Angelina
Suara bantingan pintu kulkas tidak lagi terdengar, semua ingatan terasa samar hingga akhirnya pulas tertidur. Namun seketika satu memori terbayang jelas, satu masa menjadi penyebab akhir tragis di rumah kosong. Sendiri.
Angelia menatap langit-langit kamar, semua orang memutuskan pergi dari rumah tanpa membawa barang berharga. Sisa Angelia ingin membuktikan bahwa ia mampu hidup sendiri tanpa keluarga.
Mengandalkan kelihaiannya dalam memasak, mengurus rumah, dan semua pekerjaan rumah tangga mampu ia kerjakan seorang diri. Sudah menjadi kegiatan penghilang penat. Semua seolah tidak peduli, begitupun Angelia sama besarnya tidak peduli dan bersih keras diam di rumah penuh kenangan.
Mungkin lupa atau memang terlalu keras kepala, Angelia tidak pernah berinteraksi dengan dunia luar karena fobia sosial dan panik berlebihan. Sebuah bumerang penentu masa depan.
Ada banyak tumpukan uang di berangkas akan tetapi tidak berguna. Keahlian tanpa pengalaman di luar rumah sama hal dengan mencari masalah dalam masalah. Isi kulkas sudah kosong melompong. Isi kebun sudah tidak ada lagi yang bisa dipanen. Gawai kosong melompong, tidak seorang pun bisa dihubungi. Harusnya nomor keluarga disimpannya, sungguh diluar renacana. Menyesal tiada arti, andai tidak egois dan keras kepala, merasa bisa segalanya tanpa siapa di sisi dengan kelemahan mental. Tentu sudah terlambat menyesal tidak berguna. Jangankan daya, upaya pun sia-sia. Angelia terlalu penakut, pengecut.
Gas masih ada, ini baru satu bulan, tapi makana sudah tidak ada. Angelia sibuk memasak sesuka hati tanpa memikirkan apa yang harus dilakukan seorang diri dengan mentalnya.
Lapar menggerogoti, sebuah jamur ajaib tumbuh subur di halaman belakang rumah. Namun tidak pernah disentuh karena larangan orang tua. Kini ia sendiri, maka tidak masalah jika harus memasaknya.
Dengan penuh semangat memotong, meracik bumbu, dan memasaknya. Lahap masuk hingga tandas ke dalam perut. Tidak berapa lama Angelia mulai merasa lapar lagi, lemas dan tidak berdaya. Ia mengelus kaki kanannya, sudah habis semua isi halaman, mungkin kaki akan terasa nikmat.
Sekali tebas lutut terpisah dari paha menggelinding jatuh ke lantai. Sudah gila memang Angelia. Dengan bantuan tongkat ia berjalan, darah menyucur deras dari bekas potongan kaki hanya ditambal dengan kain.
Telaten tangan memotong bagian betis, dikuliti memisahkan daging dari tulang. Bumbu telah siap, darah sudah dibersihkan dari daging. Ketika mengeringkan bagian tubuh yang telah berbentuk onggokan daging dan tulang Angelia menatap lekat, putih dan sangat jelas lapisan dari kulit hingga ke daging. Sebelum menjadikan bagian kecil terlebih dulu ia cium aroma daging tubuhnya. Amis tapi khas. Tidak berapa lama kembali lihat tangan bermain di atas talenan memotong dadu yang sebelumnya dipisahkan dari kulitnya.
Kulit dilumuri bumbu, kunyit, garam, merica, sedikit cabai dan bawa putih. Didiamkan sampai dirasa bumbu menyerap ke dalam kulit, setelahnya ia goreng. Ada sedikit letupan, sampai daging terlihat mengembang dan ada gelembung kecil, terlihat garing dan diangkat. Sekali gigit renyah, garing, gurih berpadu. Angelia menikmati kerupuk kulit betisnya sembari menunggu rendang daging betis dan konro tulang betis matang.
Masih tersisa kaki, ditatap lekat kaki mungil bersih kini berlumuran darah. Tanpa pikir panjang Angelia memasaknya setelah dibersihkan, hanya dengan rebusan bawang merah, bawang putih, jahe, daun serai, garam, merica, kaldu ayam. Memang hanya tersisa bumbu dapur di rumah. Tidak berapa lama masaklah kaki itu, aroma menguar terasa lezat. Pelan-pelan dimasukan jempol kaki kedalam mulutnya, diisap lalu digigit hingga lepas, layaknya memakan ceker ayam, daging kaki dimakan habis menyisahkan tulang. Kuah sup kaki juga habis tandas tidak bersisa bersama bumbu ikut dimakan.
Ah belum juga kenyang dirasa, konro yang seharusnya untuk besok dimakan habis dalam keadaan panas. Lidahnya sudah melepuh tidak dipedulikan, hanya menuntaskan rasa lapar yang kunjung tidak juga kenyang.
Bak singa kelaparan, rendang belum jadi ikut disantap karena gas telah habis isinya.
Mata nanar Angelina kelaparan, berderai air mata memohon dalam hati agar seseorang datang menyelamatkan rasa laparnya. Menatap pintu penuh tangis penyesalan. Sampai kapan harus berakhir perut yang terus keroncongan.
Gelisah, berjalan mengelilingi rumah dengan tongkat. Lelah mendera, lapar memberontak, bumbu masih ada, gas sudah melompong. Sial sekali nasibnya. Gelap mata demi menuntaskan rasa lapar Angelina mengambil garam, merica, dan lemon, pisau daging sudah ditangan duduk melantai memanjangkan kaki. Lagi, sekali tebas pisah paha dari badan. Ditabur garam, merica, dan lemon di atasnya, tanpa dicuci utuh ditelan. Darah mengalir tidak dipedulikan, bahkan dengan rakus ia jilat hingga bersih.
Sembari bernyanyi ria, menitihkan air mata Angelia sudah memotong kedua kaki hingga paha untuk dimakan, meski sudah memuntahkan isi perutnya, tanpa rasa jijik dimakan kembali muntahannya hingga tidak bersisa.
Belum puas dengan kedua kaki, dengan paksa mengabaikan rasa sakit Angelia memakan kedua tangannya. Meski darah terus mengalir Angelia tidak kunjung mati. Kini hanya tengkurap menggeliatkan tubuh sembari menjilati sisa darah dilantai.
Perlahan mata Angelia terpejam, dan nyawanya pun pergi dengan tragis menyisahkan bahagian tubuh yang tidak bisa ia makan lagi. Tersisa darah segar mengalir dan akhirnya mengering, berulat, dan tengkorak.
***
"Ini rekaman cctv rumah." sodor seorang polisi pada Ibu Angelia.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu hanya terdiam, tatapannya kosong. Tidak menyangka keegoisan mereka harus dibayar dengan pahit atas meninggalnya anak semata wayangnya. Angelia. Gadis dengan gangguan mental itu melewati harinya dengan sangat tragis diakhir hayat karena jamur ajaib taman kesayangannya sendiri. Penyebab halusinasi rasa lapar yang sebenarnya hanya bagian kecil hatinya ingin seseorang pulang membawanya pergi.
Seharusnya mereka membawa gadis itu ke psikolog atau psikiater untuk menyelesaikan masalah mental anaknya, bukan menyetujui keinginan anak sebagai pelajaran agar sembuh dari gangguan mental tidak masuk akal untuk orang normal lainnya. Mereka lupa bahwa Angelia sudah lama mengidap gangguan mental, mereka terlalu gengsi pada pandangan sosial tentang kata gila yang akan melekat pada keluarganya. Kini mereka benar gila menyaksikan tengkorak dengan potongan-potongan kaki dan tangan. Serta satu kaset rekaman saat Angelina memakan tubuhnya sendiri.
Tamat.