Maharani mengetahuinya dari hal yang paling kecil: ukuran berkas.
Malam itu Dani mengirimkan hasil penarikan data premi dari server cangkang — katanya "semua yang relevan", tiga belas polis dalam empat tahun. Maharani membaca log transfer yang tanpa sadar ikut terlampir, dan mata aktuarisnya berhenti pada satu angka: total data yang ditarik dari server jauh lebih besar dari tiga belas berkas. Ada pengelompokan lain yang disalin dalam sesi yang sama, lalu tidak dilaporkan.
Dani menarik lebih banyak dari yang ia minta. Dan menyimpan sisanya untuk dirinya sendiri.
Ia tidak meledak. Meledak adalah kemewahan orang yang punya sekutu cadangan. Ia menghabiskan satu malam memetakan kemungkinan dengan cara yang ia kuasai: kalau Dani menjualnya ke mesin, ia sudah mati atau ditangkap sejak lama — jadi bukan itu. Kalau Dani memerasnya, tuntutan sudah datang — belum ada. Sisa kemungkinan ketiga, yang paling sederhana dan paling tidak ia sukai: Dani punya proyek sendiri di dalam proyeknya.
Maka ia mengatur pertemuan di warung kopi dekat pangkalan ojek, tempat biasa mereka, dan meletakkan log transfer itu di atas meja tanpa kata pembuka.
Dani membaca satu baris, dan seluruh pertahanannya runtuh sebelum sempat dibangun. Itu satu hal yang Maharani selalu catat tentang lelaki ini: ia pembohong yang buruk untuk orang yang bekerja di bidang data.
"Berapa lama?" tanya Maharani. Suaranya datar, dan ia tahu dari pengalaman lapas bahwa datar lebih menakutkan daripada keras.
"Sejak awal," kata Dani akhirnya. "Sejak pertama kali kau datang menawariku kerja sama." Ia memutar gelas kopi yang tidak diminumnya. "Aku memang membantumu, Rani. Semua yang kuminta, semua yang kuberikan, itu betul. Tapi setiap kali aku masuk ke server mereka, aku juga menarik yang kucari sendiri."
"Apa yang kau cari?"
Dani diam lama sekali. Di luar, ojek-ojek berlalu, dan warung itu dipenuhi suara orang-orang yang hidupnya tidak menuntut mereka menyimpan rahasia. Lalu lelaki itu membuka ponselnya, menggulir galeri, dan menyorongkan satu foto: seorang perempuan muda, awal dua puluhan, senyum yang tidak merata di satu sisi, berdiri di depan warung kelontong.
"Ratri," kata Dani. "Adikku. Sembilan tahun lalu."
Maharani menunggu.
"Dia kerja di pabrik kemasan di Bekasi. Sehat, kuat, tidak pernah sakit apa pun. Terus suatu malam, kebakaran di mess karyawan. Sebelas orang masuk, sepuluh keluar." Suara Dani tetap rata, dan kerataannya lebih buruk daripada tangis. "Beritanya dua paragraf. Polisi bilang korsleting. Perusahaan bilang musibah. Dan empat puluh hari kemudian — waktu itu aku masih di IT klaim, Rani, aku yang lihat berkasnya dengan mataku sendiri — ada klaim cair atas polis jiwa senilai sepuluh miliar atas nama adikku. Polis yang dia tidak pernah tahu. Premi dibayar perusahaan konsultan di BSD."
Ruangan ber-AC yang sama. Cangkang yang sama. Maharani merasakan dingin merambat di lengannya. "Itu sebabnya kau dipecat."
"Aku mulai menarik data yang bukan urusanku. Mereka bilang aku melanggar kebijakan keamanan. Aku tidak pernah bisa membuktikan apa-apa — satu berkas, Rani, satu berkas tidak pernah cukup. Butuh pola. Dan aku tidak tahu cara membaca pola." Ia menatap Maharani, dan untuk pertama kali sejak mereka bekerja sama, mata lelaki itu tidak defensif, tidak menghitung bayaran. "Terus kau datang. Perempuan yang dijebloskan ke penjara oleh mesin yang sama, yang membaca polis seperti orang membaca doa. Kau pikir aku menerima tawaranmu karena uang?"
"Sebagian," kata Maharani jujur.
"Sebagian," Dani mengakui. "Aku tetap harus makan. Tapi sisanya... aku sudah sembilan tahun menunggu ada orang yang bisa membaca tabel itu sepertimu."
Maharani menyimpan kembali log transfer itu. Di kepalanya, kalkulasi berjalan dingin, karena ia tidak bisa mematikannya: Dani berbohong sejak hari pertama. Motifnya tulus — dan justru itu yang berbahaya, karena motif tulus membuat orang mengambil risiko di luar rencana, bertindak sendiri, menyimpan kartu yang tidak ia lihat. Sekutu dengan agenda tersembunyi adalah variabel yang tidak bisa ia masukkan ke model mana pun.
Tapi di kolom lain perhitungannya: tidak ada kebohongan Dani yang merugikannya. Agenda mereka tidak bertabrakan; agenda mereka berbaris ke arah yang sama, menuju mesin yang sama, menuntut jawaban untuk dua kematian dari meja yang sama. Retak, tapi searah.
"Mulai malam ini," kata Maharani akhirnya, "kau berhenti menyembunyikan apa pun yang kau tarik. Semua berkas lewat aku dulu. Bukan karena aku tidak percaya — memang aku tidak percaya — tapi karena pola hanya bisa dibaca kalau semua datanya ada di satu meja. Adikmu masuk tabelku, Dani. Dia akan kubaca bersama yang lain."
"Dan kalau aku menolak?"
"Maka kau kembali menjadi orang yang sembilan tahun gagal sendirian." Ia menatap lelaki itu lurus. "Aku tidak minta kesetiaanmu. Kesetiaan itu mahal dan tidak bisa dihitung. Aku cuma minta kau jujur soal data. Sisanya, kita sama-sama tahu kita saling memakai."
Dani tertawa pendek, getir, dan mengulurkan tangan di atas meja warung kopi. "Saling memakai yang jujur, kalau begitu."
Maharani menyalaminya, sambil tahu persis apa yang baru saja ia putuskan: ia akan tetap memakai Dani — dan mulai malam ini, ia juga akan mengawasinya. Di lapas ia belajar satu pelajaran yang tidak pernah tertulis di buku aktuaria mana pun: setiap sekutu membawa pisau sendiri, dan pertanyaannya bukan apakah pisau itu ada, melainkan untuk siapa pisau itu diasah.
Malam itu tabelnya bertambah satu nama lagi, bukan di kolom musuh, bukan juga di kolom kawan. RATRI, 22, Bekasi, sembilan tahun lalu. Kolom penyamaran: kebakaran mess. Dan di margin, dengan huruf kecil, ia menulis untuk dirinya sendiri: awasi pemilik nama ini — dan awasi kakaknya.