Dengan Sang Hakim tertangkap, Consortium goyah. Tapi lima dewan lain masih bebas. Maharani dan Elena menyusun daftar: Pelindung, Pengumpul, Ahli, Manajer, Pemilik.
"Kita tidak bisa kejar semua sekaligus," kata Elena. "Kita pukul satu per satu."
"Mulai dari yang paling lemah," kata Maharani. "Ahli. Dr. Bayu di forensik. Dia yang memastikan otopsi target selalu dinyatakan wajar."
"Kau punya bukti?"
"Hendro bisa mengenalinya. Hendro pernah bekerja dengannya."
Hendro, yang kini dalam program perlindungan, mengidentifikasi Dr. Bayu sebagai orang yang mengajarinya cara memalsukan laporan kematian. "Dia dokter forensik senior. Tidak pernah terlihat kotor. Tapi tangannya paling berdarah."
Elena mengeluarkan surat perintah. "Kita tangkap besok."
Penangkapan Dr. Bayu dilakukan saat ia sedang berpidato di seminar kedokteran. Wajahnya terkejut, lalu marah. "Ini kesalahan besar. Aku punya pengacara."
"Kau juga punya banyak korban," kata Maharani. "Mereka akan bersaksi."
Dr. Bayu ditahan. Dengan dua dewan jatuh, Consortium mulai panik. Pesan-pesan terenkripsi beredar. Rapat darurat dijadwalkan.
Vino berhasil menyadap satu pesan: "Pertemuan dewan. Lokasi: kapal pribadi, Jakarta Bay, Sabtu malam."
"Itu kapal Pemilik," kata Maharani.
"Terlalu berbahaya," kata Elena. "Kapal itu berlabuh di perairan internasional. Kami butuh izin."
"Sementara kita tunggu izin, kapal itu akan pergi."
"Maka kita harus cepat."
Maharani menatap peta. "Ada cara masuk tanpa izin."