Dede kembali terbahak. "Benteng beton pula."
"Iya! Harusnya bu Ida itu dukung aku. Ini malah kompak kali sama calon menantunya. Bukannya sama anak kandung sendiri."
"Itu namanya hubungan harmonis," goda Dede.
"Harmonis kepalamu!" balas Tanti spontan.
Dede menahan tawanya, lalu mencoba bersikap lebih serius. "Tapi coba kau pikir - pikir ya. Kalau jadi kau yang ke Medan, paling cuma dua hari. Capek di jalan, belum tentu puas. Sekarang malah mereka yang ke Kuala Lumpur. Bisa lebih lama, bisa jalan - jalan. Kau tetap ketemu Abang, ketemu mamamu yang katanya rindu kali ketemu anaknya ... kan menang banyak, kau. Pasti seru, itu."
"Seru gigimu! Seharusnya kan bisa Bang Arman nyusul aku ke Medan aja? Kok malah asyik bikin janji dia kesini. Betul - betul kelewatan."
Tanti menggeleng - gelengk