Lima puluh tahun setelah hari Maya pertama tanda tangan kontrak, mereka masih di Sukabumi.
Damar berumur delapan puluh. Tapi alpha kawanan menua lambat—dia kelihatan enam puluh, mungkin enam puluh dua di hari yang berat. Maya tujuh puluh lima. Rambutnya putih. Punggungnya mulai bungkuk sedikit.
Sasi sekarang lima puluh sembilan. Punya tiga anak—yang dua di antaranya manifest sebagai kawanan, satu manusia. Dia memimpin kawanan Pradipta sekarang—Damar pensiun di umur tujuh puluh lima, menyerahkan posisi alpha pada Sasi setelah ritual upacara di Sukabumi yang dihadiri tetua dari empat kawanan Indonesia.
(Iya, Sasi alpha perempuan pertama dalam sejarah kawanan. Itu cerita panjang. Buku ketiga Maya tentang itu—diterbitkan dua puluh tahun lalu, jadi best-seller, dan—Maya akui—mungkin alasan utama kenapa kawanan-kawanan tradisional akhirnya menerima alpha perempuan: pembaca Maya yang punya anggota keluarga di kawanan, mendorong kawanan-kawanan untuk reformasi.)
Bayu lima puluh empat. Tinggal di Belanda. Dosen sastra di universitas kecil di Utrecht. Tidak pernah jadi kawanan, tapi sangat dekat dengan saudaranya. Datang ke Sukabumi setiap dua tahun bersama istrinya, perempuan Belanda bernama Anke.
Pratama meninggal sepuluh tahun lalu—alpha Wijayakusuma terakhir dari generasi mereka. Putranya, Adi, sekarang pemimpin Wijayakusuma. Hubungan dua kawanan tetap sekutu, dengan perjanjian formal yang sudah tiga generasi diperpanjang.
***
Suatu malam, di teras rumah Sukabumi yang sekarang sudah lebih besar—Damar bangun perluasan tiga puluh tahun lalu untuk anak-anak yang akan datang berkunjung—Damar duduk dengan Maya.
Bintang banyak. Bulan setengah. Suara serangga malam. Aroma tanah basah dari hujan tipis yang baru saja berhenti.
"Maya."
"Iya, Mas."
"Saya menulis surat untuk Sasi dan Bayu."
"Surat apa."
"Untuk dibaca setelah kita pergi."
Maya menoleh.
"Damar—"
"Maya. Saya delapan puluh. Kau tujuh puluh lima. Kita tidak akan selamanya. Saya mau mereka tahu hal-hal yang kita tidak pernah bilang langsung."
Maya menggenggam tangan Damar. Tangan yang dulu kuat, sekarang masih kuat tapi dengan urat-urat yang lebih jelas. Tangan yang dia kenal lima puluh tahun.
"Saya tahu."
"Saya menulis kepada mereka tentang ibu kau. Tentang Reno. Tentang Pratama. Tentang Bibi Suti. Tentang semua orang yang pergi sebelum kita. Supaya mereka ingat—dari mana mereka berasal."
"Itu bagus, Mas."
"Saya juga menulis tentang kau."
Maya tersenyum. Air matanya, yang sudah lebih sering muncul di umur seperti ini, jatuh pelan.
"Apa yang kau tulis tentang saya?"
Damar diam. Lalu, dengan suara pelan yang Maya ingat dari malam pertama mereka berciuman di teras mansion Cipete lima puluh tahun lalu:
"Saya menulis: Ibu kalian adalah pasangan saya. Bukan istri kontrak. Bukan kewajiban keluarga. Bukan perisai politik kawanan—walaupun itu yang saya bilang ke saya sendiri di awal. Pasangan. Dia menemukan saya saat saya bahkan tidak tahu saya hilang. Dia melindungi saya saat saya yang seharusnya melindungi dia. Dia memberi saya hidup yang saya tidak pernah membayangkan saya pantas."
Maya menangis. Tidak menyembunyikan.
"Damar..."
"Maya. Saya menulis itu karena saya mau Sasi dan Bayu tahu—pernikahan bukan kontrak. Bukan transaksi. Bukan posisi politik. Pernikahan adalah keputusan yang kau buat tiap hari, dengan orang yang membuat keputusan itu mudah."
Damar mencium tangan Maya. Mencium telapak tangan, yang sekarang sudah keriput, dengan bibir yang juga sudah keriput.
"Saya cinta kau, Maya. Lima puluh tahun. Akan lebih lama, kalau tubuh kita izinkan."
"Mas. Saya cinta kau juga."
***
Mereka duduk di teras lama. Sampai bulan turun di balik pohon-pohon. Sampai bintang mulai memudar di langit timur.
Akhirnya, Damar berkata:
"Maya."
"Iya."
"Mau masuk? Dingin."
"Iya, Mas. Yuk."
Damar berdiri pelan, dengan tangan-nya yang masih bisa berdiri sendiri walaupun butuh waktu lebih lama dari sepuluh tahun yang lalu. Menggandeng tangan Maya. Mereka masuk ke rumah yang sudah jadi rumah selama lima puluh tahun.
Di belakang mereka, di teras, dua cangkir kopi yang sudah dingin, satu surat untuk anak-anak yang akan diberikan saat waktunya, dan bayangan dua orang yang menemukan satu sama lain di tempat yang tidak ada dari mereka mencari.
Pegunungan Sukabumi tertidur.
Dan di rumah kayu kecil di lereng yang tertinggi, dua jiwa—yang dulu adalah orang asing, lalu jadi kontrak, lalu jadi keluarga, lalu jadi rumah—saling memeluk dan tidur.
Bersama.
Selalu.
***
[TAMAT — Bagian 1]
[Bagian 2 (Premium Tier 2) coming soon: kisah Sasi sebagai alpha perempuan pertama Indonesia, perjuangan reformasi kawanan, dan generasi baru darah Tirtonegoro]