Andira menggeser buku kecil di depannya. Ujung pulpen meninggalkan titik hitam yang semakin lebar karena terlalu lama ditekan. Audya menunggu, sementara Dina menarik piring makanan agar tidak tersenggol siku putri bungsunya.
"Aku bilang ayah punya usaha," ujar Andira akhirnya.
Audya menatap toko yang terlihat dari ruang tengah. "Kita memang punya usaha."
"Bukan toko ini."
Tidak ada yang langsung menyahut. Andira menunduk semakin dalam, lalu bercerita dengan suara nyaris tidak terdengar. Kepada teman-temannya, dia mengatakan ayahnya memasok barang ke beberapa toko. Ibunya hanya di rumah. Kakaknya kuliah di kampus bagus karena keluarga mereka mampu membayar, bukan karena mendapat beasiswa.
Audya mengembuskan napas perlahan. Bahkan kerja kerasnya memperoleh beasiswa harus dihilangkan supaya cerita Andira terdengar lebih menyenangkan.
"Ayah sakit juga kamu enggak bilang?"
Andira menggeleng.
"Kalau ditanya kenapa enggak pernah diantar?"
"Aku bilang ayah sering keluar kota."
Dina menoleh pada suaminya. Rudi diam di kursi roda, tetapi matanya tidak berpindah dari Andira. Audya berharap adiknya melihat wajah itu. Namun Andira justru terus memandangi buku, seolah angka yang belum ditulis jauh lebih mudah dihadapi.
"Kamu malu sama ayah?" tanya Dina.
"Bukan begitu."
"Terus bagaimana?"
Andira mengusap pipinya dengan punggung tangan. "Awalnya cuma satu orang tanya. Aku jawab asal. Setelah itu mereka percaya. Kalau aku bilang yang sebenarnya, nanti dikira selama ini aku bohong."
Audya hampir tertawa karena kesal. Memang itu yang terjadi. Namun wajah adiknya membuat kalimat tajam yang sudah sampai di ujung lidah ditelan kembali.
"Memangnya sekarang kamu enggak bohong?" tanyanya lebih pelan.
Andira tidak menjawab.
Dina menarik buku ke tengah meja. "Uang yang kemarin, sekarang tulis dulu. Satu-satu yang kamu ingat."
"Katanya besok."
"Kalau masih ada yang kurang, besok dilanjutkan. Sekarang kita sudah duduk di sini."
Audya menatap ibunya sebentar. Biasanya Dina akan mengakhiri pembicaraan begitu salah satu anaknya menangis. Malam ini tangannya tetap berada di dekat buku, menunggu Andira mengambil kembali pulpen.
Perlahan daftar itu terisi. Pakaian dan sepatu sembilan ratus ribu. Bagian perjalanan bersama teman satu juta dua ratus ribu. Kosmetik empat ratus lima puluh ribu. Sisanya untuk makan, kendaraan, dan beberapa pengeluaran kecil selama tidak di rumah.
"Yang kecil itu berapa?" tanya Audya.
"Enggak ingat satu-satu."
"Coba lihat catatan pembayaran di ponsel. Yang tunai tulis yang kamu ingat saja. Jangan bikin angka supaya pas."
Andira mengambil ponselnya dengan gerakan enggan. Mereka menunggu sementara dia membuka riwayat pembayaran dan percakapan dengan teman. Audya menahan diri untuk tidak merebutnya. Dia perlu penjelasan adiknya, bukan pertengkaran baru soal isi ponsel.
Setelah diperiksa, pengeluaran makan, kendaraan, dan kebutuhan lain berjumlah sekitar enam ratus ribu. Masih ada rincian yang hanya berdasarkan ingatan. Andira mengeluarkan dompet dari ransel, lalu menghitung uang yang tersisa.
Delapan ratus lima puluh ribu.
Audya memandangi lembaran di meja. Empat juta yang ibunya dapat dengan berutang berubah menjadi barang, perjalanan, dan uang sisa yang tidak sampai seperempatnya. Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar karena jumlahnya. Audya teringat dirinya menghitung ongkos supaya bisa sampai kantor dan tempat les tanpa meminta lagi.
"Boleh sebagian aku simpan?" tanya Andira.
"Untuk apa?" Dina balik bertanya.
"Pegangan saja."
"Ongkos kamu ibu siapkan terpisah. Uang ini disimpan dulu."
Andira mendorong lembaran uang itu dengan bibir terkatup. Dina merapikannya, lalu menuliskan jumlahnya pada bagian bawah halaman. Setelah itu buku dibiarkan terbuka agar semua bisa melihat.
"Ini uang kakak," ujar Dina.
Audya menggeleng. "Simpan dulu, Bu. Jangan dipakai sebelum kita bicarakan."
Dia belum ingin memutuskan sambil marah. Kalau langsung mengambil, Andira mungkin menganggap semua selesai setelah uang yang tersisa dikembalikan. Padahal bukan itu saja persoalannya.
"Teman-teman kamu yang menyuruh beli semua ini?" tanya Audya.
Andira terdiam sebelum menggeleng.
"Mereka enggak menyuruh. Aku yang bilang mau ikut. Waktu ada yang tanya cukup uangnya atau enggak, aku bilang cukup."
"Terus kenapa sampai pergi dari rumah?"
"Karena ibu enggak kasih. Aku sudah janji sama mereka."
Audya menunduk sebentar. Jadi sementara keluarganya kebingungan menghadapi kursi roda, rumah sakit, dan tagihan, Andira sibuk mempertahankan janji yang dibuat sendiri.
Suara Rudi menghentikan pembicaraan. Tidak jelas pada awalnya, sampai Dina mendekat dan meminta suaminya mengulangi. Pria itu mengangkat tangannya sedikit ke arah Andira.
"Sekolah."
Satu kata yang keluar dengan susah payah membuat Andira menangis lebih keras. Dia mengangguk, tetapi belum berani mendekat lagi.
"Iya, Yah. Besok sekolah."
Audya bangkit untuk mengambil tisu. Kemarahannya belum hilang. Melihat adiknya menangis tidak membuat malam-malam menjaga ayah terasa lebih mudah. Namun dia juga tidak sampai hati membiarkan Dina mengurus semuanya sendiri.
Makanan akhirnya disentuh setelah pembicaraan berhenti. Andira makan sedikit, lalu membawa piringnya ke dapur. Tidak ada yang menganggap gerakan kecil itu sebagai penebusan. Setidaknya malam ini dia tidak meninggalkan piring kotor untuk ibunya.
Ketika kembali, Andira membawa sekotak kosmetik yang kemasannya masih tertutup. Dia meletakkannya di sebelah buku dengan gerakan ragu.
"Yang ini belum dipakai. Bisa dibalikin, enggak?"
Audya memeriksa kotaknya tanpa membuka segel. "Tergantung tokonya. Bukti belinya masih ada?"
"Di ponsel."
"Besok coba tanya penjualnya. Jangan dianggap pasti bisa."
Andira mengangguk dan memindahkan kotak itu ke dekat tas sekolah. Audya sempat ingin mengatakan seharusnya hal seperti itu dipikirkan sebelum membeli. Namun kalimat tersebut tidak akan membuat keadaan lebih baik. Dia memilih meminta Andira menyimpan bukti pembayarannya supaya tidak tercecer.
Barang-barang lain belum dibahas. Ada yang sudah dipakai, ada yang ukurannya bahkan belum dicoba. Melihat semuanya, Audya semakin memahami bahwa adiknya membeli dalam keadaan ingin terlihat mampu. Pengetahuan itu membuatnya sedih, tetapi belum mengurangi rasa kecewa.
Setelah membantu ayah beristirahat, Audya kembali ke ruang tengah. Dina masih duduk di depan buku pengeluaran.
"Besok ibu berangkat sama dia. Kamu kerja saja," ujar Dina.
"Kalau dia menolak?"
"Ibu tetap ajak. Ini urusan ibu juga. Kamu kemarin sudah izin."
Audya duduk di sampingnya. Mendengar ibunya mengatakan itu membuat dadanya sedikit longgar. Ternyata selama ini dia menunggu ada yang mengatakan bahwa tidak semua urusan harus dibawanya sendiri.
"Bu Dewi bisa temani ayah lagi?"
"Ibu sudah tanya tadi. Sebentar saja, sampai ibu pulang."
Audya mengangguk. Dari arah kamar terdengar suara ritsleting tas. Tidak lama kemudian, Andira keluar membawa seragam yang kusut.
"Setrikanya di mana?"
Dina hampir berdiri. Audya menyentuh lengan ibunya pelan, lalu menunjuk lemari dekat dinding.
"Di sana. Alasnya juga."
Andira mengikuti arah telunjuknya. Untuk beberapa saat hanya terdengar bunyi barang digeser dan kaki meja dibuka. Audya memperhatikan dari tempat duduknya, siap menjawab kalau adiknya bertanya lagi, tetapi tidak mengambil alih.
Besok belum tentu berjalan baik. Andira mungkin kembali membantah. Teman-temannya mungkin bertanya hal yang membuatnya ingin kabur lagi. Namun malam ini, seragam sekolah itu akhirnya dikeluarkan dari tas.