"Fit, kamu jadi istri nggak becus banget sih? Kok anakku jadi kurus begitu sih? Apa uang dari anakku masih kurang?" ucap sang mertua bernama Nina, berdiri sambil berkacak pinggang dihadapan sang menantu.
"Ya nggak cukup Mah! Gaji Mas Jeva 40 juta, 38 juta untuk Mama, sisanya buat aku! Jaman sekarang, uang segitu mana cukup?!" sungut Fitri.
"Makanya kamu kerja, jangan diem aja!"
"Lagian buat apa Mamah masih minta uang Mas Jeva segitu banyak?"
Mata Bu Nina melototi sang menantu seakan kedua bola matanya hampir keluar dari tempatnya.
"Itu sudah kewajiban Jeva sama Ibunya! Inget ya, anak laki-laki kalau sudah menikah tetap menjadi milik ibunya bukan istrinya!" pungkas Bu Nina.
"Pantas saja kami belum punya anak, Mamah ikut campur terus urusan rumah tangga kami!"
"Lho? Kok nyalahin saya? Ya salah kamu sendiri jadi istri nggak bisa merawat diri!"
Fitri mengepalkan jemarinya kemudian ia pergi kekamar membanting pintu kamar dengan keras, sedangkan sang mertua hanya tersenyum telah berhasil memojokkan sang menantu.
Bagaimana ia bisa mempunyai anak sedangkan suaminya tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Dari awal menikah Ibunya sengaja menjauhkan Mas Jeva dari dirinya, saat itu malam pertama setelah sah menjadi suami istri Bu Nina tiba-tiba saja jatuh sakit dan harus dirawat selama 3 hari, kata suster sang Ibu divonis sakit jantung koroner. Sepulang dari rumah sakit, Bu Nina meminta Mas Jeva untuk tinggal bersamanya. Hingga satu bulan lamanya Fitri dibiarkan begitu saja, harusnya ia sedang merasakan indahnya menjadi pengantin baru tetapi ia harus mengalah dengan keadaan.
Bulan berikutnya setelah kesehatan mertuanya membaik, Fitri sengaja membeli tiket bulan madu ke Bali bersama sang suami untuk mereguk asmara yang tertunda, namun lagi dan lagi ibu mertuanya membuat ulah kalau dirinya kembali sakit, Ibunya meminta Jeva untuk tinggal dirumahnya yang bersebelahan dari rumah Jeva. Berbeda rumah serasa tinggal satu atap, apapun yang Fitri lakukan, Ibu mertuanya pasti tau segalanya. Bahkan, ibunya sering menginap, sering berpatroli setiap jam dirumah dan menyuruh Jeva untuk menemaninya sampai pagi
Pernah suatu ketika, Fitri memaksa suaminya memberikan nafkah batin. Saat tangan Fitri sedang membelai lembut wajah sang suami tiba-tiba Ibunya datang dengan alasan minta diantar membeli obat malam-malam dan meminta Mas Jeva menginap di rumahnya. Apa sih mau si Ibu?
Kemudian saat mereka chek in di hotel, sang mertua datang menyusul dengan alasan tak bisa jauh dari anak semata wayangnya.
Sudah ribuan kali Fitri menggoda sang suami dengan memakai lingerie seksi, berdandan cantik, membuat suasana romantis setiap suaminya pulang kerja, namun apa dayanya bila sang mertua selalu menggagalkan aksinya. Apakah sang mertua cemburu bila si anak dekat dengan istrinya?
Entahlah! Bu Nina adalah seorang single parent, sejak umur 7 tahun Mas Jeva dan ibunya sudah ditinggal pergi almarhum Ayahnya akibat sakit komplikasi. Saat pacaran, Mas Jeva begitu terbuka apa adanya, dia orang baik, perhatian dan begitu mencintai Fitri. Ibunya sangat over protektif pada anak, sebelumnya ia selalu menolak jika Jeva mengenalkan wanita untuk dinikahi, ketika Jeva mengenalkan Fitri, entah ada angin apa sampai sang ibu menerimanya. Betapa bahagianya hati Jeva saat itu hingga ia membeli rumah lalu menikahi Fitri.
Namun sudah 1,5 tahun menikah, Jeva dan Fitri belum merasakan indahnya jadi pasangan suami istri. Fitri sering merengek pada suaminya untuk pindah keluar kota agar Bu Nina tidak mengusik kebahagiaan mereka. Jeva sendiri bimbang, jika ia menuruti sang istri, bagaimana nasib ibunya?
"Mas, kenapa kita nggak cari jodoh aja buat Mamah? Masa, kita sudah menikah 1,5 tahun kau belum pernah menyentuhku?"
Jeva hanya termenung.
"Kamu masih normal kan, Mas?" tanya Fitri lagi.
"Ya normal lah!"
"Kalau begitu, buktikan Mas!"
Tok, tok!
"Jev, tolong anterin Mamah ke rumah tante Ayu sekarang!"
Klek! Fitri membuka pintu rumah, ia memasang wajah masam pada ibu mertuanya. Selalu seperti ini jika Fitri menuntut Mas Jeva untuk memberinya nafkah batin.
"Kenapa Mamah selalu mengganggu hidup kami!" ketus Fitri.
"Jeva kan anakku, sudah kewajibannya nurut sama Ibunya!"
"Apa Mas Jeva harus melupakan kewajibannya untuk membahagiakan istrinya? Mah, cukup ya saya terus-terusan mengalah! Aku bisa gi la kalau Mamah selalu mengusik kebahagiaan kami!"
"Ya sudah kamu masuk Rumah sakit jiwa biar cepat gi la!" tukas Bu Nina.
"Mamah maunya apa sih? Hampir semua gaji Mas Jeva untuk Mamah, Mamah juga selalu menghalangi Mas Jeva memberi nafkah batin buat aku!"
"Jeva itu anak Mamah! Gak ada yang bisa menyayangi Jeva dengan tulus selain Mamah! Kalau kamu tak tahan tinggalkan Jeva jangan kamu halangi anak berbakti pada Mamahnya!"
"Aku sayang sama Mas Jeva, Mah!"
"Seberapa besar kasih sayangmu? Saya tau betul kamu selama ini hanya pura-pura kan?! Mamah tak sudi melihat Jeva bermesraan dengan kamu karena Jeva anak Mamah!"
"Oh, jadi Mamah cemburu sama saya?"
Bu Nina tergagap di skakmat Fitri. Jeva yang sedari tadi mendengar pembicaraan sang Ibu dan istrinya memasang kuping lekat ingin mengetahui jawaban sang Mamah.
"Mamah gak mau Jeva menjadi milik orang lain! Hanya Jeva satu-satunya keluarga Mamah! Apalagi kalau Jeva sampai punya anak, bisa saja Jeva lupa sama Mamah!"
"Jadi itu alasan Mamah selalu menghalangi aku dan Fitri untuk bulan madu?" tanya Jeva yang tak habis pikir dengan kelakuan Ibunya.
"Iya! Kamu cuma milik Mamah, anak Mamah!"
"Kenapa Mamah mengijinkanku menikahi Fitri? Aku bukan anak kecil lagi, Mah! Aku berhak bahagia bersama istriku!"
"Kamu lupa walaupun sudah menikah anak laki-laki tetap menjadi milik Ibunya?! Apa kamu mau menjadi anak durhaka, Jev?!"
"Aku tahu, Mah! Tapi Mamah sudah keterlaluan membuatku tak bisa memberi nafkah batin pada istriku, apalagi Mamah melarangku mempunyai anak! Sudah cukup, Mah! Aku dan Fitri akan meninggalkan kota ini sekarang juga!" tegas Jeva
Bu Nina tersentak kaget dengan keputusan anaknya. Perasaannya hancur berkeping-keping, kalau saja ia menolak niat Jeva untuk menikah, mungkin kehidupannya masih damai menikmati gaji yang diberikan anaknya secara full. Ia kemudian menarik baju Fitri, menjambak rambut Fitri, memakinya tiada henti.
"Menantu si*lan, menantu kurang ajar, menantu tak tau diri! Ini semua pasti gara-gara kamu yang sudah meracuni pikiran Jeva!"
Jeva menghentikkan aksi si Ibu, lalu menyuruh istrinya untuk menyelamatkan diri. Bu Nina seperti orang kesetanan, ia berteriak histeris mengumpat anak dan menantunya membuat para tetangga berdatangan ke rumah Jeva.
"Lebih baik kamu bu nuh Mamah Jeva daripada kamu pergi meninggalkan Mamah!" Bu Nina sengaja berteriak seperti itu agar para tetangga berempati padanya.
"Jeva, kamu mau jadi anak durhaka?" tutur Bu Sumi
"Jangan begitu Jev! Kasian Mamah kamu!"
"Mamah kamu kan sakit jantung! Tega kamu mau tinggalin Ibumu sendiri!"
Bu Nina tersenyum licik mendengar pembelaan dari para tetangga, ia memikirkan ide agar Jeva mengurungkan niatnya. Kemudian Bu Nina sengaja pura-pura pingsan agar suasana semakin dramatis.
"Mah, kenapa?" Jeva nampak panik melihat Ibunya tak sadarkan diri.
"Mas Jeva, saya telpon ambulans ya!" ujar Bu Tini.
"Iya, Bu! Kasihan ini Bu Nina" tambah Bu Sumi.
"Maaf, Bu, Ibu, nggak usah panggil ambulans! Bu Nina baik-baik saja kok, dia cuma pura-pura pingsan!" tukas Fitri.
"Pantas saja Ibu mertuamu sering sakit punya menantu jahat kayak kamu, Fit!" cetus Bu Lia.
"Fitri! Kamu ngomong apa sih? Mamah kan sakit jantung!" ucap Jeva meradang.
Fitri menoleh kearah suaminya lalu mengambil vas bunga berisi air kemudian menyiramkannya ke wajah Ibu mertuanya.
Reflek, Bu Nina gelagapan terbangun karena disiram wajahnya tiba-tiba. Semua orang melongo dibuatnya.
"Mamah kamu pinter akting, Mas! Selama ini kita dibohongi Mamah kalau dia sakit jantung. Itu hanya alasannya saja! Kau tau suster yang dirumah sakit dibayar Mamah untuk mengatakan kepada kita kalau Mamah sakit jantung! Kenyataannya kesehatan Mamah baik-baik saja, Mas!"
"Apa benar, Mah?" tanya Jeva tak percaya.
"Kalau Mas Jeva nggak percaya, ayo kita bawa Mamah ke dokter spesialis jantung!"
Lidah Bu Nina terasa kelu tak bisa berkilah lagi dengan ucapan menantunya. Memang benar selama ini ia pura-pura sakit jantung karena dia tak ingin putranya melupakan Ibunya. Ia sengaja meminta gaji 38 juta agar Fitri mau meninggalkan anaknya, ia menilai Fitri hanya perempuan mata duitan kenyataannya Fitri tetap bertahan dengan Jeva. Bu Nina juga sengaja membuat kehidupan Fitri seperti di neraka dengan menjauhkan Jeva dari istrinya agar tak bisa memberi nafkah batin. Bu Nina juga sering memojokkan Fitri agar mentalnya makin tertekan. Semua dilakukannya karena Jeva adalah anaknya, hanya miliknya, anak Mamah seorang!
Lantas kenapa Bu Nina mengijinkan Jeva menikah? Alasannya untuk menepis tuduhan para tetangganya bahwa anaknya tidak normal/ berprilaku menyimpang. Ia terpaksa merestui pernikahan Jeva dan Fitri walaupun dalam hatinya ia tak rela jika perhatian anaknya dibagi dua.
"Bu Nina, apa benar yang dikatakan Fitri?" tanya Bu Tini.
"Jawab, Mah!" tegas Jeva.
Bu Nina menganggukkan kepalanya lalu berkata," Mamah terpaksa berbohong karena takut kehilangan kamu, Jev!"
"Mamah egois!!"
*****
Empat tahun kemudian.......
Setelah kejadian malam itu, Jeva dan istrinya langsung memutuskan pergi dan tinggal di luar kota. Akhirnya ia bisa hidup bahagia bersama Fitri dan memiliki anak perempuan yang sangat cantik. Sebenarnya dalam hati Jeva sangat merindukan Ibunya namun masih ada rasa kecewa mengingat perbuatan Ibu kandungnya. Ia masih enggan mengunjungi Bu Nina tetapi Fitri istrinya selalu mengingatkan agar Jeva tak melupakan kewajibannya sebagai anak.
Selama ini Fitri selalu mengirimkan uang untuk ibu mertuanya, dia juga sering menanyakan kabar Bu Nina kepada Bu Sumi. Fitri sudah memaafkan kelakuan mertuanya, ia mengerti perasaan Ibu Nina yang ketakutan jika Jeva akan mengabaikannya. Padahal dari awal, Fitri sudah menganggap mertuanya seperti Ibu kandung sendiri karena dari kecil ia adalah anak yatim piatu. Berkat didikan dari almarhum neneknya, Fitri tumbuh menjadi wanita mandiri dan baik hati, ia juga lulus kuliah jurusan hukum dengan predikat c*m laude. Tekadnya yang kuat untuk belajar dibarengi keberuntungannya mendapat beasiswa gratis untuk menempuh pendidikan. Hingga akhirnya Fitri bertemu dengan Mas Jeva lalu menikah.
"Mas, pekan depan kita pulang tengok Mamah ya? Apa kamu nggak mau Tiara ketemu sama neneknya?"
"Fit, apa kamu sudah lupa dengan perbuatan Mamah?"
"Mas, Manusia itu tempatnya salah dan khilaf, begitu juga dengan Mamahmu. Dulu, Mamah takut kehilangan kamu makanya dia tega bohongi kita! Apa kamu lupa dengan jasa Mamah yang sudah merawatmu hingga kamu sukses seperti sekarang?"
Jeva tak bergeming, semua kebaikan Ibunya seperti lenyap dalam ingatannya. Ia masih kecewa dan enggan bertemu dengan sang Ibu.
"Anak Mamah" suara ibunya yang masih terngiang ditelinga Jeva.
*****
Pagi itu, Bu Nina sedang melantunkan ayat suci Al-qur'an setelah melaksanakan shalat Dhuha 8 rakaat. Ia sudah menyadari perbuatannya, kini di usia senjanya, Bu Nina fokus mendekatkan diri pada sang Maha Kuasa. Ia juga tak segan membantu tetangganya yang sedang kesulitan. Saat melihat anak-anak kecil bermain, ia teringat dengan Jeva. Jeva kecil yang selalu merengek minta di suapin, Jeva kecil yang selalu merajuk jika permintaanya tidak dituruti, Jeva kecil yang......air matanya kembali menetes, ia sangat merindukan anaknya. Gara-gara keegoisannya, anak semata wayangnya kini sangat membenci dirinya. Walaupun begitu, Bu Nina tak pernah lupa mendoakan kebahagiaan Jeva dan istrinya.
Bu Nina terus melantunkan ayat suci dengan merdu yang membuat hatinya kian terasa damai.
"Assalamu'alaikum, Nenek!"
"Walaikumsalam" jawab Bu Nina, ia menyudahi membaca Al-qur'an kemudian menoleh mencari suara yang memanggilnya.
"Mah,,,"
"Jeva?" Bu Nina mengucek kedua matanya, memastikan Jeva datang menjenguknya.
Jeva langsung bersimpuh ke kaki Ibunya, ia menangis sejadi-jadinya menumpahkan rasa kecewa, rasa rindu dan rasa bersalah yang berbaur menjadi satu. Fitri yang melihatnya menjadi terharu.
"Jeva minta maaf, Mah!"
Bu Nina mengelus rambut anaknya, air mata kebahagiaannya tak terbendung dengan kehadiran sang anak,"Mamah yang harusnya minta maaf, Jev! Mamah sudah egois!" isak Bu Nina.
Jeva kemudian berdiri dan menghapus air mata Ibunya, ia mengenalkan Tiara, anaknya yang berumur tiga tahun pada sang Ibu.
"Dia cucu Mamah, Jev? Cantik sekali!" ucap Bu Nina semringah.
"Iya, Mah. Namanya Tiara" jawab Fitri.
"Fitri,,,,maafkan Mamah!" ucap Bu Nina sembari memeluk menantunya.
"Nek, dari tadi kok maaf-maafan terus sih? Emang lagi lebaran yah?" celoteh Tiara yang membuat semua orang tertawa.
~Tamat~