Maharani menyebarkan kertas-kertas kecil di lantai kamar barunya. Di tengah, nama Fajar. Di sekelilingnya, lima nama: Tantri dan Saptono sudah dicoret. Tiga masih berdiri: Arif, Hendro, Dirga.
Dani membolak-balik buku catatan. "Tiga tersisa."
"Dirga yang punya daftar klien," kata Maharani. "Dia yang menjual kematian seperti polis."
"Dia tidak pernah turun tangan."
"Maka kita buat dia turun." Maharani menggambar garis penghubung. Arif ke Hendro, Hendro ke Dirga, Dirga ke rumah sakit, ke apotek, ke Tantri. Semua berputar di asuransi jiwa Nusantara Abadi.
"Ini perusahaan, Dani. Mereka menjual kematian. Bayar premi, pilih target, tunggu target mati dalam kecelakaan sempurna."
Malam itu Maharani tidak tidur. Ia menulis daftar pertanyaan per target. Pukul empat pagi, ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan: di atas Dirga, ada klien-klien yang tidak pernah dikenai hukum.
"Kita tidak bisa menangkap semuanya," kata Dani.
"Tidak perlu. Kita cukup menangkap yang paling berisiko melawan mereka. Sisanya akan saling memakan."
Maharani melipat kertas itu. "Mulai dari Arif. Notaris itu sudah tua, kaya, dan takut mati. Orang yang takut mati punya banyak rahasia."