Iren menyeringai tipis. "Kalo gitu lo harus buktiin kalo Dede itu emang biang keroknya."
Sandra tidak langsung menjawab. Ada amarah, ada kecewa, ada juga rasa ingin diakui. Semua bercampur jadi satu.
"Gue cuma nggak mau dia bahagia setelah ninggalin gue gara - gara sahabat sialannya itu," ucap Sandra pelan, tapi penuh penekanan.
Febi dan Iren saling pandang, lalu tersenyum samar.
"Lo teror aja cewek itu," kata Iren. "Biar dia tahu lo beda sama mantan - mantannya Arsya yang lain."
Sandra menarik napas dalam - dalam lalu mengangguk. Di dalam hatinya, satu hal semakin menguat, baginya, Dede bukan lagi sekadar sahabat Arsya. Dede sudah berubah menjadi simbol dari semua rasa kehilangan yang belum bisa ia terima.
---
Sudah satu minggu sejak putusnya Arsya dan Sandra, semua tampak berjalan