Tantri Wulandari tidak lagi bekerja di perusahaan asuransi mana pun. Dani menemukan jejaknya lewat data yang seharusnya tidak ia akses: seorang mantan penyidik klaim senior yang dua tahun lalu mengundurkan diri mendadak, menjual rumahnya di kompleks yang cukup mewah, dan pindah ke sebuah apartemen sewa kecil di Bekasi — ironisnya tak jauh dari makam yang baru saja Maharani kunjungi. Orang yang dulu menandatangani laporan yang menjeblokannya ke penjara kini hidup seperti orang yang sedang bersembunyi.
Maharani mengamatinya seperti ia mengamati Reza, tapi yang ia lihat berbeda. Reza punya rutinitas orang yang merasa aman. Tantri punya rutinitas orang yang tidak. Ia keluar apartemen hanya untuk hal yang perlu, selalu pada jam yang berbeda-beda — pola yang justru menunjukkan ia sedang menghindari pola. Ia memilih jalur yang berputar. Ia berhenti di kaca toko bukan untuk melihat barang, tapi untuk melihat pantulan di belakangnya. Itu kebiasaan orang yang merasa diikuti. Maharani mengenalinya karena ia sendiri sekarang melakukannya.
Di sini, kebencian yang ia bawa selama enam tahun mulai retak di tepinya, dan ia tidak suka itu.
Ia sudah merancang Tantri dalam bayangannya sebagai monster dingin — perempuan yang menatap berkas kebakaran, tahu Maharani tak bersalah, lalu menandatangani laporan yang membakarnya juga, demi entah apa. Dalam imajinasi penjaranya, Tantri tertawa di balik meja mahal. Tapi yang ia lihat di Bekasi bukan monster. Yang ia lihat adalah perempuan paruh baya yang kurus, yang tangannya gemetar saat membayar di kasir minimarket, yang menoleh dua kali sebelum membuka pintu apartemennya. Yang takut.
Lalu, satu hal yang menyatukan semua kepingan: tabel mortalita di gerbang lapas. Tangan yang melingkari baris merah itu gemetar. Kertas dari format lama yang hanya dimiliki orang yang pernah memegang arsip klaim. Seseorang yang tahu jadwal pembebasan Maharani — yang bisa diakses oleh seseorang dengan koneksi ke sistem. Dan seseorang yang ingin memperingatkan, bukan mengancam. Maharani sudah menduga pengirimnya orang dalam yang membelot. Sekarang ia menatap perempuan gemetar di seberang jalan dan tahu, dengan keyakinan dingin seorang aktuaris yang melihat semua variabel akhirnya cocok: Tantri yang mengirim amplop itu.
Ia mendekatinya tidak dengan ancaman, tapi dengan kalimat yang ia ucapkan di lorong apartemen, pelan, agar tak ada yang lain mendengar: "Tabel mortalitanya sampai, Bu Tantri. Baris tiga puluh empat. Terima kasih."
Tantri membeku. Wajahnya, yang Maharani harapkan menunjukkan rasa bersalah, justru menunjukkan teror murni. Bukan teror tertangkap. Teror seseorang yang baru saja melihat orang yang ia kira sudah ia selamatkan datang langsung ke ambang pintunya, membawa bahaya yang ia coba jauhkan. "Kamu tidak boleh ke sini," bisiknya, cepat, sambil menarik Maharani masuk dan menutup pintu. "Mereka lihat siapa yang datang ke tempatku. Kamu tidak mengerti."
Di dalam apartemen yang penuh kardus belum dibongkar — barang-barang orang yang siap kabur kapan saja — Tantri bicara dengan suara yang patah-patah. Dan apa yang Maharani dengar mengguncang seluruh peta dendamnya.
"Kamu pikir aku menandatangani laporan itu karena uang? Karena aku jahat?" Tantri tertawa, getir, hampir histeris ditahan. "Aku menemukan hal yang sama denganmu, Maharani. Pola klaim itu. Aku penyidik klaim senior; tugasku justru curiga. Aku menulis laporan yang benar dulu — laporan yang bilang kebakaran rumahmu mencurigakan dan polis suamimu janggal. Lalu laporanku diambil. Diganti. Yang muncul di persidangan bukan tulisanku, tapi tanda tanganku dipakai. Sama seperti tanda tanganmu dipakai di polis itu. Kita berdua tanda tangan di atas hal yang tidak kita tulis."
Maharani berdiri diam. Garis baik dan jahat yang selama enam tahun ia gambar tegas di kepalanya mulai luntur, dan ia membenci betapa cepatnya luntur. "Kalau begitu kenapa kamu tidak bersaksi? Kenapa kamu diam selama enam tahun dan membiarkan aku—"
"Karena aku punya anak," potong Tantri, dan suaranya pecah di kata terakhir. "Mereka datang ke rumahku waktu itu. Tidak mengancam dengan kata-kata. Mereka cuma... menunjukkan padaku foto anakku berangkat sekolah. Diam-diam. Dari jarak dekat. Itu saja. Aku mengerti pesannya. Aku diam. Aku menjual rumahku, aku menyekolahkan anakku jauh, aku pindah-pindah. Dan aku menunggu kamu keluar, karena cuma kamu yang akan percaya, cuma kamu yang bisa baca pola itu seperti aku. Amplop itu... aku tidak berani lebih dari itu. Maaf."
Maharani duduk di salah satu kardus. Dunia yang ia susun rapi — lima penjahat, satu korban, satu balas dendam bersih — runtuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kotor dan lebih membumi. Tantri bukan otak. Tantri adalah versi dirinya yang menyerah karena punya anak untuk dilindungi. Maharani tidak punya siapa-siapa untuk dilindungi, dan ironisnya itulah yang membuatnya bisa melawan. Mereka berdua perempuan yang tanda tangannya dicuri oleh tangan yang sama. Satu memilih melawan dan kehilangan segalanya; satu memilih diam dan kehilangan ketenangannya.
"Siapa yang datang menunjukkan foto anakmu?" tanya Maharani akhirnya. "Siapa yang menyuruh?"
Tantri menggeleng, ketakutan kembali. "Aku tidak tahu nama aslinya. Tapi ada satu orang yang selalu muncul tiap kali mesin itu butuh laporan ditandatangani, tiap kali ada klaim besar yang harus dimuluskan. Bukan dari perusahaan kita. Dari luar. Orang yang semua orang patuhi tapi tidak ada yang sebut namanya."
Maharani mengeluarkan buku hitamnya dan membuka halaman terakhir, tempat ia menulis nama yang disebut Reza sebelum jatuh. Ia menunjukkannya pada Tantri tanpa berkata apa-apa.
Tantri menatap nama itu. Wajahnya memutih. Tangannya yang gemetar naik menutupi mulut. Dan dari reaksi itu saja — bukan dari pengakuan, karena Tantri terlalu takut untuk mengucapkannya keras-keras — Maharani mendapat konfirmasi yang ia cari. Nama keenam itu nyata. Nama keenam itu pernah berdiri di apartemen ini, menunjukkan foto seorang anak, dan pergi tanpa pernah menyentuh apa pun yang bisa menjeratnya.
"Mereka masih mengawasimu," kata Maharani pelan. Bukan pertanyaan.
Tantri mengangguk, air mata akhirnya tumpah. "Begitu kamu keluar, mereka makin sering lewat. Aku rasa... aku rasa aku sudah tidak berguna buat mereka lagi. Orang yang sudah tidak berguna buat mesin itu, Maharani, kamu tahu apa yang terjadi."
Maharani tahu. Ia tahu persis. Orang yang sudah tidak berguna jadi liabilitas, dan liabilitas, dalam dunia yang menghitung nyawa sebagai angka, dihapuskan dari neraca dengan cara yang terlihat seperti nasib. Untuk pertama kalinya, dendamnya berbenturan dengan sesuatu yang lebih mendesak: di seberangnya duduk seorang perempuan yang dulu ikut menghancurkannya, yang kini mungkin sedang dihitung untuk mati. Dan satu-satunya orang di dunia yang bisa menyelamatkannya adalah orang yang paling punya alasan untuk membiarkannya jatuh.