Dirga berdiri di podium Ballroom Hotel Nusantara, meluncurkan Polis Cinta Keluarga. Maharani menatap dari televisi warung kopi. Senyum Dirga tampak ramah, seperti tetangga baik.
"Dia menjual kematian dengan nama cinta," kata Dani.
"Itu sebabnya laku." Maharani mematikan TV. "Kita buka topengnya."
Mereka tahu rutinitas Dirga. Selasa malam golf. Kamis pagi rumah sakit. Jumat malam restoran Jepang sendirian.
"Dirga punya kelemahan," kata Maharani. "Dia percaya uang bisa membeli kesetiaan. Kita buat seseorang dekatnya menjual dia."
Target: Mbak Santi, asisten pribadi Dirga dua belas tahun. Maharani mendekatinya lewat anaknya, mahasiswa hukum yang kesulitan biaya.
Pertemuan di taman kota. Mbak Santi waspada.
"Saya tidak punya utang apa-apa."
"Tapi Anda punya anak." Maharani meletakkan amplop. "Ini beasiswa. Bukan untuk Anda."
"Apa yang kau mau?"
"Saya mau tahu apa di liontin emas Pak Dirga."
Mbak Santi terkejut. "Itu liontin biasa."
"Liontin yang tidak pernah ia lepas, bahkan saat mandi."
Mbak Santi diam, lalu pergi. Tapi ia meninggalkan kertas: "Liontin kunci brankas. Ruang bawah tanah kantor pusat. Kode hanya Dirga tahu. Tapi setiap malam Minggu, ia ke vila Puncak sendirian."
"Tiga hari," kata Dani.
"Tiga hari untuk merencanakan pembongkaran."