"Iya."
"Itu nggak masuk akal," jawab Arsya. "Dia sahabatku."
"Aku nggak bisa ngatur perasaanku," kata Sandra, nadanya mulai bergetar. "Aku lihat cara kamu ke dia, aku ngerasa … kecil."
Arsya menginjak rem sedikit lebih keras dari yang dia perlu, lalu kembali melaju.
"Jangan buat aku jadi orang jahat karena aku nolong sahabatku, ya," katanya dingin.
Sandra menoleh. "Aku cuma nanya, kenapa kamu segitu ke dia?"
"Karena aku mau," jawab Arsya. "Dan aku nggak perlu izin siapa-siapa!"
"Itu jawabannya?"
"Iya."
Sandra terdiam. Beberapa detik sunyi.
"Lain kali mungkin aku yang jatuh," ucap Sandra lirih. "Tapi kamu nggak bakal peduli."
Kalimat itu akhirnya membuat Arsya kehilangan kesabaran.
Ia mengerem mendadak di pinggir jalan. Mobil berhenti. Arsya menoleh tajam ke arah Sandra.
"Jadi