Bayu tinggal tiga hari di Yogyakarta. Tiga hari yang lebih melelahkan daripada perjalanan lintas benua mana pun. Dia berbicara dengan Aria—pelan, jujur, tanpa membungkus kebenaran dalam dongeng. Dia ceritakan tentang darah kawanan, tentang serigala yang hidup berdampingan dengan manusia, tentang keluarga Pradipta. Dia tidak menyembunyikan bahwa dia ayahnya. Aria mendengarkan dengan mata yang berganti-ganti antara cokelat dan kuning, dan ketika selesai, gadis itu hanya bertanya satu hal: "Apakah aku monster?"
"Tidak," jawab Bayu. "Kau anak. Anak yang istimewa. Dan kau punya pilihan yang tidak pernah Ayahmu ini berani ambil."
Sebelum membawa Aria ke Jakarta, Bayu harus menghadap alpha Yogyakarta. Markas mereka tersembunyi di balik sebuah sanggar tari klasik di selatan kota. Brantas—lelaki kurus bermata yang tidak pernah berkedip, alpha yang sama yang telah menegosiasikan ancaman terhadap Bayu di Surabaya—menerima Bayu di pendapa yang harum dupa. Di sisinya berdiri Nyi Sekar, tetua tua penjaga adat yang merawat Aria dari jauh selama ini.
"Anak itu lahir di tanah kami," kata Brantas. "Empat belas tahun dia tumbuh di bawah perlindungan kawanan ini, meski kau dan keluargamu tidak tahu. Dia jantung dari rencana kami. Kau pikir bisa begitu saja membawanya ke Jakarta?"
Bayu menunduk hormat. "Saya tidak datang untuk merampas. Adik saya, Alpha Sasi, sudah menawarkan perdamaian—tanah selatan, jalur dagang Jakarta. Itu nyata. Yang saya minta hanya satu: jalan ketiga. Biarkan anak ini mengenal kedua kawanannya, bukan dikubur dalam genggaman satu pihak."
Brantas menimbang lama. Asap dupa berputar di antara mereka. Nyi Sekar berbisik sesuatu di telinganya—kata-kata seorang tetua yang lebih memikirkan anak itu daripada rencana.
"Kawanan Yogyakarta mengizinkan dia pergi ke Jakarta," akhirnya Brantas berkata, suaranya dingin, "sebagai jalan ketiga yang ditawar Sasi—bukan karena kami melepaskannya. Dengan satu syarat yang tidak bisa ditawar. Saat Aria dewasa—delapan belas tahun—dia memilih sendiri. Yogyakarta atau Pradipta. Kawanan atau jalan biasa. Tidak ada yang boleh memaksanya, tidak kau, tidak alpha barumu yang perempuan itu, Sasi. Darahnya milik dua kawanan; pilihan ada di tangan Aria. Itu syarat perdamaian ini."
"Saya bersumpah," kata Bayu. "Dan Sasi bersumpah."
Penerbangan kembali ke Jakarta terasa seperti membawa pulang seluruh masa lalunya dalam wujud seorang gadis berusia empat belas yang menatap awan di luar jendela dengan mata kuning yang tak bisa dia sembunyikan.
Di rumah Sukabumi, kepulangan itu terasa seperti petir musim kemarau. Bukan lagi sekadar foto dalam amplop Yogyakarta yang membuat Maya menggali silsilah berminggu-minggu—kini cucu itu berdiri nyata di ambang pintu. Maya menjatuhkan cangkir tehnya. Damar, yang sudah delapan puluhan dan jarang terkejut oleh apa pun, terdiam lama di kursi rodanya. Sasi berdiri di belakang, tangan menutup mulut, jalan ketiga yang dipertaruhkannya akhirnya berwujud seorang gadis.
"Cucu," bisik Maya akhirnya, suaranya pecah. "Cucu yang selama empat belas tahun mereka sembunyikan dariku." Air mata mengalir di pipi yang sudah dipenuhi garis usia. "Bawa dia kemari. Bawa Aria kepadaku."
Aria masuk dengan langkah ragu. Dan ketika Maya menatap mata cucu yang merupakan cermin matanya sendiri, seluruh keterkejutan di ruangan itu meleleh menjadi sesuatu yang lebih tua dan lebih kuat dari segala rahasia: penerimaan.
"Selamat datang di rumah," kata Damar dengan suara serak, "anak kawanan."
(bersambung...)