"Nggak apa - apa juga sebenarnya, duitnya banyak," jawab Dede. "Soalnya kalo kita yang bayar, nggak akan mau dia."
"Tapi nggak bebas kita ngobrol," Tanti menimpali cepat. "Nanti kalo aku ngomong soal adeknya, kau marah lagi sama aku, melotot matamu itu."
Ucapan itu membuat Dede terdiam sejenak. Ingatannya langsung melayang ke kejadian beberapa waktu lalu, saat Tanti terlalu jauh mengomentari Arsya, dan Dede bereaksi lebih keras dari yang ia sadari.
"Nah itu yang mau kubilang," ujar Dede akhirnya. "Jangan kau jelek - jelekkan Arsya depan dia, apalagi nyangkut aku."
"Geram aku soalnya sama kelakuan adeknya itu."
"Udahlah biarkan aja," kata Dede pelan tapi tegas.
Tanti menatap sahabatnya itu lekat - lekat. Ada sesuatu di wajah Dede, bukan marah, bukan juga jengkel, tapi seperti lelah me