Hari-hari pertama menjadi alpha bukan tentang singgasana. Tentang detail kecil yang membangkang.
Sasi mengeluarkan order pertamanya tiga hari setelah pengangkatan: jadwal patroli markas Jakarta diatur ulang, ditambah dua tim malam. Sederhana. Logis. Tapi pada malam pertama, hanya satu tim yang datang.
"Mereka bilang patroli lama sudah cukup," lapor Raka, putranya yang kawanan, dengan wajah masam. "Kirana yang ngomong begitu. Katanya hukum kawanan yang murni tidak pernah butuh jadwal dari kertas."
Kirana. Sasi mengenalnya—perempuan kawanan paruh baya, suaranya halus tapi pengaruhnya dalam. Ia tidak pernah memberontak terang-terangan. Itulah yang membuatnya berbahaya.
Sasi menemukannya di dapur markas, sedang menumbuk kunyit dengan tenang, seolah tidak ada yang salah.
"Kau menolak order patroli," kata Sasi, tanpa basa-basi.
Kirana tidak mengangkat wajah. "Saya tidak menolak, Alpha. Saya bertanya. Apakah seekor alpha yang baru perlu mengubah hal yang sudah berjalan puluhan tahun? Ayahmu tidak pernah merasa perlu."
"Ayahku juga tidak pernah menghadapi kota dengan tiga juta kamera CCTV."
Kirana akhirnya menatapnya. Matanya tidak benci. Lebih buruk—penuh keraguan yang sopan. "Banyak yang bertanya, Alpha. Bukan hanya saya. Mereka bertanya apakah perempuan bisa membaca ancaman seperti alpha jantan. Bukan menghina. Hanya... bertanya."
Di situlah ujian sebenarnya. Sasi tahu kalau ia menghukum Kirana keras, ia akan terlihat seperti tiran yang tidak aman. Kalau ia membiarkannya, ia akan terlihat lemah, dan kebimbangan akan menyebar seperti penyakit.
Ia memilih jalan ketiga.
"Kau benar," kata Sasi pelan. Kirana terkejut. "Aku alpha baru. Maka buktikan aku salah. Ikut patroli malam ini. Denganku. Kalau jadwal lama benar lebih baik, aku ubah kembali besok pagi, di depan semua orang. Kalau yang baru benar—kau yang umumkan."
Kirana terdiam lama. Tantangan yang dibungkus penghormatan tidak bisa ditolak tanpa kehilangan muka.
Malam itu mereka patroli bersama. Pukul dua, di gang belakang gudang Jakarta Utara, tim lama yang dijadwalkan absen seharusnya kosong. Mereka mencium bau asing—bukan kawanan Pradipta. Penyusup. Seorang pemuda kawanan dari kelompok lain, mengintai batas wilayah. Kalau jadwal lama dipertahankan, malam itu tidak ada yang akan tahu.
Kirana mengusir penyusup dengan geraman rendah, lalu berdiri lama di gang sepi. Napasnya berasap di udara dingin.
"Jadwal baru," ucapnya akhirnya, hampir tidak terdengar. "Saya yang umumkan besok."
Sasi tidak tersenyum menang. Ia tahu ini bukan kemenangan—hanya jeda. Kirana tunduk pada bukti, bukan padanya. Dan masih banyak Kirana lain di luar sana yang belum melihat bukti apa pun.
Saat mereka kembali ke markas menjelang fajar, Tika sudah menunggu dengan teh hangat. "Berhasil?" tanyanya.
"Untuk malam ini," jawab Sasi. "Besok ada protes baru. Selalu ada."