Papa Sapta mengangguk.
"Aamiin. Doamu itu langsung sampai."
"Ya memang itu yang aku harap."
Di lantai atas, Dede masih berbaring membelakangi pintu, menahan sesak yang belum juga hilang. Sementara di lantai bawah, orang tuanya mengakhiri makan malam dengan keyakinan bahwa keputusan pahit itu, cepat atau lambat, adalah jalan yang mereka anggap paling benar.
---
Dede akhirnya membuka pintunya setelah mendengar ketukan dari Kak Tiar yang sudah ketiga kalinya naik ke atas. Sudah jam delapan malam dan Dede baru saja mandi. Jadi, dari sore tadi hingga malam ini Dede tidak melakukan apa-apa kecuali menangis, setelah itu baru mandi. Rambutnya dililiti handuk tanda ia baru keramas, matanya terlihat sembab, dan hidungnya merah.
"Makan dulu, jangan sampai sakit pula," kata Kak Tiar sambil memba