"Kenyang, lah," jawab Dede. "Kenapa rupanya? Kau nggak kenyang?"
"Aku kenyang," sahut Tanti. "Tapi kan tadi kau bilang kau lapar, makanya nggak ngomong. Sekarang sudah kenyang kok masih diam juga."
Dede terdiam sesaat. Ia baru sadar dirinya terjebak oleh alasan yang ia buat sendiri.
"Katanya kau ngantuk," balasnya akhirnya, berusaha mengalihkan.
"Sekarang nggak ngantuk lagi," jawab Tanti cepat. "Kau kenapa sih, De?"
Nada suaranya lembut, tidak memaksa, tapi jelas ingin tahu.
Dede memandang dinding kamar. Putih, bersih. Terlalu tenang untuk pikirannya yang tidak berhenti bergerak. Ia ingin bilang bahwa ada sesuatu yang mengganjal, soal Arsya, tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana merangkainya jadi kalimat yang masuk akal. Pasti Tanti juga sudah bosan mendengarnya.
Ia teringat voice no