"Ya sudah."
----
Sementara di langit yang semakin mendekati tujuannya, pesawat yang ditumpangi Arsya mulai bersiap menurunkan ketinggian.
Lampu sabuk pengaman menyala dengan bunyi 'ting' yang pelan tapi tegas.
Pramugari berjalan di lorong memastikan semua kursi sudah tegak, meja lipat tertutup, dan penumpang kembali ke tempat duduk masing - masing.
Arsya menutup film di ponselnya tanpa benar - benar tahu jalan ceritanya tadi sampai mana. Sejak tiga puluh menit terakhir, ia tidak lagi fokus pada layar. Matanya perih, berat, seolah ada pasir halus didalamnya. Tubuhnya lelah, kepalanya sedikit pening karena kurang tidur.
Tetapi jantungnya?
Justru berdebar semakin cepat.
Semakin pesawat turun, semakin nyata semuanya terasa.
Di balik jendela kecil pesawat, awan - awan putih yang sejak