Panji Wicaksono adalah pria berjas yang selalu tersenyum. Senyumnya tidak pernah mencapai matanya. Ia bekerja dari kantor mewah di SCBD, menangani klien-klien berkuasa.
Maharani dan Elena memasang pengawasan. Microphone di mobil. Kamera di kantor. Agen diam-diam mengikutinya.
Selama dua minggu, Panji tampak bersih. Ia hanya bertemu klien, makan siang, pergi ke gereja.
"Dia hati-hati," kata Elena.
"Semua orang akan melakukan kesalahan kalau ditekan cukup lama." Maharani memutuskan untuk memancing Panji.
Ia mengirim surat anonim ke Panji. "Saya tahu Anda menghubungkan Consortium dengan Hakim Hasan. Minggu depan, saya akan publikasikan bukti. Kecuali Anda ingin berbicara."
Panji tidak membalas. Tapi Elena melihatnya mulai gugup. Ia menelepon seseorang dengan ponsel sekunder. Vino berhasil menyadap.
"Saya butuh bertemu Sang Hakim," kata Panji di telepon. "Masalahnya serius."
"Waktu dan tempat?"
"Jumat malam, pukul sepuluh. Gereja tua di Kota Tua."
Maharani dan Elena saling pandang. "Kita dapat jadwal," kata Maharani. "Sekarang kita butuh bukti visual."
Jumat malam, gereja tua sepi. Panji masuk melalui pintu samping. Di dalam, seorang pria berjubah hitam menunggu di bangku belakang. Wajahnya tersembunyi di balik bayangan.
Dari jendela, Elena mengambil foto dengan kamera malam. Maharani mengintip dari celah pintu.
Pria berjubah itu berbicara: "Kau panik tanpa alasan, Panji. Maharani tidak punya bukti langsung."
"Dia punya buku besar Bima. Dia punya Interpol."
"Bima adalah pengorbanan. Kita sudah siapkan."
"Dan saya?"
"Kau akan baik-baik saja. Asal kau diam."
Panji keluar dengan wajah pucat. Maharani tidak melihat wajah Sang Hakim. Tapi ia mendengar suaranya. Suara yang familiar.
"Aku pernah mendengar suara itu," kata Maharani di mobil.
"Di mana?" tanya Elena.
"Aku belum ingat. Tapi suaranya ada di memori saya."