Sasi membawa pulang tawaran Brantas seperti membawa bara di telapak tangan.
Keluarga berkumpul di beranda Sukabumi—Damar, Maya, Tika, dan Bayu yang wajahnya sudah tahu sebelum Sasi mengucapkannya. Kakak selalu bisa membaca adiknya.
"Yogyakarta menerima perdamaian," kata Sasi. "Tanah selatan, jalur dagang—mereka ambil itu. Permusuhan tiga generasi bisa berakhir. Kawanan aman." Ia menarik napas. "Dengan satu syarat."
"Aku," kata Bayu pelan. Bukan pertanyaan.
Sasi mengangguk. "Kau harus pergi. Kembali ke Belanda. Selamanya. Tidak pernah menginjak tanah kawanan lagi. Selama kau di sini, kau ancaman bagi rencana mereka—kau bisa menuntut anakmu." Ia menatap kakaknya, dan suaranya pecah sedikit. "Dan anakmu tetap di tangan mereka. Mereka tidak akan melepaskannya."
Hening yang berat. Maya menutup mulut dengan tangan keriputnya. Damar menatap lantai.
Bayu berdiri perlahan, berjalan ke tepi beranda, memandang bukit gelap yang sama dengan yang dipandang ayahnya bertahun-tahun.
"Jadi pilihanku," katanya, suaranya tenang dengan ketenangan orang yang sudah lelah, "adalah tinggal dengan keluarga tapi membawa bahaya pada kalian semua—atau pergi selamanya supaya kalian aman, tapi meninggalkan anakku terkubur dalam genggaman mereka."
"Bayu—" mulai Maya.
"Aku tidak akan pergi," potong Bayu, berbalik. Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba, ketakutan di matanya digantikan sesuatu yang lain—tekad. "Bukan karena aku egois. Tapi karena pergi tidak menyelesaikan apa pun. Itu hanya menyembunyikan masalah, sama seperti aku menyembunyikan rahasia ini lima belas tahun. Dan menyembunyikan tidak pernah berhasil. Lihat ke mana itu membawa kita."
Ia berlutut di depan Sasi—gerakan yang mengejutkan, kakak berlutut di depan adik yang kini alpha-nya.
"Aku tidak meminta sebagai kakakmu," kata Bayu. "Aku meminta sebagai anggota kawanan kepada alpha-nya. Beri aku waktu. Satu bulan—batas yang mereka beri sendiri. Biarkan aku mencari jalan ketiga. Jalan yang menyelamatkan kawanan dan anakku sekaligus. Kalau dalam satu bulan aku gagal—aku pergi. Selamanya. Tanpa melawan. Aku bersumpah."
Sasi menatap kakaknya yang berlutut, lalu menatap ayahnya. Damar tidak berkata apa-apa, tapi matanya berkata satu hal: Temukan jalan yang mustahil. Itulah arti menjadi alpha.
Inilah ujian sebenarnya dari keputusan pertama Sasi sebagai alpha. Dewangga akan menyebutnya bodoh—mempertaruhkan perdamaian, tanah, stabilitas seluruh kawanan demi satu bulan harapan satu orang. Brantas menunggu jawaban yang mudah. Yang aman adalah menyuruh Bayu pergi sekarang.
Sasi membungkuk dan mengangkat kakaknya berdiri.
"Satu bulan," katanya, dan suara alpha-nya keluar mantap meski ia tahu ia baru saja menggantungkan segalanya pada sebuah taruhan. "Kau dapat satu bulan, Bayu. Kita cari jalan ketiga itu bersama. Dan kalau Yogyakarta bertanya kenapa aku belum menjawab—" ia menatap bukit gelap, "—biarkan mereka menunggu. Alpha yang baru ini belum selesai berpikir."
Maya menggenggam tangan Damar. Tika berdiri di samping Sasi. Dan di beranda Sukabumi malam itu, keluarga alpha yang terbelah ideologi berdiri bersama untuk satu hal—satu bulan untuk menyelamatkan yang tidak mungkin diselamatkan.