Mama Ida tertawa lepas.
"Jangan salah - salah kau ya, Ibu gubernur Medan pun nggak ada yang sesibuk Mama, udah berapa kali ganti gubernur disini sejak mama pindah ke Medan, nggak ada yang hilir mudik kek mama."
Tanti mendengar tawa teman - teman mamanya pecah, dia pun ikut tertawa karena ulah anaknya. Memang agak laen mamanya ini. Selalu bisa jadi pusat perhatian di mana pun berada.
"Ya udah ya, Ma, nanti ku telpon ... daaagh."
"Daaagh ..."
Panggilan terputus. Apartemen kembali sunyi.
Tanti menjatuhkan diri ke sofa. Ia memandangi langit - langit, pikirannya berputar. Tiga minggu lagi reuni itu akan berlangsung. Kalau ia tidak pulang, Lia pasti akan terus mengomporinya. Kalau ia pulang tanpa Arman, itu juga masalah. Arman pasti ngomel kenapa ia tiba - tiba begitu ingin hadir, bisa j