Vino menghabiskan dua hari mempelajari Whisper. Aplikasi itu menggunakan server di tiga negara berbeda, semuanya di luar yurisdiksi Indonesia.
"Aku bisa tembus enkripsinya," kata Vino. "Tapi butuh waktu. Mungkin berminggu-minggu."
"Kita tidak punya waktu," kata Maharani. "Dia sudah kirim surat dua minggu. Sekarang dia mencoba masuk ke kantor."
"Maka kita cari jejak lain," kata Dani.
Maharani mengambil semua surat dari lemari. Lima lembar kertas putih, semua dicetak dengan printer laser. Tidak ada tangan. Tidak ada sidik jari.
Yuli memeriksa kertas dengan kaca pembesar. "Ada watermark kecil di sudut. Merek tertentu."
"Bisa lacak?"
"Bisa. Produsen kertas ini terbatas. Dijual di beberapa toko besar saja."
Vino membandingkan dengan data pembelian online. "Ada satu pembelian besar di Malang tiga bulan lalu. Pembeli membayar tunai, tapi alamat pengiriman sebuah ruko kosong."
"Malang," kata Maharani. "Jauh dari Jakarta."
"Tepatnya karena jauh," kata Elena. "Dia tidak ingin ditemukan."
Maharani mengambil jaketnya. "Kita ke Malang besok."
Dani menghela napas. "Aku tahu kau akan bilang begitu."
Vino membuka peta digital di layar besar. "Whisper menggunakan onion routing. Setiap pesan melewati setidaknya lima node di tiga benua."
"Jadi pengirim hampir mustahil dilacak?" tanya Elena.
"Hampir. Tapi setiap orang punya kelemahan. Kalau digital tak bisa, kita lacak jejak fisik."
Maharani mengambil kaca pembesar dan meneliti kertas lagi. Di bawah cahaya, watermark muncul samar. "Ini kertas premium. Tidak semua toko jual."
"Beberapa pencetakan besar saja," kata Yuli. "Kita bisa periksa satu per satu."
Maharani mengangguk. "Besok kita mulai dari Jakarta. Lalu Bandung. Lalu Surabaya. Sampai kita temukan siapa yang mencetak. Maharani merapikan surat-surat itu di dalam tas. "Setiap jejak adalah jalan. Kita tinggal mengikutinya."