Naura menyambut Audya dengan membawa amplop dari sekolah. Belum sempat Audya meletakkan tas, gadis kecil itu sudah menarik tangannya menuju meja belajar.
"Kakak baca. Ini buat papa."
Audya menerima amplop yang sudah terbuka. Di dalamnya ada pemberitahuan kegiatan keluarga pada Sabtu pekan depan. Anak-anak akan memperlihatkan hasil kegiatan mereka di kelas, lalu mengikuti permainan bersama orang tua atau pendamping.
"Wah, nanti Naura tampil?"
"Nyanyi. Tapi enggak sendiri. Sama teman-teman."
Naura langsung mencontohkan beberapa gerakan. Audya menahan tawa ketika bagian lagu yang terlupa diganti gumaman tanpa kata. Yang penting tangannya tetap bergerak dan wajahnya percaya diri.
"Papanya sudah dikasih tahu?"
"Belum. Kemarin papa pulang waktu Nau tidur."
Audya mengembalikan surat ke amplop. "Nanti diberikan, ya. Sekarang kita belajar dulu."
Pelajaran sore itu dimulai lebih lambat karena Naura masih bersemangat membicarakan acara sekolah. Audya akhirnya memakai gambar di surat sebagai bahan berhitung. Jumlah balon, jumlah anak, lalu jumlah bendera kecil di bagian atas.
Naura mengikuti dengan antusias. Setelah beberapa soal, dia sendiri yang meminta buku latihan dibuka. Audya tersenyum puas. Ternyata bukan harus selalu membuat anak diam. Kadang cukup mengikuti hal yang sedang memenuhi kepalanya, lalu mencari jalan masuk dari sana.
Larasati datang membawa sepiring potongan buah ketika mereka sedang beristirahat. Naura langsung menunjukkan surat yang tadi diberikan kepada Audya.
"Papa bisa datang, kan, Oma?"
"Nanti tanya papa dulu. Oma belum tahu jadwalnya."
"Kalau kakak bisa?"
Audya yang sedang mengambil semangka menghentikan tangannya. "Kakak?"
"Iya. Lihat Nau nyanyi."
Undangan mendadak itu membuat Audya melirik Larasati. Wanita tersebut tersenyum, tetapi tidak langsung menyuruhnya mengiyakan.
"Kakak juga punya kegiatan, Naura. Ditanya dulu, bukan dipaksa."
Audya bersyukur ada yang membantu. Dia belum tahu jadwal kampus pekan depan, apalagi urusan di rumah. Namun menolak wajah penuh harap itu juga tidak gampang.
"Kakak lihat jadwal dulu, ya. Nanti dikabari. Tapi Naura tetap latihan meski kakak belum bisa janji."
Naura tampak kurang puas, lalu mengangguk setelah Larasati mengingatkan buahnya belum dimakan. Audya menarik napas lega. Satu janji yang dibuat sembarangan bisa membuat anak itu menunggu. Dia tidak mau memberikan harapan hanya supaya percakapan cepat selesai.
Setelah istirahat, mereka berpindah ke ruang dalam karena angin mulai membawa gerimis. Naura mencari pensil warna yang tertinggal di rak. Audya membantu memindahkan buku dan baru menyadari sebuah bingkai foto berada di sisi meja.
Seorang perempuan tersenyum sambil memangku Naura yang masih bayi. Di sampingnya berdiri Argantara dengan wajah yang terlihat lebih muda.
"Itu mama," ujar Naura, mengikuti pandangannya.
Audya meletakkan buku perlahan. "Mama Naura cantik."
"Oma bilang Nau mirip mama kalau tidur. Tapi papa bilang hidung Nau mirip papa."
"Bisa dua-duanya."
Naura mendekat, lalu menunjuk pita kecil pada kepala bayi di foto. Ceritanya melompat dari pita ke gaun, kemudian ke keterangan yang pernah didengarnya dari oma. Audya mendengarkan tanpa bertanya kapan atau bagaimana perempuan itu meninggal.
Ada hal yang tidak perlu dicari hanya karena sedang diberi kesempatan melihatnya.
"Kalau Nau nyanyi, mama tahu enggak?"
Audya terdiam. Pertanyaan itu jauh lebih sulit daripada penjumlahan di buku mereka. Dia tidak ingin menjawab asal hanya supaya Naura tersenyum.
"Kakak enggak tahu bagaimana menjelaskannya, Nau. Tapi Naura boleh cerita tentang mama kapan saja. Sama papa, oma, atau kakak."
Naura mengusap bingkai dengan ujung jari. "Nanti Nau mau tunjukkan lagu sama papa dulu."
"Boleh. Sekarang pensil warnanya sudah ketemu?"
Naura mengangkat kotak yang ternyata sedari tadi sudah digenggam. Audya tertawa kecil. Mereka kembali duduk, dan percakapan beralih pada warna atap rumah yang sedang digambar.
Ketika Naura pergi mencuci tangan, Larasati membantu mengangkat piring buah. Audya segera berdiri untuk membawa gelas, tetapi wanita itu memintanya tetap duduk.
"Kamu tadi belum makan buahnya. Dari datang sibuk terus."
Audya baru menyadari potongan semangka yang diambilnya masih terletak utuh. Dia memakannya sambil mendengarkan Larasati bercerita bahwa Naura beberapa kali mencari buku sendiri tanpa disuruh.
"Belum lama belajarnya, tapi sudah mau mencoba. Saya senang."
"Kadang masih harus dibujuk, Bu."
"Ya tidak apa-apa. Orang dewasa juga begitu."
Audya tertawa pelan. Dia jadi teringat laporan kuliahnya yang berkali-kali ditutup karena malas. Ternyata dirinya dan Naura tidak terlalu berbeda. Hanya saja Audya sudah terlalu besar untuk meminta dipuji setiap berhasil menyelesaikan satu halaman.
Argantara pulang ketika Audya selesai menutup buku. Rambut di dekat pelipisnya sedikit basah. Naura berlari menyambut sambil membawa amplop, hampir menabrak meja kecil di dekat pintu.
"Pelan-pelan," tegur Argantara sambil menahan bahunya.
"Papa harus baca sekarang."
Argantara menerima surat dan membacanya sampai selesai. Audya sibuk memasukkan alat tulis, berusaha tidak tampak sedang menunggu jawaban juga.
"Sabtu depan," gumam pria itu.
"Papa datang?"
"Papa periksa jadwal malam ini. Besok papa kasih tahu."
Naura membuka mulut hendak protes. Argantara berjongkok sebelum putrinya sempat merajuk lebih jauh.
"Papa enggak mau bilang iya kalau belum pasti. Besok kita bicara lagi."
Naura mengangguk dengan wajah kurang rela. Namun setelah diminta menunjukkan gerakan lagunya, perhatian gadis kecil itu segera berpindah.
Audya menunggu sampai penampilan singkat selesai, lalu berpamitan. Gerimis masih turun, meski tidak deras. Dia membuka tas untuk mencari payung lipat yang biasa dibawa.
Kosong.
Audya baru teringat payungnya dipinjam Dina pagi tadi. Bagus sekali. Benda yang selalu membuat tas terasa penuh justru tidak ada saat dibutuhkan.
"Tunggu sebentar," ujar Argantara.
Pria itu kembali dengan payung berwarna gelap. Audya menerima setelah diyakinkan bahwa ada payung lain di rumah tersebut.
"Kamis depan saya kembalikan, Pak."
"Senin juga kamu datang, kan?"
"Eh, iya. Senin."
Audya ingin menepuk kening. Jadwal sendiri saja mendadak lupa. Untung bukan jadwal mengajar yang tadi dia tulis salah.
Argantara berjalan bersamanya sampai ujung teras. "Tadi Naura cerita soal foto?"
Audya menoleh. "Sedikit, Pak. Maaf kalau saya—"
"Tidak perlu minta maaf. Saya dengar waktu masuk."
Audya menunggu. Argantara memandang ruang dalam, tempat Naura sedang berbicara dengan Larasati.
"Kadang orang langsung mengganti pembicaraan kalau dia menyebut mamanya. Saya tahu maksudnya baik. Tapi dia jadi mengira tidak boleh bertanya."
"Saya tadi juga bingung harus menjawab apa."
"Terima kasih sudah mendengarkan."
Audya mengangguk pelan. Kali ini, pujian itu tidak membuatnya ingin tersenyum lebar. Ada sesuatu yang lebih tenang dan lebih berat daripada sekadar merasa diperhatikan pria tampan.
Dia membuka payung, memastikan ujungnya tidak mengenai tanaman di dekat teras. Sebelum melangkah, Audya menoleh sekali lagi.
"Semoga bapak bisa datang ke acara Naura. Dia semangat sekali."
Argantara mengangguk. "Saya juga ingin datang."
Di perjalanan menuju halte, Audya memegang gagang payung erat. Untuk pertama kalinya, yang terus terbayang bukan wajah Argantara di balik meja besar. Melainkan pria yang berjongkok agar bisa berbicara sejajar dengan anaknya, lalu mengakui bahwa ada sesuatu yang sungguh ingin dilakukannya.