Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran tanpa banyak bicara. Arsya sesekali melirik Dede, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi urung.
"Habis makan kenyang, kok ngantuk ya, De" tanya Arsya.
"Bukannya itu memang penyakitnya?" jawab Dede santai.
"Itulah ... Apa beli kopi dulu kita?"
"Nggak usah, masih ada stok kemarin di rumahku ."
"Oh ya udah, jadi abis ini langsung ke rumahmu aja, kan?"
"Iya."
Arsya mengangguk. Dalam hatinya, ia merasa lebih tenang kalau berurusan dengan Dede. Tidak ada tuntutan, drama, apalagi perasaan harus selalu menjelaskan diri. Semua terasa sederhana dan apa adanya. Makanya dia tidak suka kalau ada orang yang mempertanyakan hubungan persahabatannya dengan Dede. Sudah dipastikan harus minggir.
Mobil yang dikendarai Arsya sudah melaju menuju rumah Dede. S