Seperti sudah menjadi kebiasaan, Arsya berdiri paling cepat. Ia meraih tasnya untuk ke kantin sekalian ganti baju, ia menepuk pundak dua orang temannya, lalu melangkah keluar kelas dengan langkah santai tapi penuh percaya diri. Gengnya mengikuti di belakang, suara tawa mereka menghilang di lorong.
Dede memperhatikan sekilas, lalu kembali duduk dengan tenang.
Tanti tidak bergerak dari kursinya. Ia menoleh ke arah pintu kelas yang kini terbuka lebar, lalu beranjak untuk menutupnya setengah.
"Nggak ke kantin kita?" tanya Tanti.
Dede menggeleng. "Nggak usah lah. Malas."
"Bukannya kau lapar?"
"Lapar sih lapar," jawab Dede sambil membuka ritsleting tasnya. "Tapi lebih malas ngeliat tatapan - tatapan aneh itu."
Tanti mengangguk paham. Kejadian kemarin masih segar di kepala mereka. Tatapan