Hari Minggu hampir habis ketika Liam menelepon. Audya sedang melipat pakaian di ruang tengah. Ponselnya diletakkan di samping tumpukan baju, sementara kedua tangannya tetap bekerja.
"Kemarin sampai rumah jam berapa?"
"Sore. Naura sudah ngantuk, jadi langsung pulang."
"Diantar bang Arga?"
"Iya."
Liam terdiam sebentar. "Maaf, ya. Gua malah pergi duluan lagi."
Audya berhenti melipat. Dulu kalimat itu pasti langsung dibalas dengan candaan agar Liam tidak merasa bersalah. Sekarang dia sedang lelah berpura-pura bahwa semuanya tidak masalah.
"Kalau memang ada perlu, bilang dari awal, Li. Gua bisa datang lain kali."
"Iya. Gua salah."
Jawaban tanpa pembelaan itu justru membuat Audya kehilangan kalimat berikutnya. Dia menarik celana panjang ayahnya dari tumpukan dan meratakan bagian yang kusut.
"Lu kemarin-kemarin kenapa menghilang?" tanyanya akhirnya.
Di seberang terdengar helaan napas. "Clara sempat bilang gua terlalu sering cerita soal lu. Gua pikir kalau gua kurangi ngobrol sama lu, dia bakal lebih nyaman."
Tangan Audya berhenti lagi. Jadi sesederhana itu alasannya. Persahabatan yang dia pikir cukup berarti ternyata bisa dikurangi tanpa pemberitahuan, hanya karena Liam sedang mengejar seseorang.
"Gua bukan nyalahin Clara," sambung Liam. "Dia enggak nyuruh gua berhenti temenan. Gua sendiri yang ambil keputusan."
"Tapi lu enggak merasa perlu kasih tahu gua?"
"Gua bingung ngomongnya."
Audya tertawa pendek. Tidak ada yang lucu sebenarnya. "Terus gua disuruh nebak sendiri? Gua sampai mikir sudah salah apa sama lu."
Liam meminta maaf lagi. Kali ini Audya menerimanya tanpa mengatakan semuanya sudah kembali seperti dulu. Dia belum tahu perasaannya sendiri. Ada lega karena pertanyaannya terjawab, tetapi ada bagian lain yang terasa semakin jauh.
"Gua lagi bantu ibu. Nanti sambung lagi, ya."
Setelah panggilan selesai, Audya melanjutkan pekerjaannya. Pakaian yang tadi dilipat miring dibuka kembali. Tidak semua yang berantakan bisa langsung rapi hanya dengan satu permintaan maaf.
Dia menyisihkan baju ibunya ke tumpukan terpisah. Biasanya setelah menelepon Liam, Audya masih menunggu pesan tambahan sampai larut. Malam ini dia ingin menyelesaikan tugas kuliah yang tertunda. Laptop dibuka setelah pakaian beres. Untuk sementara, suara ketikan lebih menenangkan daripada berulang kali memeriksa apakah Liam sedang memegang ponselnya atau tidak.
Pagi berikutnya, Audya datang ke kantor dengan kotak makan dan kepala yang masih sedikit penuh. Dia sengaja membuka daftar pekerjaan sebelum sempat memikirkan Liam lagi. Setidaknya angka di layar punya tempat yang jelas. Kalau tidak sesuai, bisa dicari sumber kesalahannya.
Mayang menghampiri setelah jam masuk.
"Dy, laporan pengeluaran yang kemarin kamu cocokkan, lanjutkan sampai periode ini, ya. Mbak perlu daftar yang belum lengkap sebelum pulang."
"Baik, Mbak. Yang bukti transaksinya belum ada, aku pisahkan?"
"Iya. Jangan diisi berdasarkan perkiraan. Tulis saja apa yang masih kurang."
Audya mencatat pesannya. Tugas itu sudah dia kenal, tetapi jumlah dokumen kali ini lebih banyak. Dia mulai dengan memeriksa tanggal dan nomor transaksi satu per satu. Beberapa salinan tampak sama, sehingga harus dibandingkan dengan catatan yang diberikan.
Baru setengah jam bekerja, setumpuk kertas diletakkan di sebelah tangannya.
"Sekalian punya gua. Nanti sebelum makan siang sudah jadi."
Audya mendongak dan mendapati Andin. Wanita itu sudah hendak berbalik ketika Audya memanggilnya.
"Mbak, ini mau dikerjakan yang bagian mana?"
"Dimasukkan ke tabel. Masa harus dijelaskan semuanya?"
"Aku sedang mengerjakan tugas mbak Mayang. Kalau yang ini harus sebelum siang, aku perlu tanya dulu mana yang didahulukan."
Andin menatapnya tajam. "Biasanya juga bisa. Sekarang sudah pilih-pilih?"
Audya menahan napas sebentar. Biasanya memang dia menerima. Biasanya juga waktu istirahat habis untuk mengerjakan tugas yang baru diketahuinya beberapa menit sebelumnya. Kemudian saat terlambat sedikit, dia tetap yang dimarahi.
"Bukan pilih-pilih, Mbak. Aku takut dua-duanya malah tidak selesai."
"Anak magang sekarang banyak alasannya."
Beberapa kepala mulai terangkat dari balik sekat. Audya merasakan telinganya panas. Godaan untuk membalas dengan kalimat pedas besar sekali. Namun dia tidak mau pekerjaannya berubah menjadi pertengkaran yang tidak jelas ujungnya.
"Aku tanyakan mbak Mayang dulu, ya."
Audya berdiri sambil membawa tumpukan tersebut. Langkahnya tidak setenang yang terlihat. Jantungnya malah terasa naik sampai tenggorokan. Bagaimana kalau Mayang menganggap dia terlalu banyak mengadu?
Untungnya, Mayang sedang tidak menerima telepon. Audya menjelaskan dua tugas yang dimilikinya dan waktu penyelesaian masing-masing. Dia tidak menambahkan cerita tentang sindiran Andin. Untuk kali ini, yang perlu dibereskan adalah urutan pekerjaannya.
Mayang memeriksa kertas paling atas, lalu memanggil Andin.
"Ini bukannya bagian yang kamu pegang?"
"Iya, Mbak. Saya minta bantu Audya saja."
"Dia sedang mengerjakan pencocokan untuk saya. Kalau butuh bantuan, bicarakan dulu. Jangan langsung memberikan tenggat yang berbenturan."
Andin mengambil kembali kertasnya dengan bibir mengeras. Audya menunduk sedikit ketika wanita itu lewat. Tidak ada rasa menang. Perutnya justru terasa kosong dan tidak nyaman.
"Kamu enggak salah bertanya," ujar Mayang setelah Andin pergi. "Kalau semuanya kamu terima, mbak juga enggak tahu kamu sedang mengerjakan apa saja."
Audya mengangguk. "Aku takut dianggap enggak mau membantu."
"Membantu boleh. Tapi pekerjaan utama kamu tetap harus jelas."
Kembali ke meja, Audya tidak mendengar sindiran lagi. Andin sibuk mengetik dengan suara tombol yang lebih keras dari biasanya. Audya memilih fokus pada layarnya sendiri.
Menjelang siang, dia menemukan dua nomor transaksi yang tercatat berulang. Jumlahnya sama, tanggalnya berdekatan, tetapi bukti yang tersedia hanya satu. Audya tidak langsung menghapus apa pun. Dia menandai kedua baris itu, menyimpan salinan kerja, lalu menuliskan pertanyaan di lembar pemeriksaan.
Mungkin hanya salinan yang masuk dua kali. Mungkin ada dokumen yang belum disertakan. Dia belum tahu. Justru karena belum tahu, dia tidak boleh asal membenarkan.
Saat istirahat, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal membuatnya sempat teringat kejadian dengan Argantara. Namun kalimat pembukanya jelas berbeda.
Selamat siang. Saya Sari, wali kelas Andira. Apakah benar ini nomor kakak Andira?
Audya meletakkan sendok. Dia membalas, lalu menerima panggilan beberapa saat kemudian. Suara di seberang menanyakan apakah Dina bisa datang ke sekolah besok pagi. Nomor orang tua yang tersimpan ternyata nomor Audya, dan sekolah ingin membicarakan kehadiran Andira.
"Andira sudah beberapa hari tidak masuk tanpa keterangan," jelas Bu Sari. "Kami perlu bicara langsung dengan keluarga."
Audya memejamkan mata. Alasan kegiatan sekolah yang dipakai Andira untuk meminta uang kembali terngiang.
"Baik, Bu. Saya sampaikan ke ibu."
Dia mencatat jam pertemuan dengan tangan yang mulai dingin. Setelah telepon ditutup, kotak makannya masih terbuka. Nasi yang baru dimakan beberapa suap mendadak sulit ditelan.
Namun kali ini Audya tidak langsung mengirim pesan penuh amarah pada adiknya. Dia membuka percakapan mereka dan mengetik satu pertanyaan.
Kamu sekarang di mana? Ibu perlu tahu kamu aman.
Pesan terkirim. Audya menatap layar sebentar, kemudian memaksa dirinya kembali makan. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan sore nanti ada Naura yang menunggunya.