Arsya selalu menganggap semua itu biasa.
Sahabat.
Itu saja.
Dan kalimat Lia barusan seolah menegaskan sesuatu yang sebenarnya sudah ia tahu sejak lama, tapi tidak pernah ia ucapkan bahkan dalam hatinya sendiri.
Bahwa ia memang tidak pernah diinginkan Arsya.
Bukan karena kurang atau karena kalah cantik sama pacar - pacar Arsya. Tapi karena memang sejak awal tidak pernah ada pilihan itu, mereka hanya bersahabat.
Perasaan itu tidak menyakitkan atau membuatnya terkejut. Justru terasa seperti konfirmasi sunyi atas sesuatu yang sudah lama ia simpan rapi.
Di belakangnya, Tanti memperhatikan punggung Dede yang kaku. Ia tidak bertanya lagi atau meneruskan VN Lia.
Tanti hanya menarik selimutnya sendiri, lalu berbaring menghadap langit-langit.
Malam itu, dua orang di satu kamar memikirkan ha