Setelah itu, Dede melangkah ke arah Eyang Nino. Dengan sikap hormat, ia menunduk dan menyalami tangan renta itu.
"Assalamualaikum, eyang."
"Waalaikumsalam," jawab Eyang Nino sambil tersenyum lebar.
Tatapan Eyang Nino menyapu wajah Dede dari ujung rambut hingga ujung sepatu, lalu berhenti dengan senyum yang makin melebar.
"Nggak bisa nih jadi mantu Mas Kana aja?" katanya santai. "Jagoannya ada dua, tinggal pilih satu, De."
Kalimat itu langsung disambut tawa ringan di ruang keluarga. Papa Kana terkekeh sambil menggeleng, Yangti Sarah menepuk pelan lengan Eyang Nino seolah menegur, sementara Papa Sapta tersenyum kikuk, tak tahu harus menanggapi bagaimana.
Namun Dede lebih canggung lagi sepersekian detik.
Senyumnya masih terjaga, tapi pipinya memerah, jelas sekali terlihat. Ia menunduk,