Sebulan setelah Haryo ditangkap, Maharani pergi ke makam Fajar sendirian. Ia membawa bunga mawar putih dan secangkir kopi.
"Aku sudah selesai, Sayang," katanya sambil menyentuh nisan. "Kusumo di penjara. Sang Penumbang hancur. Elang ditangkap."
Angin bertiup lembut.
"Tapi aku tahu, masih ada yang lain. Selalu ada. Bisnis kematian tidak akan pernah benar-benar mati. Seperti duri yang tertinggal di kulit."
Ia duduk di bangku. "Aku lelah, Fajar. Aku ingin berhenti. Tapi setiap kali aku berpikir untuk berhenti, ada perempuan baru yang datang dengan cerita sama seperti dulu."
Seorang perempuan muda berdiri di gerbang makam. Maharani melihatnya. Perempuan itu ragu-ragu.
"Ibu Maharani?" panggilnya.
"Ya."
"Saya Nadia. Suami saya meninggal. Polisi bilang kecelakaan. Tapi saya tahu dia dibunuh."
Maharani menatapnya. Wajah Nadia pucat, mata merah, tapi penuh tekad. Maharani melihat dirinya dua puluh tahun lalu.
"Duduk," kata Maharani. "Ceritakan."
Nadia duduk. Ia mulai bercerita. Maharani mendengarkan. Di samping nisan Fajar, sebuah warisan baru mulai tumbuh.
Maharani duduk di bangku makam lebih lama dari biasanya. Ia menceritakan semua yang terjadi: Kusumo, Sang Penumbang, Elang, Vancouver.
"Sepertinya ini tidak akan pernah selesai, Sayang. Tapi aku belum menyerah. Aku hanya... lelah."
Saat itu, Nadia muncul di gerbang. Maharani melihatnya. Sesuatu dalam diri perempuan muda itu mengingatkannya pada dirinya sendiri.
"Maaf mengganggu, Ibu. Saya... saya tidak tahu harus ke mana lagi."
"Duduklah," kata Maharani. "Di sini, tidak ada yang mengganggu. Hanya angin dan kenangan."
Nadia duduk. Tangannya gemetar saat membuka foto suaminya. "Dia sopir taksi online. Sehat. Tidak pernah sakit. Tiba-tiba meninggal di jalan. Polisi bilang serangan jantung. Tapi dia tidak punya riwayat jantung."
Maharani menatap foto itu. "Kita akan selidiki. Perlahan tapi pasti.