Gerakan Arsya berhenti.
Ia menoleh perlahan ke arah Sandra. Tatapannya berubah, tidak tajam, tapi jelas berbeda dari sebelumnya. Ada tekanan di sana.
"Kenapa pulang duluan dia, kok nggak bilang aku?" tanyanya. Nada suaranya turun, tapi justru terdengar lebih berat.
Sandra menelan ludah. Semua skenario indah yang sempat dia susun di kepalanya soal kepulangan Dede, mendadak buyar begitu saja mendengar intonasi itu.
"Aku nggak tahu," jawabnya cepat. "Abis terima telepon, dia langsung buru - buru pergi. Itu pun dia tinggalin uang buat bayar makanannya."
Arsya menatap uang itu lagi, agak lama.
Selama ini, Dede tidak pernah sekalipun bersikap seperti ini. Tidak pernah meninggalkan meja tanpa pamit dan tidak pernah meninggalkan uang dengan cara seperti orang asing. Ini aneh.
"Kamu nggak ng