Maya pulang ke Jakarta. Memberi tahu Damar semuanya.
Damar—yang masih lemah, masih tidak boleh bangun banyak, dengan perban di punggung yang baru diganti pagi tadi—duduk di kursi kerjanya yang dia minta dipindahkan ke kamar tidurnya. Mendengarkan dalam diam sementara Maya cerita tiga puluh menit penuh.
Setelah Maya selesai, Damar bilang pelan:
"Ayah saya... hidup."
"Iya."
"Tiga puluh tahun. Saya pikir dia mati saat saya umur dua tahun. Ibu saya selalu bilang itu—kecelakaan kerja di kebun teh kawanan Wijayakusuma."
"Iya. Ibu kau yang bohong."
Damar menutup matanya. Lama. Maya tidak mengganggu—dia tahu pria itu sedang menyusun ulang tiga puluh tahun memori, mencocokkan dengan kenyataan baru.
"Maya. Saya mau ketemu dia."
"Damar, kau belum cukup—"
"Maya. Dia sekarat. Saya harus pergi sekarang."
Mereka berangkat malam itu. Damar di mobil belakang, dengan Maya. Dewangga ikut—tetua tua itu tidak banyak bicara di mobil, tapi wajahnya berat, dan Maya curiga Dewangga sudah tahu sebagian dari cerita ini, atau setidaknya menduga.
Saat mereka sampai markas Wijayakusuma di Puncak, Pratama menunggu di pintu. Wajahnya pucat.
"Reno menunggu sejak siang. Dia menolak makan, menolak minum. Cuma minta cepat-cepat."
Damar masuk dengan dipapah Maya. Naik tangga pelan—Maya hampir mengangkatnya di tikungan terakhir, karena Damar hampir jatuh. Dewangga di belakang, dengan tongkat kayu yang dia ketuk di setiap anak tangga.
Mereka sampai pintu kamar Reno. Maya membuka pintu pelan.
Damar dan Reno menatap satu sama lain untuk pertama kali dalam tiga puluh tahun.
Damar mengingat—di benaknya yang dulu ditekan, di memori paling dalam yang hanya muncul di mimpi—gambar samar pria yang menggendongnya di umur tiga tahun. Pria yang dia sayangi. Yang lalu menghilang.
"Bapak..."
Reno mulai menangis. Air mata emas yang turun ke bantal putih, meninggalkan noda kecil.
"Damar. Anak."
Maya berdiri di pintu. Menutup pintu pelan, memberi mereka waktu. Dewangga menunggu di koridor di kursi yang Pratama siapkan, dengan tangan masih di tongkat kayu.
Damar dan Reno bicara dua jam.
Damar keluar dengan mata merah. Maya menggandeng tangannya—tangan yang lemah, tapi yang menggenggam balik dengan kekuatan yang Maya rasakan.
"Damar. Bagaimana?"
"Maya. Dia... dia bukan monster. Dia... ayah saya. Dia bukan baik—saya tidak akan bilang dia baik—tapi dia bukan monster."
"Iya."
"Dia akan mati malam ini."
"Iya."
Damar menunduk. Air mata kecil di pipinya.
"Maya. Saya tidak punya cara mengubah masa lalu. Tapi saya bisa minta kau satu hal."
"Apa?"
"Setelah dia mati, kawanan Wijayakusuma akan bingung. Pratama mungkin tidak mau lanjut perang. Tapi dia juga ayah dari saudara saya. Saya... saya mau menyatukan dua kawanan."
"Damar—"
"Saya tahu. Itu radikal. Tidak pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah kawanan Indonesia. Tapi kalau saya tidak lakukan, kawanan akan terus berperang sampai salah satu hancur. Saya tidak mau itu."
Maya menggenggam tangan Damar.
"Damar. Saya ikut apa pun keputusan kau."
***
Reno meninggal pukul tiga pagi. Damar di sebelahnya. Maya di luar pintu, memberi mereka privasi terakhir.
Damar memejamkan mata Reno. Berbisik sesuatu pada ayahnya yang baru saja dia kenal kembali—dan baru saja kehilangan untuk kedua kalinya.
Pagi berikutnya, Pratama berlutut di hadapan Damar di lobi markas Wijayakusuma.
"Alpha. Saya menyerah. Kawanan Wijayakusuma menyerahkan kepemimpinan pada Pradipta."
Damar menatap saudara tirinya. Lama. Seorang pria empat puluhan yang tidak pernah diajarkan jadi alpha, yang tiba-tiba dibebani kawanan tanpa pemimpin.
"Pratama. Berdiri. Kita bukan musuh lagi."
"Tapi—"
"Pratama. Kau saudara saya. Kawanan Wijayakusuma tetap kau pimpin. Tapi sebagai sekutu, bukan musuh. Seperti seharusnya tiga puluh tahun lalu—sebelum ayah kita membuat semua ini berantakan."
Pratama menangis. Berdiri pelan dengan bantuan Damar.
"Damar. Saya... tidak tahu cara—"
"Saya akan ajarkan. Dewangga juga. Kita keluarga sekarang."
Maya menatap suaminya—pria yang bukan cuma mengalahkan musuh, tapi mengubah musuh jadi keluarga.
Mate bond di tubuhnya bergetar lebih kuat dari yang pernah dia rasakan. Dan untuk pertama kalinya, Maya merasa bersyukur—benar-benar bersyukur—pada kontrak yang ibunya buat delapan tahun lalu.