Arsya hanya nyengir datar. Ia tidak membantah, tapi juga tidak mengiyakan. Dadanya terasa agak sesak, meski ia sendiri tidak mau mengakuinya.
"Kalau Dede sudah punya pacar, gangguin aja, Mas," sambung Dhevi polos. "Teror aja, telepon terus sampai dia putus sama pacarnya. Kan masih ada waktu, masih sepuluh hari lagi mereka berangkat."
"Nah, betul tuh kata Adek," sahut Nini. "Video call terus aja dia, biar pacarnya cemburu, terus putus."
"Nggak ah," jawab Arsya cepat. "Ngapain?"
"Kok nanya ngapain?" Nini mendengus. "Nanti nyesel lho."
"Nggak nyesel," balas Arsya, meski suaranya tidak seyakinnya itu.
Popa mendekatkan wajah ke layar ponsel Dhevi. Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
"Dulu Om Azki itu nggak mau ngaku kalau dia mau sama Tante Dea. Sampai akhirnya Tante Dea punya pa