Sembilan bulan kemudian, di rumah sakit Bunda di Jakarta—rumah sakit yang Damar pilih khusus karena memiliki tim dokter yang sudah dia screening untuk kerahasiaan kawanan—Maya melahirkan.
Damar di sebelahnya dari awal sampai akhir. Memegang tangan Maya. Mengusap rambutnya yang basah keringat. Bicara hal-hal lucu untuk membuat Maya tertawa di antara kontraksi—lelucon tentang Pratama yang baru saja belajar memimpin rapat formal, tentang Yuni yang memaksa Bagas pindah ke Sukabumi karena "saya tidak mau anak Bu Maya tumbuh tanpa Bagas di sekitar."
Bibi Suti juga ada di kamar tunggu. Pratama dan Dewangga di lobi rumah sakit—keluarga besar yang Maya tidak pernah membayangkan akan dia punya, sekarang menunggu kabar bayi dia.
Bayi itu lahir pukul tiga pagi. Setelah delapan jam labor.
Perempuan. Berat tiga koma dua kilogram. Sehat.
Bidan—seorang perempuan paruh baya yang sudah Damar ajak diskusi sebelumnya—memberikan bayi ke Maya. Maya menatap wajah anaknya—keriput, merah, mata tertutup, rambut hitam tipis yang basah—dan menangis tanpa henti.
Damar berdiri di sebelahnya. Tidak bisa bicara. Tangannya, yang memegang tangan Maya selama delapan jam, sekarang gemetar.
"Damar... lihat dia."
Damar menyentuh pipi anaknya dengan jari—hati-hati, seperti menyentuh es yang akan pecah kalau ditekan terlalu keras.
"Maya... dia—"
"Iya."
"Mata."
Bayi itu membuka mata pelan—bidan bilang biasanya bayi tidur dulu beberapa jam, tapi anak ini berbeda.
Coklat tua. Seperti Damar. Tapi di tengah pupil, ada titik kuning emas kecil—tidak terang, hampir tidak terlihat di cahaya rumah sakit, tapi ada. Seperti percikan api di dasar sumur.
"Damar. Dia kawanan."
"Iya."
"Tapi juga manusia."
"Iya. Lima puluh persen, persis seperti yang dokter prediksi."
Damar mencium kening anaknya. Lalu kening Maya. Air matanya jatuh ke pipi Maya.
"Maya. Apa kita siap untuk ini? Membesarkan setengah-serigala?"
Maya tertawa pelan—tawa yang melelahkan tapi tidak bisa dia tahan.
"Damar. Saya seperempat-serigala. Kau alpha. Bibi saya dukun herbal. Saudara tiri kau pemimpin kawanan. Anak kita akan baik-baik saja."
Damar tertawa.
***
Mereka memberi nama anaknya: Sasi. Artinya 'bulan' dalam bahasa Sansekerta. Damar yang pilih—Maya setuju sebelum Damar selesai menjelaskan kenapa.
Sasi tumbuh besar di rumah Sukabumi. Dijaga oleh dua orangtua yang dulu hampir tidak saling kenal, sekarang tidak bisa pisah. Yuni dan Bagas pindah ke Sukabumi setelah Sasi lahir—paviliun kecil di belakang rumah, dekat tapi tetap punya privacy. Bibi Suti datang setiap dua minggu. Pratama datang sebulan sekali, membawa hadiah dari Wijayakusuma—boneka serigala buatan tangan untuk Sasi, yang Sasi suka.
Saat Sasi berumur tiga tahun, dia bertanya:
"Bunda."
"Iya, sayang."
"Kenapa mata Bunda kadang kuning malam?"
Maya tersenyum. Dia masih punya racun di darah—aktivasi permanen, dengan efek samping berupa mata yang berubah kuning di malam hari atau saat dia emosi tinggi.
"Karena Bunda punya rahasia, Sasi."
"Rahasia?"
"Iya. Tapi rahasia itu bukan rahasia jelek. Rahasia bagus. Nanti kalau Sasi sudah besar, Bunda cerita."
"Janji?"
"Janji."
Sasi memeluk Maya.
"Bunda. Cinta."
"Bunda juga, sayang."
Damar—yang masuk dari kebun dengan tangan masih kotor karena memetik tomat untuk makan malam—melihat ibu dan anaknya berpelukan.
Dia berdiri di pintu. Tidak masuk. Cuma melihat.
Empat tahun lalu, dia menandatangani kontrak pernikahan untuk membayar utang ibunya ke ibu Maya. Dia menerima Maya sebagai topeng politik kawanan, perisai untuk ditantang Wijayakusuma.
Dia tidak pernah membayangkan ini.
Tidak pernah membayangkan punya keluarga yang bukan kawanan saja. Punya anak. Punya rumah dengan tomat di kebun yang dia tanam sendiri.
Punya istri yang dia cinta dengan setiap atom di tubuhnya.
Damar masuk. Memeluk Maya dan Sasi sekaligus.
"Tomat siap untuk makan malam. Kita masak pasta?"
"Pasta!" Sasi melompat. "Pasta tomat dengan keju!"
"Pasta tomat dengan keju," Damar mengangguk.
Mereka masuk dapur. Bertiga. Memasak makan malam yang sederhana tapi penuh.
Dan di lereng gunung Sukabumi, di rumah kayu yang Damar bangun ulang dengan tangannya sendiri—menggusur tukang yang ditawari setelah dia melihat tukang merusak satu balok, lalu memutuskan dia sendiri yang melanjutkan—sebuah keluarga kecil tersenyum bersama.
Keluarga yang dimulai dari kontrak, melewati pertumpahan darah, dan akhirnya menjadi hal yang paling murni.