Hakim Agung Darmawan tinggal di rumah bergaya klasik di kawasan elite. Pagar tinggi, penjaga berjaga, dan reputasi yang tak ternoda.
Maharani tahu tidak bisa menangkapnya hanya dengan rekaman suara. Ia butuh pengakuan langsung.
"Kita buat dia percaya Consortium akan menyerahkannya," kata Maharani. "Kita kirim surat anonim dari 'Pemilik' yang mengatakan Darmawan akan menjadi kambing hitam."
Surat itu berhasil. Darmawan panik. Ia menghubungi Adrian Kwee dari penjara, memohon bantuan. Adrian, yang sudah bekerja sama, merekam percakapan.
"Kau tenang saja," kata Adrian di telepon. "Pemilik sudah atur semuanya."
"Pemilik tidak pernah menunjukkan wajahnya!" teriak Darmawan. "Dia bisa saja menjualku!"
"Dia tidak akan. Kita sudah bersama dua puluh tahun."
"Dua puluh tahun berarti dia bosan."
Percakapan itu cukup untuk surat perintah penangkapan. Darmawan ditangkap saat sedang makan malam bersama keluarga.
"Ini penghinaan!" teriaknya. "Saya Hakim Agung!"
"Dulu," kata Maharani. "Sekarang Anda penjahat."
Darmawan ditahan. Semua dewan kecuali Pemilik sudah jatuh.
"Sekarang," kata Elena. "Pemilik."
Maharani menatap peta dunia. "Dia di kapal. Kapal yang tidak pernah berlabuh di tempat yang sama."
"Bagaimana kita temukan?"
"Kita tunggu. Pemilik yang akan datang. Karena sekarang, dia tidak punya siapa-siapa lagi."