keliru, lengkap dengan komentar dari pembimbingnya. Melihat itu, Audya merasa sedikit terhibur. Ternyata bukan hanya dirinya yang pulang membawa pekerjaan dan koreksi.
"Nanti kalau gua mentok, boleh tanya lu?" pinta Liam.
"Boleh. Tapi kalau gua belum balas, jangan langsung telepon berkali-kali."
"Siap, Bu Audya."
Audya menyikut lengannya pelan. Kali ini godaan itu terdengar seperti dulu, tanpa membuatnya lupa bahwa waktunya tetap harus dibagi.
"Di sini saja kalau lu belum makan. Gua masih sempat."
Liam menurut. Mereka memesan makanan sederhana dan membicarakan magang masing-masing. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Clara tidak menjadi pusat seluruh percakapan. Audya bisa menceritakan pekerjaannya tanpa harus menunggu celah di antara kisah pendekatan Liam.
Saat berpisah, Liam menawarkan tumpangan. Audya menerimanya sampai halte dekat rumah karena jalurnya masih searah dengan tujuan Liam berikutnya. Dia turun setelah mengucapkan terima kasih, membawa laptop yang pekerjaannya sudah jauh berkurang.
Di rumah, Andira sedang menjaga toko sambil mengerjakan soal. Dina berada di dapur. Audya meletakkan tas dan langsung membantu memotong sayur tanpa diminta.
"Laporannya sudah selesai?" tanya Dina.
"Tinggal sedikit. Lumayan tadi dibantu baca sama Liam."
Dina melirik sebentar, tetapi tidak bertanya soal perasaan. Audya bersyukur. Ada hal yang belum bisa dijelaskan bahkan kepada dirinya sendiri.
Sore harinya, pesan dari Argantara masuk ketika Audya memeriksa jadwal bimbingan pekan depan. Isinya foto Naura memegang surat kegiatan sekolah dengan kedua jempol terangkat.
Di bawah foto itu ada satu kalimat.
Kemarin saya sudah memastikan bisa datang. Sekarang Naura menagih jawaban kamu.
Audya tersenyum. Dia membuka jadwal sekali lagi sebelum membalas. Sabtu pekan depan ada bimbingan kelompok pada pagi hari. Waktunya berdekatan dengan kegiatan sekolah Naura, sehingga dia belum bisa memastikan hadir sejak awal.
Balasan Argantara datang beberapa menit kemudian.
Utamakan bimbingan kamu. Kalau waktunya memungkinkan, kabari. Tidak perlu terburu-buru.
Audya membacanya sambil menyandarkan kepala pada dinding. Dadanya terasa hangat karena tidak perlu menjelaskan panjang lebar mengapa kuliahnya juga penting.
Di tempat lain, Argantara meletakkan ponsel setelah menunjukkan foto yang sudah terkirim kepada Naura. Putrinya kembali sibuk berlatih gerakan lagu di depan Larasati.
"Sudah diberi tahu Audya?" tanya Larasati.
"Sudah. Dia ada urusan kampus. Belum tentu bisa."
Larasati mengangguk dan kembali memperhatikan cucunya. Argantara tetap duduk dengan ponsel di tangan, meski tidak ada lagi yang perlu disampaikan.
Beberapa saat kemudian, dia membuka percakapan itu lagi. Kali ini dia mengetik pertanyaan tentang laporan magang yang sempat dibahas Mayang, lalu berhenti sebelum mengirimnya.
Laporan itu bisa ditanyakan hari Senin. Argantara tahu benar. Yang sulit diakuinya, sore ini dia hanya ingin percakapan mereka berlangsung sedikit lebih lama.