Jam belum menunjukkan pukul sepuluh ketika ponselnya berbunyi.
Tanti.
"Kami udah di depan, cepatlah sikit!" suara Tanti terdengar heboh dari balik pagar bahkan sebelum Dede benar - benar membuka pintu.
Dede keluar sambil membawa tas kecilnya. Arman bersandar santai di mobil, kaca jendela sudah terbuka.
"Masuklah, pacarnya orang Manchester," goda Arman begitu Dede duduk di kursi belakang.
"Mulai lagi ya, bang," balas Dede malas, tapi senyumnya tak bisa ia sembunyikan.
Hari ini mereka mau mencoba kafe baru yang baru launching seminggu lalu. Minggu lalu mereka sempat datang, tapi batal masuk karena antreannya panjang sekali sampai keluar pintu.
"Sebelum sebelas kita sampai, harusnya belum terlalu padat," kata Tanti optimis.
Dan benar saja. Kafe itu sudah cukup ramai, tapi belum sampai