Helikopter mendarat di pantai berpasir putih. Di depan mereka, hutan lebat dan bukit rendah. Tidak ada tanda peradaban, kecuali sebuah vila besar di puncak bukit.
"Itu," kata Maharani. "Tempat keluarga Soedibyo berkumpul setiap Lebaran."
Tim operasi turun. Lima agen Interpol, tiga anggota Brimob, Dani, dan Maharani.
"Kau tetap di belakang," kata komandan.
"Tidak. Ini urusan saya."
"Ini operasi kami."
"Dan dia adalah keluarga saya. Saya tahu cara berpikirnya."
Komandan menghela napas. "Di tengah. Jangan depan."
Mereka bergerak naik. Hutan lebat, suara burung dan serangga. Udara panas dan lembab.
Di tengah jalan, mereka menemukan pagar besi dengan kamera. Vino, yang ikut dengan peralatan elektronik, mematikan kamera dari jarak jauh.
"Aman."
Mereka terus naik. Vila muncul di depan. Dua penjaga di gerbang. Agen menurunkan mereka tanpa suara.
Di dalam vila, sunyi. Terlalu sunyi.
"Jebakan?" tanya Dani.
"Mungkin." Maharani mengeluarkan pistol. "Hati-hati."
Mereka memeriksa ruangan satu per satu. Ruang tamu kosong. Dapur kosong. Perpustakaan kosong.
Di ruang bawah tanah, mereka menemukan sesuatu. Bukan Raden Soedibyo. Tapi seorang wanita tua terikat di kursi.
"Nenek?" Maharani terkejut. Nenek Fajar. Wanita yang dulu memeluknya saat Fajar meninggal.
"Maharani..." Nenek itu lemah. "Dia sudah tidak waras. Raden. Dia membunuh semua orang yang melawannya."
"Di mana dia?"
"Di bengkel. Di belakang vila. Dia sedang menyiapkan kapal untuk pergi."
Maharani melepaskan nenek. "Dani, jaga nenek. Aku ke bengkel."
"Rani —"
"Ini urusanku."