Awalnya Sandra tidak terlalu memperhatikan. Sampai matanya menangkap sosok Arman yang turun dari mobil bersama Papa mamanya dan juga dua orang tua yang ia duga eyangnya.
"Eh… itu bang Arman," gumamnya pelan.
Ia mendekatkan wajah ke kaca. Lalu melihat juga Arsya turun dari mobil lain, dan jantungnya langsung mencelos.
Karena Arsya tidak turun sendiri.
Arsya turun bersamaan diikuti Dede!
Bukan sekadar berdampingan. Tapi dekat, bahkan terlalu dekat untuk ukuran 'sekadar sahabat'.
Sandra langsung duduk tegak, tangannya mencengkeram ponsel.
Orang tuanya sama sekali tidak menyadari apa pun. Ayahnya sibuk menyetir, ibunya sedang membicarakan toko yang akan mereka datangi di mal.
Sandra menoleh sekali lagi ke arah restoran. Dede sudah melangkah masuk bersama rombongan keluarga besar itu. A